Diskusi tentang alih status IAIN Jember menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) terus bergulir. Dalam berbagai kesempatan, banyak yang mengulas tentang sosok KH Achmad Siddiq (selanjutnya ditulis KHAS) yang menjadi nama UIN satu-satunya di wilayah Tapal Kuda (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) dan Bali ini. Tentu saja, beragam pandangan “khas” itu mudah dijumpai di era internet ini hanya dengan mengklik nama “KH Achmad Siddiq” melalui mesin pencari informasi (search engine) Google. Bisa dicoba!

Media massa nasional Republika Online, misalnya pernah menurunkan reportase bersambung tentang sosok KHAS. NU Online, pada edisi Oktober 2020 menurunkan wawancara dr H Fahmi D Saifuddin dan KH Muhith Muzadi menjelang Munas Alim Ulama NU tahun 1983 hingga jelang Rapat Pleno Gabungan PBNU tahun 1985 secara bersambung. Sebagai salah satu platform media online terbesar di Indonesia, NU Online menampilkan wawancara orisinal pandangan KHAS soal relasi keagamaan dan kenegaraan. 

Tak hanya media massa, kajian pemikiran KHAS ini menjadi penelitian ilmiah secara berkelanjutan, mulai jenjang S-1, S-2, hingga S-3 yang dilakukan berbagai kampus di Nusantara, baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kajian-kajian yang multiperspektif terhadap pandangan “ulama khos” ini merupakan salah satu bentuk kelayakan untuk menjadikan nama beliau sebagai “identitas” UIN Jember ini.

 

Pokok-Pokok Pemikiran KHAS

Seorang cendekiawan, Prof Dawam Rahardjo pernah menyampaikan pandangannya terhadap KHAS bahwa, “Cara dia (KH Achmad Siddiq) membahas dan memecahkan hubungan antara Pancasila dan Islam tidak saja sistematis, tetapi juga logis tanpa nada apologi. Keterangannya itu bisa dimengerti oleh Pemerintah karena menggunakan terminologi politik modern. Tetapi rakyat juga bisa memahami dan juga menerima argumentasinya karena didasarkan pada metodologi pembahasan fiqih yang dikenal masyarakat.” Pendapat intelektual muslim Prof Dawam ini mewakili keluasan dan keunggulan pemikiran KHAS di dalam berbicara kebangsaan dan keagamaan (Islam). 

Dalam kesempatan mengisi webinar nasional Refleksi Kebangsaan Menuju 2021 bertema Menyemai Pemikiran KH Achmad Siddiq tentang Pancasila sebagai Dasar Ideologi Negara, ada beberapa catatan menarik dan “khas” tentang sosok dan jasa besar KHAS untuk agama dan bangsa. Pokok pemikiran yang penting untuk diteladani dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan dalam rangka menciptakan kehidupan bangsa Indonesia yang penuhi harmoni. Pertama, KH Achmad Siddiq adalah Rois Am PBNU 1984-1989 yang berasal Jember. Sejak muda, KHAS dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Belanda. Beliau memiliki legacy pada kita semua tentang hubungan Islam (agama) dan Pancasila, terutama pada masa-masa kritis Orde Baru. Ulama kharismatik KH Asad Syamsul Arifin, misalnya pernah mengatakan, “Cukuplah amal KH Achmad Siddiq menjadikan Pancasila dan Islam sebagai bekal masuk surga”.

Kedua, dalam Muktamar NU 1984 di Situbondo, NU merupakan ormas yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas tunggal di tengah banyak ormas dan OKP (organisasi kemasyarakatan pemuda) yang menentangnya. Penerimaan NU terhadap asas tunggal Pancasila lebih kepada misi bahwa Pancasila sebagai konsensus kebangsaan perlu dipertegas menjadi pondasi kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial. Penerimaan NU terhadap Pancasila tak lepas dari peran KHAS yang secara logis memberikan argumentasi yang rasional sehingga dapat diterima peserta muktamar NU.

Ketiga, dalam pemikiran KHAS disampaikan bahwa, Alquran menyebut tiga kali lafal asas yang ketiga-tiganya mengenai asas pendirian masjid (ibadah), yaitu takwa. Ayat yang menjelaskan hal tersebut ada dalam Alquran Surat At-Taubah ayat 108-109. Oleh karena itu, menurut ajaran Islam, ikhlas dan takwa itulah yang mutlak asasi. Hal ini menjadi pijakan para ulama pendiri NU yang mencukupkan diri dengan asas ikhlas dan takwa dalam amal ibadah dan amal perjuangannya.