alexametrics
23.2 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Kekerasan di Balik Pembelajaran Daring

Oleh Dr. Hj. St. Mislikhah, M.Ag.

Mobile_AP_Rectangle 1

Kekerasan psikis adalah tindakan yang disengaja yang menimbulkan rasa sakit yang bersifat mental, ketakutan, atau tekanan yang dilakukan oleh orang yang lebih tua kepada anak. Kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua, seperti: orang tua memarahi dan merendahkan anak ketika anak tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Walaupun tidak menimbulkan luka fisik yang kasat mata, kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua melalui ucapan, sikap, atau tindakan orang tua bisa merusak kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Kekerasan simbolik ialah tindakan yang memanfaatkan berbagai sarana untuk menyakiti hati dan merugikan kepentingan orang lain. Jika kekerasan fisik dan kekerasan psikis bentuknya mudah dikenali dan diamati, hal ini berbeda dengan kekerasan simbolik yang bentuknya tidak kasat mata dan tidak dirasakan sebagai suatu kekerasan, tetapi dianggap suatu yang alamiah, wajar, dan memang harus terjadi.

Terjadinya kekerasan simbolik dalam pembelajaran ditandai dengan tindakan pendidik yang menekan anak didik dengan perintah, larangan, atau tindakan lainnya yang bertujuan untuk mengontrol tindakan anak didik ke arah tertentu tanpa memberi kelonggaran kepada anak didik untuk memilih.  Bahayanya dalam kekerasan simbolik ini, para korban (anak didik) tidak merasa menjadi korban atas kekerasan yang terjadi, tetapi korban merasa itu adalah suatu hal yang wajar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Contoh kekerasan simbolik yang menimpa anak pada saat pembelajaran daring adalah pemberian tugas atau perintah. Seorang pendidik dalam pembelajaran daring sering memberikan tugas dan tugas itu harus segera diselesaikan oleh anak. Dengan pemberian tugas yang dibatasi waktu yang singkat, itu termasuk kekerasan simbolik. Pada saat memberikan tugas memang pendidik tidak menjelaskan dampaknya, jika tugas tersebut tidak diselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang diberikan, akan tetapi anak pasti sudah tahu dampaknya jika tugas itu tidak dilaksanakan. Tugas yang diberikan oleh pendidik menggambarkan betapa anak tidak memiliki alternatif lain, selain menyelesaikan tugas yang diberikan dengan waktu yang singkat. Pembatasan waktu yang diberikan pendidik kepada anak dalam menyelesaikan tugas tersebut, membuat siswa tergesa-gesa dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Kekerasan terhadap anak baik dalam bentuk fisik, psikis, maupun simbolik menurut beberapa pakar berdampak pada perkembangan anak. Orang tua yang menggunakan kekerasan dalam pengasuhan dapat berimplikasi terhadap masalah perilaku dan emosi anak. Secara psikologis anak yang tumbuh dengan kekerasan cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, memiliki prilaku yang agresif, adanya tekanan batin, dan selalu curiga pada orang lain.

Mengingat begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap anak, maka yang perlu dilakukan sekarang adalah melakukan pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak dengan cara menjadi orang tua yang lebih sabar dalam menghadapi anak, belajar untuk lebih mengerti keadaan anak, dan memahami batas kemampuan anak. Pendidik sebaiknya memperhatikan tugas yang diberikan kepada anak agar anak tidak merasa terbebani dengan tugas yang harus dikerjakan.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara normal, yaitu dengan kehadiran pendidik dan anak didik yang saling berinteraksi langsung. Amiin ya rabbal alamin.

 

*) Dr. Hj. St. Mislikhah, M.Ag., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah S2 Pascasarjana IAIN Jember

- Advertisement -

Kekerasan psikis adalah tindakan yang disengaja yang menimbulkan rasa sakit yang bersifat mental, ketakutan, atau tekanan yang dilakukan oleh orang yang lebih tua kepada anak. Kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua, seperti: orang tua memarahi dan merendahkan anak ketika anak tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Walaupun tidak menimbulkan luka fisik yang kasat mata, kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua melalui ucapan, sikap, atau tindakan orang tua bisa merusak kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Kekerasan simbolik ialah tindakan yang memanfaatkan berbagai sarana untuk menyakiti hati dan merugikan kepentingan orang lain. Jika kekerasan fisik dan kekerasan psikis bentuknya mudah dikenali dan diamati, hal ini berbeda dengan kekerasan simbolik yang bentuknya tidak kasat mata dan tidak dirasakan sebagai suatu kekerasan, tetapi dianggap suatu yang alamiah, wajar, dan memang harus terjadi.

Terjadinya kekerasan simbolik dalam pembelajaran ditandai dengan tindakan pendidik yang menekan anak didik dengan perintah, larangan, atau tindakan lainnya yang bertujuan untuk mengontrol tindakan anak didik ke arah tertentu tanpa memberi kelonggaran kepada anak didik untuk memilih.  Bahayanya dalam kekerasan simbolik ini, para korban (anak didik) tidak merasa menjadi korban atas kekerasan yang terjadi, tetapi korban merasa itu adalah suatu hal yang wajar.

