alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Momentum Tahun Baru 2022 Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Dr. Khotibul Umam, M.A.

Mobile_AP_Rectangle 1

Memasuki abad XXI atau millenium ketiga ini dunia pendidikan dihadapkan kepada berbagai masalah pelik yang apabila tidak segera diatasi secara tepat, tidak mustahil dunia pendidikan (khususnya pendidikan Islam) ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya lembaga pendidikan Islam yang bermutu dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. 

Hal tersebut di atas dapat dimengerti mengingat dunia pendidikan Islam merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan Islam dalam menyiapkan masa depan umat manusia, adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa. Sejalan dengan permasalahan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di atas, maka prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas yaitu menghasilkan para lulusan yang memiliki pandangan ajaran Islam yang luas, menyeluruh dan holistik serta mampu mengaplikasikannya sesuai dengan tingkat usia anak didik dan perkembangan zaman.

Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan berbagai konsep untuk mengatasi kelemahan-kelemahan lembaga pendidikan Islam. Tawaran konseptual ini merupakan bentuk kepedulian mereka untuk berpartisipasi dalam membenahi, menyempurnakan, bahkan meningkatkan mutu lembaga pendidikan Islam menjadi institusi yang maju dan unggul.

Mobile_AP_Rectangle 2

Manajemen menjadi kunci pemecahan karena mengandung kaidah-kaidah penataan secara rapi dan teratur walau sayangnya belum banyak dipraktikkan secara serius dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, kecuali dalam kasus-kasus yang terbatas. Manajemen profesional telah menjadi andalan dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Kaidah-kaidah manajerial telah berkali-kali diujicobakan atau dipraktikkan dalam mengendalikan lembaga pendidikan Islam. Bahkan, dilakukan juga penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan fenomena-fenomena baru yang muncul di lapangan yang sebelumnya tidak menjadi pertimbangan dalam kaidah-kaidah yang terdahulu.

 Oleh karena itu, kaidah-kaidah manajerial tersebut dirumuskan tidak hanya berdasarkan apriori (pengetahuan  sebelum mengalami semacam ide-ide murni dan gagasan-gagasan murni) melainkan juga berdasarkan aposteriori (Pengetahuan  yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialami seseorang atau lembaga pendidikan). Kombinasi antara pengetahuan apriori dan aposteriori inilah yang dijadikan pijakan dalam merumuskan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam, agar suatu lembaga pendidikan Islam dapat dikendalikan melalui strategi yang komprehensif. Meskipun demikian, sebagai watak dari suatu disiplin ilmu, kita harus terus-menerus melakukan pencermatan, jika ada hal-hal yang dapat menyempurnakan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam.

Dalam kasus lembaga pendidikan (khususnya madrasah), berdasarkan identifikasi penyebab kelemahan mutu madrasah yang meliputi pihak pengelola, sistem feodalisme, kondisi kultural masyarakat, kebijakan politik negara terutama yang menyangkut keuangan/ pendanaan, beban pelajaran yang harus dijalani siswa, potensi input, keadaan sarana-prasarana, alat-alat pembelajaran, maupun kondisi guru yang kurang profesional, maka banyak hal yang turut bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas madrasah.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, penulis mengutip pendapat Abuddin Nata (2007:165-168) dijelaskan bahwa yang menjadi prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan kepada empat hal pemikiran diantaranya yaitu: 

- Advertisement -

Memasuki abad XXI atau millenium ketiga ini dunia pendidikan dihadapkan kepada berbagai masalah pelik yang apabila tidak segera diatasi secara tepat, tidak mustahil dunia pendidikan (khususnya pendidikan Islam) ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya lembaga pendidikan Islam yang bermutu dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. 

Hal tersebut di atas dapat dimengerti mengingat dunia pendidikan Islam merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan Islam dalam menyiapkan masa depan umat manusia, adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa. Sejalan dengan permasalahan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di atas, maka prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas yaitu menghasilkan para lulusan yang memiliki pandangan ajaran Islam yang luas, menyeluruh dan holistik serta mampu mengaplikasikannya sesuai dengan tingkat usia anak didik dan perkembangan zaman.

Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan berbagai konsep untuk mengatasi kelemahan-kelemahan lembaga pendidikan Islam. Tawaran konseptual ini merupakan bentuk kepedulian mereka untuk berpartisipasi dalam membenahi, menyempurnakan, bahkan meningkatkan mutu lembaga pendidikan Islam menjadi institusi yang maju dan unggul.

Manajemen menjadi kunci pemecahan karena mengandung kaidah-kaidah penataan secara rapi dan teratur walau sayangnya belum banyak dipraktikkan secara serius dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, kecuali dalam kasus-kasus yang terbatas. Manajemen profesional telah menjadi andalan dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Kaidah-kaidah manajerial telah berkali-kali diujicobakan atau dipraktikkan dalam mengendalikan lembaga pendidikan Islam. Bahkan, dilakukan juga penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan fenomena-fenomena baru yang muncul di lapangan yang sebelumnya tidak menjadi pertimbangan dalam kaidah-kaidah yang terdahulu.

