Pemilihan kepala daerah (pilkada) yang bakal digelar Rabu, 9 Desember 2020, mendatang melibatkan 270 daerah di wilayah Indonesia. Rinciannya, pemilihan gubernur dan wakil gubernur terjadi di 9 provinsi, pemilihan bupati dan wakil bupati di 224 kabupaten, dan pemilihan wali kota dan wakil wali kota di 37 kota. Jember termasuk di antara kabupaten yang menyelenggarakan  pesta demokrasi itu.

Dinamika pertarungan politik sudah nampak dirasakan oleh sebagian masyarakat Jember yang data pemilihnya mencapai sekitar 2.001.506 orang (berdasarkan daftar pemilih tetap/DPT yang dicatat Kementerian Dalam Negeri). Terutama komunikasi politik yang dilakukan oleh para komunikator politik yang akan maju dalam pilkada, baik melalui media massa, media sosial, maupun media publikasi lainnya, seperti baliho, spanduk, pamflet yang bertebaran di berbagai sudut wilayah Jember.

Mengutip pandangan Deddy Mulyana, guru besar Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, bahwa komunikasi politik sebagai pertukaran makna yang memengaruhi distribusi dan pengelolaan kekuasaan, maka perebutan makna dukungan politik sudah nampak jelas dan sengit. Hal ini bisa ditangkap dari perang wacana para kandidat (komunikator politik) untuk merebut massa pemilih (komunikan) melalui  berbagai  pesan politik (message) yang disampaikan dalam beragam media komunikasi politik (channel) agar memenangkan kontestasi politik (effect).

Pertama, pesan politik untuk membentuk citra yang tergambar dalam produksi teks kata-kata yang disuguhkan di ruang publik. Misalnya, dr. Hj. Faida, MMR sebagai representasi petahana mengusung pesan politik “Pemimpin Perubahan; Bersama Kita Bisa” untuk mengonstruksi makna bahwa perubahan hanya bisa dilakukan dengan kebersamaan. Bersama pasangannya, Mas Vian (Dwi Arya Nugraha Oktavianto), KPUD Jember sudah resmi/sah menerima pendaftaran pasangan Faida-Vian  dari jalur perseorangan. Dukungan politik dari masyarakat langsung yang telah dipenuhi di KPUD Jember mengindikasikan pasangan ini memiliki optimisme membangun jaringan komunikasi  yang masih terjalin dengan baik.

Sementara, pasangan H. Hendy Siswanto-Muhamad Balya Firjaun Barlaman (H. Hendy-Gus Firjaun) dan pasangan Abdussalam-Ifan Ariatna (Salam-Ifan) terus bergerak meraih dukungan partai politik.  H. Hendy-Gus Firjaun mengusung pesan politik  “Wes Wayahe Mbenahi Jember” yang dikonstruksi melalui berbagai media komunikasi untuk meyakinkan masyarakat Jember bahwa pilkada 2020 ini sebagai momentum untuk melakukan perbaikan (mbenahi).

Duet Salam-Ifan yang “mengklaim” mewakili kalangan pengusaha dan kekuatan milenial mengusung branding pesan politik yang tidak kalah menarik, yakni “Wong Jember Mbangun, Jember Juara” untuk mengonstruksi diri mereka sebagai putra daerah yang dapat berkomitmen membangun agar Kota Tembakau ini menjadi pemenang (juara, atau dimaknai unggul).

Kedua pasangan ini masih berusaha keras meraih lebih dari 10 kursi partai politik sebagai “modal politik” syarat minimal mendaftar. Sekadar diketahui, 50 kursi dari 11 partai politik yang lolos di DPRD Jember periode 2019-2024, adalah PKB (8 kursi), Partai NasDem (8 kursi), PDI Perjuangan (7 kursi), Partai Gerindra (7 kursi), PKS (6 kursi), PPP (5 kursi), Partai Golkar (2 kursi), Partai Demokrat (2 kursi), PAN (2 kursi), Partai Perindo (2 kursi), dan Partai Berkarya (1 kursi).

Kedua, kredibilitas komunikator politik. Selain modal partai politik, kredibilitas komunikator pasangan calon akan dapat memengaruhi pilihan politik masyarakat. Diterimanya pasangan calon, baik perseorangan maupun rekomendasi partai menunjukkan para kandidat yang akan bertarung dalam pilkada 2020 ini memiliki kredibilitas yang cukup baik.  Kalkulasi politiknya, ketiga pasangan ini  memiliki peluang politik yang sama untuk menang!

 

Etika Komunikasi Islam dalam Berpolitik

Agama Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin memberikan prinsip komunikasi Islam yang menjadi landasan etis dalam berkomunikasi politik, yakni qaulan sadida (QS. An Nisa: 9), qaulan ma’rufa (QS. Al-Baqarah: 235 & 263;  QS An-Nissa: 5 & 8; dan QS Al-Ahzab: 2), qaulan baligha (QS. An Nisaa: 63), qaulan karima (QS. Al Isra: 23), qaulan maysura (QS Al Isra: 28), dan qaulan layyina (QS. Thaha: 44).