Contoh kekerasan simbolik yang menimpa anak pada saat pembelajaran daring adalah pemberian tugas atau perintah. Seorang pendidik dalam pembelajaran daring sering memberikan tugas dan tugas itu harus segera diselesaikan oleh anak. Dengan pemberian tugas yang dibatasi waktu yang singkat, itu termasuk kekerasan simbolik. Pada saat memberikan tugas memang pendidik tidak menjelaskan dampaknya, jika tugas tersebut tidak diselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang diberikan, akan tetapi anak pasti sudah tahu dampaknya jika tugas itu tidak dilaksanakan. Tugas yang diberikan oleh pendidik menggambarkan betapa anak tidak memiliki alternatif lain, selain menyelesaikan tugas yang diberikan dengan waktu yang singkat. Pembatasan waktu yang diberikan pendidik kepada anak dalam menyelesaikan tugas tersebut, membuat siswa tergesa-gesa dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Kekerasan terhadap anak baik dalam bentuk fisik, psikis, maupun simbolik menurut beberapa pakar berdampak pada perkembangan anak. Orang tua yang menggunakan kekerasan dalam pengasuhan dapat berimplikasi terhadap masalah perilaku dan emosi anak. Secara psikologis anak yang tumbuh dengan kekerasan cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, memiliki prilaku yang agresif, adanya tekanan batin, dan selalu curiga pada orang lain.

Mengingat begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap anak, maka yang perlu dilakukan sekarang adalah melakukan pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak dengan cara menjadi orang tua yang lebih sabar dalam menghadapi anak, belajar untuk lebih mengerti keadaan anak, dan memahami batas kemampuan anak. Pendidik sebaiknya memperhatikan tugas yang diberikan kepada anak agar anak tidak merasa terbebani dengan tugas yang harus dikerjakan.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara normal, yaitu dengan kehadiran pendidik dan anak didik yang saling berinteraksi langsung. Amiin ya rabbal alamin.

 

*) Dr. Hj. St. Mislikhah, M.Ag., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah S2 Pascasarjana IAIN Jember

Kekerasan psikis adalah tindakan yang disengaja yang menimbulkan rasa sakit yang bersifat mental, ketakutan, atau tekanan yang dilakukan oleh orang yang lebih tua kepada anak. Kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua, seperti: orang tua memarahi dan merendahkan anak ketika anak tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Walaupun tidak menimbulkan luka fisik yang kasat mata, kekerasan psikis yang dilakukan oleh orang tua melalui ucapan, sikap, atau tindakan orang tua bisa merusak kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

Kekerasan simbolik ialah tindakan yang memanfaatkan berbagai sarana untuk menyakiti hati dan merugikan kepentingan orang lain. Jika kekerasan fisik dan kekerasan psikis bentuknya mudah dikenali dan diamati, hal ini berbeda dengan kekerasan simbolik yang bentuknya tidak kasat mata dan tidak dirasakan sebagai suatu kekerasan, tetapi dianggap suatu yang alamiah, wajar, dan memang harus terjadi.

Terjadinya kekerasan simbolik dalam pembelajaran ditandai dengan tindakan pendidik yang menekan anak didik dengan perintah, larangan, atau tindakan lainnya yang bertujuan untuk mengontrol tindakan anak didik ke arah tertentu tanpa memberi kelonggaran kepada anak didik untuk memilih.  Bahayanya dalam kekerasan simbolik ini, para korban (anak didik) tidak merasa menjadi korban atas kekerasan yang terjadi, tetapi korban merasa itu adalah suatu hal yang wajar.

Contoh kekerasan simbolik yang menimpa anak pada saat pembelajaran daring adalah pemberian tugas atau perintah. Seorang pendidik dalam pembelajaran daring sering memberikan tugas dan tugas itu harus segera diselesaikan oleh anak. Dengan pemberian tugas yang dibatasi waktu yang singkat, itu termasuk kekerasan simbolik. Pada saat memberikan tugas memang pendidik tidak menjelaskan dampaknya, jika tugas tersebut tidak diselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang diberikan, akan tetapi anak pasti sudah tahu dampaknya jika tugas itu tidak dilaksanakan. Tugas yang diberikan oleh pendidik menggambarkan betapa anak tidak memiliki alternatif lain, selain menyelesaikan tugas yang diberikan dengan waktu yang singkat. Pembatasan waktu yang diberikan pendidik kepada anak dalam menyelesaikan tugas tersebut, membuat siswa tergesa-gesa dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Kekerasan terhadap anak baik dalam bentuk fisik, psikis, maupun simbolik menurut beberapa pakar berdampak pada perkembangan anak. Orang tua yang menggunakan kekerasan dalam pengasuhan dapat berimplikasi terhadap masalah perilaku dan emosi anak. Secara psikologis anak yang tumbuh dengan kekerasan cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, memiliki prilaku yang agresif, adanya tekanan batin, dan selalu curiga pada orang lain.

Mengingat begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari kekerasan terhadap anak, maka yang perlu dilakukan sekarang adalah melakukan pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak dengan cara menjadi orang tua yang lebih sabar dalam menghadapi anak, belajar untuk lebih mengerti keadaan anak, dan memahami batas kemampuan anak. Pendidik sebaiknya memperhatikan tugas yang diberikan kepada anak agar anak tidak merasa terbebani dengan tugas yang harus dikerjakan.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara normal, yaitu dengan kehadiran pendidik dan anak didik yang saling berinteraksi langsung. Amiin ya rabbal alamin.

 

*) Dr. Hj. St. Mislikhah, M.Ag., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah S2 Pascasarjana IAIN Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/