Bagaimanapun  tidak bisa diingkari bahwa gerakan orientalisme merupakan kembaran dari kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh beberapa negara Barat terhadap negara-negara Timur di Afrika dan Asia yang sebagian besarnya penduduknya adalah kaum Muslim.

Hadits dan Orientalisme

Bagi setiap muslim telah disediakan panduan hidup dalam urusan duniawi dan terlebih ukhwari, yaitu Al-Quran dan Hadits, sebagaimana dikatakan oleh Allah dan Rasul. Allah memberi petunjuk, apabila ada problem di antara sesama mengenai sesuatu maka hendaknya dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Para mufassir memaknai frasa dikembalikan kepada Allah dan Rasul itu adalah Al-Quran dan hadits. Di sini tampak, bahwa hadits menempati posisi penting dalam ajaran Islam, karena ia merupakan representasi kehadiran Rasulullah sang penerima dan penyampai wahyu Allah. Kalau sebagian besar ayat-ayat Al-Quran menyatakan ajaran Islam secara ijmali (garis besar) saja, maka hadits dengan fungsinya sebagai penjelas dan pengurai pesan-pesan Al-Quran. Melalui hadits itulah ajaran-ajaran mengenai berbagai aspek peribadatan dan muamalat diuraikan dan dijelaskan untuk dipraktikkan oleh setiap muslim.

Karena posisi penting sumber kedua dalam Islam itulah kaum orientalis menaruh perhatian besar pada kajian-kajian hadits. Mereka tahu bahwa tanpa hadits tidak mungkin seorang muslim dapat mempraktikan agamanya dalam hidup ini. Mereka memilih hadits dalam upayanya untuk mengetahui karakteristik ajaran Islam, kecenderungan kaum muslim dalam keberagamaannya, bahkan dalam kehidupan sosialnya. Dari sana pula mereka mempersiapkan kajian-kajian untuk menyerang umat Islam, karena kedudukan hadits yang sangat penting dalam kehidupan kaum muslim tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa Orientalis lebih memilih kajian hadits daripada kajian terhadap Al-Quran. Pertama, karena Al-Quran adalah firman Allah yang transendental, sedangkan hadits adalah perkataan Nabi (manusia) yang dalam pandangan mereka bisa saja mengandung kesalahan dan unsur-unsur negatif lainnya. Kedua, Al-Quran dapat dikatakan seragam saja, sedangkan hadits mempunyai banyak ragam periwayatan. Ketiga, Al-Quran ayat-ayatnya banyak dihafal dan dilafalkan berulang-ulang antara lain dalam shalat, sedangkan hadits pada masa awal tidak dihafalkan karena muncul dalam praktik kehidupan sehari-hari. Keempat, Al-Quran telah dikodifikaksi pada masa Khulafa Rasyidin, sedangkan hadits baru dikodifikasi pada abad II hijrah.

Begitu pentingnya kajian hadits ini, maka sejumlah orientalis membuat sebuah proyek besar penyusunan ensiklopedi pencari hadits yang dinamai al-Mu‘jam al-Mufahras li-Alfazh al-Hadits al-Nabawi, suatu ensiklopedia berisi kata-kata kunci hadits Nabi Muhammad yang disusun secara alfabetik. Proyek ini diketuai oleh seorang orientalis senior berkebangsaan Belanda, Arent Jan Wensinck (1882-1939), yang berpredikat sebagai seorang pendeta Kristen, sekaligus guru besar bahasa Arab di Universitas Leiden. Proyek tersebut dimulai pada tahun 1932 dengan melibatkan tidak kurang dari 51 orang ahli, didukung dana berasal dari Akademi Ilmu Pengetahuan di Amsterdam, yayasan-yayasan Belanda lain, dan lembaga-lembaga akademik di sejumlah negara Eropa lainnya.

Beragam bidang kajian mengenai orientalisme baik dalam konteks studi sejarah dan budaya, studi tafsir dan hadits, dan studi-studi keislaman lainnya, disajikan pada institusi pendidikan tinggi Islam. Di antaranya sebagaimana diselenggarakan pada jenjang Pascasarjana IAIN Jember, program magister Studi Islam.

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Jember.