alexametrics
32.5 C
Jember
Friday, 22 October 2021

Membangun Budaya Literasi Melalui Sastra Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

Sampai saat ini Indonesia masih menempati peringkat bawah dalam kemampuan literasi. Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2019.

Data di atas menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia sedang berada pada titik mengkhawatirkan dan harus segera dicarikan solusi. Kita tahu bahwa membangun budaya literasi tidaklah mudah karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk membaca dan tidak terlatih untuk menulis. Membaca dan menulis belum menjadi budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Seiring semakin berkembangnya  teknologi dan informasi saat ini, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menonton  youtube dan televisi untuk memperoleh informasi daripada membaca buku. Hanya dengan mendengarkan dan menonton Youtube atau situs lainnya masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan.  Padahal, kebiasaan membaca dan kemampuan menulis merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk generasi yang tangguh dan dapat bersaing di era globalisasi seperti saat ini.

Membangun budaya literasi di Indonesia menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Kita perlu melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan budaya literasi terutama di kalangan peserta didik. Salah satu cara agar peserta didik tertarik dengan literasi adalah dengan memberikan bahan bacaan yang ringan, bahasanya mudah dipahami, dan ceritanya tidak jauh dari kehidupan peserta didik. Untuk meningkatkan budaya literasi, sastra anak menjadi salah satu pilihan karena dianggap sesuai dengan kebutuhan peserta didik

Mobile_AP_Rectangle 2

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Keluarga

Budaya membaca masyarakat Indonesia masih dinilai rendah disebabkan dalam kehidupan keluarga orang tua tidak menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah kebiasaan bagi orang tua maupun anak. Kebiasaan membaca orang tua tentu juga akan menjadi kebiasaan membaca bagi anak karena hakikatnya perilaku anak akan mencontoh pada perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, membangun budaya literasi ini dapat dimulai dari rumah, terutama dalam lingkungan keluarga, dan dalam usia dini.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis di lingkungan keluarga antara lain: dengan bercerita sebelum tidur,  membiasakan membuka buku, dan membaca dan menulis bersama

Bercerita sebelum tidur. Sebelum anak memiliki kebiasaan dan kegemaran membaca, anak harus dibiasakan mengenal buku. Untuk keperluan tersebut,  orang tua dapat membacakannya jika anak belum mampu membaca. Saat yang tepat adalah pada saat menjelang tidur. Orang tua dapat membacakan buku cerita bergambar. Selama dan sesudah bercerita  sekali waktu orang tua dapat menanyakan beberapa pertanyaan sederhana  mengenai karakter tokoh yang ada dalam cerita dan alur cerita. Meskipun sederhana, mungkin tidak banyak orang tua yang  membacakan cerita kepada anak sebelum tidur.

Membiasakan membuka buku. Pada dasarnya tidak terlalu sulit untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak.  Kebiasaan membaca ini bisa diawali dengan kebiasaan orang tua membuka buku.  Dengan adanya kebiasaan orang tua membuka buku anak cenderung untuk meniru. Pada saat anak membuka buku orang tua bisa bertanya terkait dengan keberadaan buku yang dibuka oleh anak.  Bila anak belum bisa membaca, orang tua bisa meminta anak untuk mencemati gambar yang ada di dalam buku dan bersama-sama menebak isi cerita berdasarkan gambar tersebut.

Membaca dan menulis bersama. Ketika anak sudah mampu membaca dan menulis, orang tua dapat meminta anak menuliskan judul buku yang telah dibaca dan menuliskan tokoh dan karakter yang ada dalam cerita tersebut. Kegiatan membaca dan menulis a tidak hanya dilakukan bersama orang tua, tetapi akan lebih menarik jika dilakukan dengan teman sebaya. Mereka bisa saling bercerita dan bertukar buku, bahkan mungkin mereka saling memberikan masukan terhadap tulisan masing-masing. Orang tua yang mengakrabkan anak dengan karya sastra sejak dini, niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki kegemaran dan kebiasaan membaca.