 Oleh karena itu, kaidah-kaidah manajerial tersebut dirumuskan tidak hanya berdasarkan apriori (pengetahuan  sebelum mengalami semacam ide-ide murni dan gagasan-gagasan murni) melainkan juga berdasarkan aposteriori (Pengetahuan  yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialami seseorang atau lembaga pendidikan). Kombinasi antara pengetahuan apriori dan aposteriori inilah yang dijadikan pijakan dalam merumuskan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam, agar suatu lembaga pendidikan Islam dapat dikendalikan melalui strategi yang komprehensif. Meskipun demikian, sebagai watak dari suatu disiplin ilmu, kita harus terus-menerus melakukan pencermatan, jika ada hal-hal yang dapat menyempurnakan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam.

Dalam kasus lembaga pendidikan (khususnya madrasah), berdasarkan identifikasi penyebab kelemahan mutu madrasah yang meliputi pihak pengelola, sistem feodalisme, kondisi kultural masyarakat, kebijakan politik negara terutama yang menyangkut keuangan/ pendanaan, beban pelajaran yang harus dijalani siswa, potensi input, keadaan sarana-prasarana, alat-alat pembelajaran, maupun kondisi guru yang kurang profesional, maka banyak hal yang turut bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas madrasah.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, penulis mengutip pendapat Abuddin Nata (2007:165-168) dijelaskan bahwa yang menjadi prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan kepada empat hal pemikiran diantaranya yaitu: 

Memasuki abad XXI atau millenium ketiga ini dunia pendidikan dihadapkan kepada berbagai masalah pelik yang apabila tidak segera diatasi secara tepat, tidak mustahil dunia pendidikan (khususnya pendidikan Islam) ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya lembaga pendidikan Islam yang bermutu dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. 

Hal tersebut di atas dapat dimengerti mengingat dunia pendidikan Islam merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan Islam dalam menyiapkan masa depan umat manusia, adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa. Sejalan dengan permasalahan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di atas, maka prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas yaitu menghasilkan para lulusan yang memiliki pandangan ajaran Islam yang luas, menyeluruh dan holistik serta mampu mengaplikasikannya sesuai dengan tingkat usia anak didik dan perkembangan zaman.

Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan berbagai konsep untuk mengatasi kelemahan-kelemahan lembaga pendidikan Islam. Tawaran konseptual ini merupakan bentuk kepedulian mereka untuk berpartisipasi dalam membenahi, menyempurnakan, bahkan meningkatkan mutu lembaga pendidikan Islam menjadi institusi yang maju dan unggul.

Manajemen menjadi kunci pemecahan karena mengandung kaidah-kaidah penataan secara rapi dan teratur walau sayangnya belum banyak dipraktikkan secara serius dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, kecuali dalam kasus-kasus yang terbatas. Manajemen profesional telah menjadi andalan dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Kaidah-kaidah manajerial telah berkali-kali diujicobakan atau dipraktikkan dalam mengendalikan lembaga pendidikan Islam. Bahkan, dilakukan juga penyempurnaan-penyempurnaan berdasarkan fenomena-fenomena baru yang muncul di lapangan yang sebelumnya tidak menjadi pertimbangan dalam kaidah-kaidah yang terdahulu.

 Oleh karena itu, kaidah-kaidah manajerial tersebut dirumuskan tidak hanya berdasarkan apriori (pengetahuan  sebelum mengalami semacam ide-ide murni dan gagasan-gagasan murni) melainkan juga berdasarkan aposteriori (Pengetahuan  yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialami seseorang atau lembaga pendidikan). Kombinasi antara pengetahuan apriori dan aposteriori inilah yang dijadikan pijakan dalam merumuskan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam, agar suatu lembaga pendidikan Islam dapat dikendalikan melalui strategi yang komprehensif. Meskipun demikian, sebagai watak dari suatu disiplin ilmu, kita harus terus-menerus melakukan pencermatan, jika ada hal-hal yang dapat menyempurnakan kaidah-kaidah manajemen lembaga pendidikan Islam.

Dalam kasus lembaga pendidikan (khususnya madrasah), berdasarkan identifikasi penyebab kelemahan mutu madrasah yang meliputi pihak pengelola, sistem feodalisme, kondisi kultural masyarakat, kebijakan politik negara terutama yang menyangkut keuangan/ pendanaan, beban pelajaran yang harus dijalani siswa, potensi input, keadaan sarana-prasarana, alat-alat pembelajaran, maupun kondisi guru yang kurang profesional, maka banyak hal yang turut bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas madrasah.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, penulis mengutip pendapat Abuddin Nata (2007:165-168) dijelaskan bahwa yang menjadi prioritas kegiatan pendidikan Islam harus diarahkan kepada empat hal pemikiran diantaranya yaitu: 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca