Pada Februari 2019 Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) naik sebesar 0,12 persen, atau meningkat setara 2,24 juta orang dibanding bulan Februari 2018. Hal ini sejalan dengan turunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,01 persen, atau pengangguran berkurang sekitar 50 ribu orang dalam setahun. Meski TPT turun, namun BPS memaparkan bahwa penyumbang angka tertinggi pengangguran berasal dari lulusan sekolah menengah atas (SMA). TPT SMA sederajat yang di dalamnya juga termasuk para santri alumni pesantren mencapai sekitar 49,044 ribu orang atau sekitar 8,63 persen dalam setahun.

Berdasarkan pada paparan data di atas cukup memprihatinkan, mengingat diantara tujuan pendidikan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik (santri) agar siap dan berani menghadapi problematika kehidupan tanpa merasa tertekan, memiliki kemauan dan kemampuan, serta senang mengembangkan diri untuk menjadi manusia unggul.

Menurut Kemendiknas, faktor penyebab tingginya angka pengangguran adalah masih kurangnya perhatian secara detail dari sebuah lembaga pendidikan formal maupun non formal tentang pertumbuhan karakter dan perilaku wirausaha dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Adapun beberapa faktor lain yang memengaruhi tingginya angka pengangguran disebabkan masih rendahnya bekal kecakapan hidup (life skill), minimnya tingkat keterampilan (vocational skill), serta kurangnya kesiapan mental (generic skill) pada output pendidikan (santri) dalam memasuki dunia kerja, baik bekerja secara mandiri (wirausaha) atau bekerja untuk perusahaan lain.

Melihat permasalahan yang terjadi di atas, pondok pesantren menjadi ujung tombak dan disinyalir dapat menjadi solusi alternatif bagi pemecahan masalah dalam dunia pendidikan. Sebagian masyarakat terlanjur kecewa akan dunia pendidikan secara umum, mereka menilai pendidikan saat ini hanya menghasilkan manusia malas, kurang peka, dan pasif dalam bertindak. Hadirnya pesantren diharapkan mampu memberi angin segar kepada dunia pendidikan dengan menghasilkan lulusan yang cerdas, mandiri, produktif, kreatif, serta religius. Saat ini, pesantren mengalami berbagai tantangan internal maupun eksternal. Tantangan internal berkutat pada seberapa efektifnya penerapan sistem pendidikan yang ada di pesantren. Adapun tantangan eksternal pesantren adalah berada pada era globalisasi serta derasnya pengaruh arus modernisasi, yang tidak dapat dibendung lagi.
Dua fenomena tersebut memiliki dampak signifikan terhadap pola pergaulan antar bangsa dalam kompetisi untuk saling menguasai. Fenomena di atas menjadikan pola pendidikan sebagian pesantren mengalami pergeseran, namun beberapa pesantren tetap bertahan dengan menggunakan pola lama atau masih menggunakan sistem pendidikan tradisional (salaf). Pesantren salaf memiliki tujuan lebih mengkhususkan diri untuk mendalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin) bagi para santrinya. Materi agama tersebut digali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab dan bertuliskan gundul. Pesantren salaf meyakini berpegang teguh pada pola lama adalah untuk membentengi santri supaya tidak mudah terkontaminasi dengan kehidupan dunia yang semakin menggiurkan.
Adapun pesantren modern dalam menerapkan sistem pendidikannya memadukan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum. Pesantren modern (kholaf) adalah pesantren yang tidak hanya diam melihat fenomena yang terjadi pada era globalisasi dan ikut serta mengambil peran dan bagian dalam menghadapi derasnya arus modernisasi. Beberapa upaya yang dilakukan pesantren modern antara lain dengan memberikan bekal pendidikan entrepreneurship dalam mengembangkan life skill santri. Pesantren modern meyakini dengan menerapkan pendidikan entrepreneurship akan menghasilkan tamatan santri yang siap bersaing, memiliki kecakapan hidup yang mumpuni, mampu menjawab tantangan serta kebutuhan pasar di tengah masyarakat khususnya pada era ini.

Pendidikan entrepreneurship merupakan upaya menginternalisasikan jiwa dan mental kewirausahaan baik melalui institusi pendidikan maupun institusi lain seperti lembaga pelatihan, training, dan sebagainya. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan kewirausahaan adalah pengembangan nilai-nilai dan ciri-ciri dari seorang wirausaha yang dianggap pokok serta sesuai dengan tingkat perkembangan santri. Dalam penerapan nilai itu melalui beberapa tahapan, di antaranya pada tahapan pertama antara lain: seorang wirausaha idealnya memiliki jiwa mandiri, kreatif, berani mengambil risiko, berorientasi pada kegiatan, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan mau bekerja keras. Penulis dalam artikel ini memfokuskan dua nilai pokok dalam pendidikan entrepreneurship, yaitu membentuk jiwa mandiri dan jiwa kreatif dalam mengembangkan life skill santri.