Keempat, dalam pemikiran KHAS, Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang menjadi asas bangsa Indonesia. Deklarasi hubungan Islam dan Pancasila, lanjut KHAS, tidak berarti menyejajarkan Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Karena demikian ini dapat merendahkan Islam dengan ideologi atau isme-isme tertentu. Pemikiran ini menjawab anggapan keliru sebagian orang saat itu bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti menghilangkan iman; mereka yang menerima asas tunggal Pancasila dipandang sebagai orang kafir; bahkan menerima kedua, masih menurut mereka, berarti musyrik.

Kelima, KHAS juga menegaskan kepada seluruh masyarakat bahwa Islam yang dicantumkan sebagai asas dasar itu adalah Islam dalam arti ideologi, bukan Islam dalam arti agama. Ini bukan untuk menafikan Islam sebagai agama, tetapi mengontekstualisasikan bahwa Islam tidak hanya berperan sebagai jalan hidup, tetapi juga sebuah ilmu pengetahuan dan pemikiran yang tidak lekang seiring perubahan zaman. Ideologi adalah ciptaan manusia. Orang Islam boleh berideologi apa saja asal tidak bertentangan dengan Islam, sebagaimana Pan-Islamismenya Jamaluddin Al-Afghani untuk melawan ideologi-ideologi lainnya. Karena saat itu dunia Timur sedang berada dalam penjajahan dan “tidur nyenyak” dalam cengkeraman penjajahan sehingga butuh Pan Islamisme untuk melawan penjajahan.

Keenam, dalam pemikiran kebangsaan KHAS, Pancasila adalah sebanding dengan Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) . Keduanya sama-sama menjadi konsesus umat Islam dengan umat yang lain. Jika Piagam Madinah adalah konsensus Nabi Muhammad dengan orang Madinah pada masa kenabian, maka Pancasila adalah konsesus umat Islam Indonesia dengan elemen bangsa lain pada masa kemerdekaan mulai 1 Juni, 22 Juni dan 18 Agustus 1945 sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Ketujuh, dalam pandangan KHAS, selain Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia juga bagian penting untuk mewujudkan cita-cita baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. (negara makmur yang sejahtera dan sentosa). Bagi KHAS, NKRI adalah jembatan (wasilah) menuju ultimate goal, tujuan utama berbangsa dan bernegara, yaitu baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Sebagaimana ditegaskan dalam kaidah, “Al-wasail hukmul maqashid”, yakni perantara itu hukumnya sama dengan tujuan. Kalau tujuan hukumnya wajib, maka perantara (wasilah) juga wajib adanya. Kalau tujuan haram, maka perantara juga haram.

Kedelapan, untuk menguatkan Pancasila dan NKRI, KHAS memperkenalkan Trilogi Ukhuwah untuk masyarakat Indonesia, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan antar sesama umat Islam. Bahwa umat Islam dengan berbagai aliran keagamaan satu dengan lainnya adalah bersaudara, saling menguatkan dan mengokohkan. Ukhuwah wathaniyah, artinya persaudaraan yang dirajut secara harmoni sebagai sesama anak bangsa tanpa melihat suku bangsa, agama, tempat dan sebagainya. Sedangkan, ukhuwah basyariyah, maksudnya persaudaraan yang dibangun atas dasar kemanusiaan universal. Orang Indonesia sama dan setara dengan orang lain yang berada dalam berbagai wilayah di dunia dalam berkontribusi menciptakan perdamaian dunia.

Kesembilan, pemikiran Keislaman Moderat KH Achmad Shidiq ditunjukkan dengan empat hal pokok; (a) Sholat Berjamaah; (b) Membaca Alquran; (c). Membaca sholawat Nabi; dan (4) Tidak berbuat dzalim. Semua ini adalah ajaran Islam yang diprioritaskan oleh KHAS menjadikan ajaran Islam rahmatan lil alamin yang mudah dicerna dan mudah dipraktikkan dalam keseharian umat.

Kontribusi besar KHAS dalam melahirkan pandangan “khas” mengenai relasi keagamaan dan kebangsaan inilah yang menjadi salah satu dasar mengapa IAIN Jember harus berubah menjadi UIN KHAS Jember. Sebuah cerminan bahwa ke depan kampus ini akan menjadi “kampus harmoni” karena civitas academica bersama masyarakat selalu menjaga mesranya hubungan Ke-Islaman dan Keindonesiaan sebagaimana pemikiran KHAS. Semoga!

 

*) Prof Dr H Babun Suharto SE MM, Rektor IAIN Jember, Inisiator nama Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember), Guru Besar Ilmu Manajemen.