alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Tantangan Besar UIN KHAS Jember

Oleh: Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM

Mobile_AP_Rectangle 1

Perjalanan panjang, usaha keras, ikhtiar maksimal, dan keistiqamahan berproses dalam mewujudkan alih status dari IAIN Jember menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) akhirnya sampai pada tujuan. Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember ditetapkan pada tanggal 11 Mei 2021 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.  Bersamaan dengan momentum peringatan Hari lahir Pancasila, 1 Juni 2021 lalu, tranformasi  IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember disambut dengan suka cita, rasa syukur yang mendalam. Bahwa, segala perjuangan yang telah dijalani bersama, telah berhasil kita raih. Kita telah mampu melewati pelbagai tantangan yang ada.

Transformasi IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember patut disyukuri, karena diniatkan sebagai  pintu menuju kebaikan bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam sebagaimana desain Visi UIN KHAS Jember, yakni “Menjadi Universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara Tahun 2030 dengan  kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban”.  Setidaknya, ada dua  tantangan “besar dan berat” dalam  mewujudkan visi mulia ini di tengah kompetisi lembaga perguruan tinggi dunia di era globalisasi digital.

Pertama, visi menjadi universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara tahun 2030 didasarkan atas kemampuan civitas akademika, baik dosen, karyawan, dan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang sudah dilakukan sebelum transformasi UIN KHAS Jember terwujud. Terkemuka di Asia Tenggara sudah dimulai sejak “berstatus” STAIN Jember dan IAIN Jember berupa kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di mancanegara, terutama Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan negara lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak dipercaya menjadi Ketua STAIN Jember dan Rektor IAIN Jember, jaringan kerjasama dengan dunia internasional sudah terjalin melalui beragam kegiatan bahkan hingga bertransformasi menjadi UIN KHAS Jember. Bahkan, ketika musim pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, kegiatan internasional itu tidak menjadi kendala karena menggunakan media komunikasi daring. Diantaranya  webinar dengan intelektual dari berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Jerman, Timur Tengah, dan pakar lainnya.

Untuk itu, berbagai kegiatan penelitian kolaboratif internasional, pertukaran mahasiswa asing, seminar internasional, dan kerjasama Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) harus ditingkatkan di masa-masa mendatang dengan skala yang lebih besar lagi.  Tantangan kedepan, sesuai dengan tuntutan “Merdeka Belajar-Kampus Merdeka”, maka kerjasama dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional harus lebih inovatif, kolaboratif, dan sinergis.

Kebutuhan akan kualitas sumber daya kampus (mahasiswa, dosen, dan karyawan), sarana prasarana,  sudah dipersiapkan dan akan terus ditambah sebagai konsekuensi alih status ini. Berbagai fakultas “umum” baru dibuka, peningkatan jumlah mahasiswa, penambahan tenaga karyawan, kuantitas dosen, dan perluasan kampus. Tentu saja, dampaknya akan terjadi pergerakan ekonomi yang meningkat, disamping dinamika dunia pendidikan yang semakin maju.

Agar berkelas di Asia Tenggara, pesan penting Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019 Lukman Hakim Syaifuddin–saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Kapasitas Penggerak Moderasi Beragama di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember–bisa menjadi panduan para civitas akademika UIN KHAS Jember. Pertama, program studi yang berbasis Islam harus tetap menjadi unggulan dan tidak pudar keberadaanya. Pesan ini sangat beralasan mengingat berdasarkan pengalaman kampus PTKIN saat alih status ke UIN, ada beberapa program studi berbasis Islam justru kalah dengan prodi umum. Padahal program studi Islam itu mestinya harus didudukan sebagai center excellence. Identitas Universitas Islam harus menjadi sumber utama ilmu pengetahuan yang meng-Asia Tenggara. Hal ini juga ditegaskan dalam Perpres 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember.

- Advertisement -

Perjalanan panjang, usaha keras, ikhtiar maksimal, dan keistiqamahan berproses dalam mewujudkan alih status dari IAIN Jember menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) akhirnya sampai pada tujuan. Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember ditetapkan pada tanggal 11 Mei 2021 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.  Bersamaan dengan momentum peringatan Hari lahir Pancasila, 1 Juni 2021 lalu, tranformasi  IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember disambut dengan suka cita, rasa syukur yang mendalam. Bahwa, segala perjuangan yang telah dijalani bersama, telah berhasil kita raih. Kita telah mampu melewati pelbagai tantangan yang ada.

Transformasi IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember patut disyukuri, karena diniatkan sebagai  pintu menuju kebaikan bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam sebagaimana desain Visi UIN KHAS Jember, yakni “Menjadi Universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara Tahun 2030 dengan  kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban”.  Setidaknya, ada dua  tantangan “besar dan berat” dalam  mewujudkan visi mulia ini di tengah kompetisi lembaga perguruan tinggi dunia di era globalisasi digital.

Pertama, visi menjadi universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara tahun 2030 didasarkan atas kemampuan civitas akademika, baik dosen, karyawan, dan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang sudah dilakukan sebelum transformasi UIN KHAS Jember terwujud. Terkemuka di Asia Tenggara sudah dimulai sejak “berstatus” STAIN Jember dan IAIN Jember berupa kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di mancanegara, terutama Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan negara lainnya.

Sejak dipercaya menjadi Ketua STAIN Jember dan Rektor IAIN Jember, jaringan kerjasama dengan dunia internasional sudah terjalin melalui beragam kegiatan bahkan hingga bertransformasi menjadi UIN KHAS Jember. Bahkan, ketika musim pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, kegiatan internasional itu tidak menjadi kendala karena menggunakan media komunikasi daring. Diantaranya  webinar dengan intelektual dari berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Jerman, Timur Tengah, dan pakar lainnya.