 

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Sekolah

 

Kondisi rendahnya literasi membaca membuat pemerintah menerbitkan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti.   Sebagai bentuk nyata penerapan Permendikbud tersebut adalah dengan digiatkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang lebih memfokuskan pada upaya menumbuhkan minat baca bagi siswa di sekolah.

Di dalam panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (2016) Pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.  Ketika siswa telah melakukan tahapan pembiasaan, maka yang perlu dikembangkan adalah daya baca siswa. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan dapat dilakukan dengan jalan membaca buku cerita selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring dan membaca dalam hati.

Pada tahap Pengembangan, pelaksanaan kegiatan literasi untuk jenjang Sekolah Dasar tingkat rendah dapat dilakukan dengan menyimak cerita untuk menumbuhkan empati, membaca gambar untuk memahami alur cerita, menjawab pertanyaan tentang tokoh  cerita dan kejadian   dalam cerita, bercerita melalui gambar, dan mengidentifikasi tokoh utama dan alur cerita sederhana.  Sedangkan untuk Sekolah Dasar tingkat tinggi dapat dilakukan dengan cara memahami cerita fantasi dan cerita rakyat dalam konteks budaya yang spesifik, menceritakan ulang isi cerita dengan bahasa sendiri, menuliskan tanggapan terhadap tokoh dan alur cerita, mengidentifikasi perbedaan dan persamaan karakter tokoh-tokoh cerita.

- Advertisement -

Sampai saat ini Indonesia masih menempati peringkat bawah dalam kemampuan literasi. Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2019.

Data di atas menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia sedang berada pada titik mengkhawatirkan dan harus segera dicarikan solusi. Kita tahu bahwa membangun budaya literasi tidaklah mudah karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk membaca dan tidak terlatih untuk menulis. Membaca dan menulis belum menjadi budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Seiring semakin berkembangnya  teknologi dan informasi saat ini, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menonton  youtube dan televisi untuk memperoleh informasi daripada membaca buku. Hanya dengan mendengarkan dan menonton Youtube atau situs lainnya masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan.  Padahal, kebiasaan membaca dan kemampuan menulis merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk generasi yang tangguh dan dapat bersaing di era globalisasi seperti saat ini.

Membangun budaya literasi di Indonesia menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Kita perlu melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan budaya literasi terutama di kalangan peserta didik. Salah satu cara agar peserta didik tertarik dengan literasi adalah dengan memberikan bahan bacaan yang ringan, bahasanya mudah dipahami, dan ceritanya tidak jauh dari kehidupan peserta didik. Untuk meningkatkan budaya literasi, sastra anak menjadi salah satu pilihan karena dianggap sesuai dengan kebutuhan peserta didik

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Keluarga

Budaya membaca masyarakat Indonesia masih dinilai rendah disebabkan dalam kehidupan keluarga orang tua tidak menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah kebiasaan bagi orang tua maupun anak. Kebiasaan membaca orang tua tentu juga akan menjadi kebiasaan membaca bagi anak karena hakikatnya perilaku anak akan mencontoh pada perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, membangun budaya literasi ini dapat dimulai dari rumah, terutama dalam lingkungan keluarga, dan dalam usia dini.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis di lingkungan keluarga antara lain: dengan bercerita sebelum tidur,  membiasakan membuka buku, dan membaca dan menulis bersama

Bercerita sebelum tidur. Sebelum anak memiliki kebiasaan dan kegemaran membaca, anak harus dibiasakan mengenal buku. Untuk keperluan tersebut,  orang tua dapat membacakannya jika anak belum mampu membaca. Saat yang tepat adalah pada saat menjelang tidur. Orang tua dapat membacakan buku cerita bergambar. Selama dan sesudah bercerita  sekali waktu orang tua dapat menanyakan beberapa pertanyaan sederhana  mengenai karakter tokoh yang ada dalam cerita dan alur cerita. Meskipun sederhana, mungkin tidak banyak orang tua yang  membacakan cerita kepada anak sebelum tidur.

