Posisi kiai sebagai pemimpin pesantren juga diharuskan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang menjadi acuan dalam bertingkah laku dan pengembangan pesantren. Ajaran luhur yang menjadi kepercayaan kiai dalam hidupnya akan diterapkan ketika dalam memimpin di pesantren. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat pesantren sangat bergantung kepada kemampuan kiai dalam menjaga nilai-nilai luhur itu.

Bagi kiai, kaum muslimin menjadi kekuatan yang diyakini sebagai rahmat Allah SWT dalam rangka menjaga eksistensi pesantren, terutama terkait dengan estafet kepemimpinan di pesantren. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zamakhsyari Dhofir bahwa usaha melestarikan tradisi kepemimpinan pesantren ialah membangun solidaritas dan kerjasama antara para kiai, yakni: a) mengimplementasikan suatu tradisi bahwa keluarga yang terdekat harus menjadi calon kuat penerus kepemimpinan dalam pesantren; b) menerapkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kiai; c) dan mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama kiai dan keluarganya.

Pimpinan dalam sebuah pesantren itu ibaratkan seorang nakhoda kapal yang sedang mengarungi lautan untuk mencapai dermaga impian yang dituju. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa di tengah lautan itu seorang nakhoda yang berbantalkan ombak dan berselimutkan angin serta ber-musik-kan petir. Dalam hal ini seorang nakhoda harus bertangung jawab atas keselamatan awak kapal, sehingga bersandar ke dermaga impian itu dengan selamat.

Maknanya dapat dipahami bahwa memimpin pesantren itu sangat berat tantangannya dalam menghadapi tantangan zaman. Butuh kelihaian, keuletan dan keikhlasan dalam mengabdi dan memperjuangkan pesantren sehingga apa yang menjadi visi misi para pendiri/muassis pesantren itu tercapai sesuai dengan harapan bersama.

Kalau kita melihat kondisi saat ini yang masuk pada era revolusi industri 4.0, tantangan pesantren jauh lebih berat dibanding dengan era sebelumnya, Tantangan era globalisasi dan teknologi yang kian hari merambah sendi-sendi dan aspek kehidupan manusia. Setidaknya, Era 4.0 ini menawarkan berbagai produk pilihan yang telah memberikan berbagai akses, kemudahan, fasilitas, informasi, dan komunikasi telah momotivasi pesantren untuk senantiasa mengadakan inovasi terhadap sistem yang ada.

Dengan demikian, peran kiai sangat vital, bukan hanya berfikir bagaimana santri berkualitas dari sisi intelektual dan moral, tapi lebih dari itu. Dalam teori pendidikan, tolok ukur kesuksesan lembaga pendidikan -dalam hal ini pesantren- dapat dilihat dari sejauh mana eksistensi peran output santri atau alumni pesantren di tengah-tengah masyarakat.

*) Hermanto Halil, Mahasiswa Program Doktor Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Jember. Artikel ini pernah dipresentasikan di Fatoni University Thailand pada Selasa, 4 Februari 2020 dalam International Joint Seminar bertema “Islamic Education in The IR 4.0 Era: Prospect and Challenges”