Untuk itu, berbagai kegiatan penelitian kolaboratif internasional, pertukaran mahasiswa asing, seminar internasional, dan kerjasama Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) harus ditingkatkan di masa-masa mendatang dengan skala yang lebih besar lagi.  Tantangan kedepan, sesuai dengan tuntutan “Merdeka Belajar-Kampus Merdeka”, maka kerjasama dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional harus lebih inovatif, kolaboratif, dan sinergis.

Kebutuhan akan kualitas sumber daya kampus (mahasiswa, dosen, dan karyawan), sarana prasarana,  sudah dipersiapkan dan akan terus ditambah sebagai konsekuensi alih status ini. Berbagai fakultas “umum” baru dibuka, peningkatan jumlah mahasiswa, penambahan tenaga karyawan, kuantitas dosen, dan perluasan kampus. Tentu saja, dampaknya akan terjadi pergerakan ekonomi yang meningkat, disamping dinamika dunia pendidikan yang semakin maju.

Agar berkelas di Asia Tenggara, pesan penting Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019 Lukman Hakim Syaifuddin–saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Kapasitas Penggerak Moderasi Beragama di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember–bisa menjadi panduan para civitas akademika UIN KHAS Jember. Pertama, program studi yang berbasis Islam harus tetap menjadi unggulan dan tidak pudar keberadaanya. Pesan ini sangat beralasan mengingat berdasarkan pengalaman kampus PTKIN saat alih status ke UIN, ada beberapa program studi berbasis Islam justru kalah dengan prodi umum. Padahal program studi Islam itu mestinya harus didudukan sebagai center excellence. Identitas Universitas Islam harus menjadi sumber utama ilmu pengetahuan yang meng-Asia Tenggara. Hal ini juga ditegaskan dalam Perpres 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember.

Perjalanan panjang, usaha keras, ikhtiar maksimal, dan keistiqamahan berproses dalam mewujudkan alih status dari IAIN Jember menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember) akhirnya sampai pada tujuan. Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember ditetapkan pada tanggal 11 Mei 2021 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.  Bersamaan dengan momentum peringatan Hari lahir Pancasila, 1 Juni 2021 lalu, tranformasi  IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember disambut dengan suka cita, rasa syukur yang mendalam. Bahwa, segala perjuangan yang telah dijalani bersama, telah berhasil kita raih. Kita telah mampu melewati pelbagai tantangan yang ada.

Transformasi IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember patut disyukuri, karena diniatkan sebagai  pintu menuju kebaikan bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam sebagaimana desain Visi UIN KHAS Jember, yakni “Menjadi Universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara Tahun 2030 dengan  kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban”.  Setidaknya, ada dua  tantangan “besar dan berat” dalam  mewujudkan visi mulia ini di tengah kompetisi lembaga perguruan tinggi dunia di era globalisasi digital.

Pertama, visi menjadi universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara tahun 2030 didasarkan atas kemampuan civitas akademika, baik dosen, karyawan, dan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang sudah dilakukan sebelum transformasi UIN KHAS Jember terwujud. Terkemuka di Asia Tenggara sudah dimulai sejak “berstatus” STAIN Jember dan IAIN Jember berupa kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di mancanegara, terutama Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan negara lainnya.

Sejak dipercaya menjadi Ketua STAIN Jember dan Rektor IAIN Jember, jaringan kerjasama dengan dunia internasional sudah terjalin melalui beragam kegiatan bahkan hingga bertransformasi menjadi UIN KHAS Jember. Bahkan, ketika musim pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, kegiatan internasional itu tidak menjadi kendala karena menggunakan media komunikasi daring. Diantaranya  webinar dengan intelektual dari berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Jerman, Timur Tengah, dan pakar lainnya.

Untuk itu, berbagai kegiatan penelitian kolaboratif internasional, pertukaran mahasiswa asing, seminar internasional, dan kerjasama Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) harus ditingkatkan di masa-masa mendatang dengan skala yang lebih besar lagi.  Tantangan kedepan, sesuai dengan tuntutan “Merdeka Belajar-Kampus Merdeka”, maka kerjasama dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional harus lebih inovatif, kolaboratif, dan sinergis.

Kebutuhan akan kualitas sumber daya kampus (mahasiswa, dosen, dan karyawan), sarana prasarana,  sudah dipersiapkan dan akan terus ditambah sebagai konsekuensi alih status ini. Berbagai fakultas “umum” baru dibuka, peningkatan jumlah mahasiswa, penambahan tenaga karyawan, kuantitas dosen, dan perluasan kampus. Tentu saja, dampaknya akan terjadi pergerakan ekonomi yang meningkat, disamping dinamika dunia pendidikan yang semakin maju.

Agar berkelas di Asia Tenggara, pesan penting Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019 Lukman Hakim Syaifuddin–saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Kapasitas Penggerak Moderasi Beragama di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember–bisa menjadi panduan para civitas akademika UIN KHAS Jember. Pertama, program studi yang berbasis Islam harus tetap menjadi unggulan dan tidak pudar keberadaanya. Pesan ini sangat beralasan mengingat berdasarkan pengalaman kampus PTKIN saat alih status ke UIN, ada beberapa program studi berbasis Islam justru kalah dengan prodi umum. Padahal program studi Islam itu mestinya harus didudukan sebagai center excellence. Identitas Universitas Islam harus menjadi sumber utama ilmu pengetahuan yang meng-Asia Tenggara. Hal ini juga ditegaskan dalam Perpres 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/