Membiasakan membuka buku. Pada dasarnya tidak terlalu sulit untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak.  Kebiasaan membaca ini bisa diawali dengan kebiasaan orang tua membuka buku.  Dengan adanya kebiasaan orang tua membuka buku anak cenderung untuk meniru. Pada saat anak membuka buku orang tua bisa bertanya terkait dengan keberadaan buku yang dibuka oleh anak.  Bila anak belum bisa membaca, orang tua bisa meminta anak untuk mencemati gambar yang ada di dalam buku dan bersama-sama menebak isi cerita berdasarkan gambar tersebut.

Membaca dan menulis bersama. Ketika anak sudah mampu membaca dan menulis, orang tua dapat meminta anak menuliskan judul buku yang telah dibaca dan menuliskan tokoh dan karakter yang ada dalam cerita tersebut. Kegiatan membaca dan menulis a tidak hanya dilakukan bersama orang tua, tetapi akan lebih menarik jika dilakukan dengan teman sebaya. Mereka bisa saling bercerita dan bertukar buku, bahkan mungkin mereka saling memberikan masukan terhadap tulisan masing-masing. Orang tua yang mengakrabkan anak dengan karya sastra sejak dini, niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki kegemaran dan kebiasaan membaca.

 

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Sekolah

 

Kondisi rendahnya literasi membaca membuat pemerintah menerbitkan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti.   Sebagai bentuk nyata penerapan Permendikbud tersebut adalah dengan digiatkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang lebih memfokuskan pada upaya menumbuhkan minat baca bagi siswa di sekolah.

Di dalam panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (2016) Pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.  Ketika siswa telah melakukan tahapan pembiasaan, maka yang perlu dikembangkan adalah daya baca siswa. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan dapat dilakukan dengan jalan membaca buku cerita selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring dan membaca dalam hati.

Pada tahap Pengembangan, pelaksanaan kegiatan literasi untuk jenjang Sekolah Dasar tingkat rendah dapat dilakukan dengan menyimak cerita untuk menumbuhkan empati, membaca gambar untuk memahami alur cerita, menjawab pertanyaan tentang tokoh  cerita dan kejadian   dalam cerita, bercerita melalui gambar, dan mengidentifikasi tokoh utama dan alur cerita sederhana.  Sedangkan untuk Sekolah Dasar tingkat tinggi dapat dilakukan dengan cara memahami cerita fantasi dan cerita rakyat dalam konteks budaya yang spesifik, menceritakan ulang isi cerita dengan bahasa sendiri, menuliskan tanggapan terhadap tokoh dan alur cerita, mengidentifikasi perbedaan dan persamaan karakter tokoh-tokoh cerita.

Sampai saat ini Indonesia masih menempati peringkat bawah dalam kemampuan literasi. Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2019.

Data di atas menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia sedang berada pada titik mengkhawatirkan dan harus segera dicarikan solusi. Kita tahu bahwa membangun budaya literasi tidaklah mudah karena masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk membaca dan tidak terlatih untuk menulis. Membaca dan menulis belum menjadi budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Seiring semakin berkembangnya  teknologi dan informasi saat ini, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menonton  youtube dan televisi untuk memperoleh informasi daripada membaca buku. Hanya dengan mendengarkan dan menonton Youtube atau situs lainnya masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan.  Padahal, kebiasaan membaca dan kemampuan menulis merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk generasi yang tangguh dan dapat bersaing di era globalisasi seperti saat ini.

Membangun budaya literasi di Indonesia menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Kita perlu melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan budaya literasi terutama di kalangan peserta didik. Salah satu cara agar peserta didik tertarik dengan literasi adalah dengan memberikan bahan bacaan yang ringan, bahasanya mudah dipahami, dan ceritanya tidak jauh dari kehidupan peserta didik. Untuk meningkatkan budaya literasi, sastra anak menjadi salah satu pilihan karena dianggap sesuai dengan kebutuhan peserta didik

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Keluarga

Budaya membaca masyarakat Indonesia masih dinilai rendah disebabkan dalam kehidupan keluarga orang tua tidak menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah kebiasaan bagi orang tua maupun anak. Kebiasaan membaca orang tua tentu juga akan menjadi kebiasaan membaca bagi anak karena hakikatnya perilaku anak akan mencontoh pada perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, membangun budaya literasi ini dapat dimulai dari rumah, terutama dalam lingkungan keluarga, dan dalam usia dini.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis di lingkungan keluarga antara lain: dengan bercerita sebelum tidur,  membiasakan membuka buku, dan membaca dan menulis bersama

Bercerita sebelum tidur. Sebelum anak memiliki kebiasaan dan kegemaran membaca, anak harus dibiasakan mengenal buku. Untuk keperluan tersebut,  orang tua dapat membacakannya jika anak belum mampu membaca. Saat yang tepat adalah pada saat menjelang tidur. Orang tua dapat membacakan buku cerita bergambar. Selama dan sesudah bercerita  sekali waktu orang tua dapat menanyakan beberapa pertanyaan sederhana  mengenai karakter tokoh yang ada dalam cerita dan alur cerita. Meskipun sederhana, mungkin tidak banyak orang tua yang  membacakan cerita kepada anak sebelum tidur.

Membiasakan membuka buku. Pada dasarnya tidak terlalu sulit untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak.  Kebiasaan membaca ini bisa diawali dengan kebiasaan orang tua membuka buku.  Dengan adanya kebiasaan orang tua membuka buku anak cenderung untuk meniru. Pada saat anak membuka buku orang tua bisa bertanya terkait dengan keberadaan buku yang dibuka oleh anak.  Bila anak belum bisa membaca, orang tua bisa meminta anak untuk mencemati gambar yang ada di dalam buku dan bersama-sama menebak isi cerita berdasarkan gambar tersebut.

Membaca dan menulis bersama. Ketika anak sudah mampu membaca dan menulis, orang tua dapat meminta anak menuliskan judul buku yang telah dibaca dan menuliskan tokoh dan karakter yang ada dalam cerita tersebut. Kegiatan membaca dan menulis a tidak hanya dilakukan bersama orang tua, tetapi akan lebih menarik jika dilakukan dengan teman sebaya. Mereka bisa saling bercerita dan bertukar buku, bahkan mungkin mereka saling memberikan masukan terhadap tulisan masing-masing. Orang tua yang mengakrabkan anak dengan karya sastra sejak dini, niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki kegemaran dan kebiasaan membaca.

 

 

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Sekolah

 

Kondisi rendahnya literasi membaca membuat pemerintah menerbitkan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti.   Sebagai bentuk nyata penerapan Permendikbud tersebut adalah dengan digiatkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang lebih memfokuskan pada upaya menumbuhkan minat baca bagi siswa di sekolah.

Di dalam panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (2016) Pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.  Ketika siswa telah melakukan tahapan pembiasaan, maka yang perlu dikembangkan adalah daya baca siswa. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan dapat dilakukan dengan jalan membaca buku cerita selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring dan membaca dalam hati.

Pada tahap Pengembangan, pelaksanaan kegiatan literasi untuk jenjang Sekolah Dasar tingkat rendah dapat dilakukan dengan menyimak cerita untuk menumbuhkan empati, membaca gambar untuk memahami alur cerita, menjawab pertanyaan tentang tokoh  cerita dan kejadian   dalam cerita, bercerita melalui gambar, dan mengidentifikasi tokoh utama dan alur cerita sederhana.  Sedangkan untuk Sekolah Dasar tingkat tinggi dapat dilakukan dengan cara memahami cerita fantasi dan cerita rakyat dalam konteks budaya yang spesifik, menceritakan ulang isi cerita dengan bahasa sendiri, menuliskan tanggapan terhadap tokoh dan alur cerita, mengidentifikasi perbedaan dan persamaan karakter tokoh-tokoh cerita.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca