Secara  direksional barat dan timur adalah dua kutub berbeda yang tidak pernah bertemu, akan tetapi sesungguhnya kedua-duanya adalah arah yang diciptakan oleh Allah sang Khaliq. Kedua kata dengan maksud itu disebut secara berpasangan dalam 5 ayat Al-Quran. Dalam konteks budaya dan aspek-aspek kehidupan masyarakat yang luas, banyak literatur menyebutkan bahwa secara historis telah terjadi kondisi tertentu dalam hubungan antara Barat dan Timur.

Dalam tulisan ini selanjutnya Timur dan Barat digunakan huruf kapital pada awal kata. Orientalisme berakar pada kata “orient”  yang berarti Timur, lawan dari kata “Occident” yang berarti Barat.

Orientalisme dan Orientasinya

Secara sederhana orientalisme dapat dimaknai sebagai kajian mengenai ketimuran. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan Timur itu kemudian dikerucutkan menjadi Islam dan hal-hal yang terkait dengan Islam. Demikian itulah realitasnya, yaitu suatu kajian mengenai agama Islam, masyarakat Muslim, bahasa Arab, Al-Quran, Hadits, dan kehidupan sosial kaum Muslim, yang dilakukan oleh para sarjana Barat. Mereka ini dikenal sebagai orientalis.

Edward W. Said, penulis buku Orientalism: Western Conceptions of the Orient, menyebutkan bahwa orientalisme adalah suatu wacana akademik mengenai penerapan teori-teori kritis, utamanya mengenai bermacam penetrasi budaya Barat, yang secara kultural telah menghegemoni terhadap masyarakat di kawasan Timur Dekat dan dijadikan sebagai pembenar untuk praktik imperialisme Barat. Lebih lanjut, Said menyatakan bahwa gerakan Orientalisme melakukan dominasi Barat dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, bukan hanya pada masa penjajahan, tapi juga saat ini.

Dalam pandangan Said, Orientalisme adalah gaya Barat untuk mendominasi, menataulang, dan menancapkan kekuasaan terhadap Timur. Karenanya melalui buku tersebut, Said berusaha membongkar motif-motif tersembunyi dari minat Barat terhadap masalah ketimuran terutama dunia Islam.

Kata “orientalis” secara harfiah menunjuk orang (dan siapa pun) yang melakukan kajian atau ahli mengenai masalah-masalah ketimuran. Meskipun tegas disebutkan kata “Timur”, yang dari aspek teritori sangat luas, dari aspek bangsa, etnik, dan bahasa juga demikian, termasuk aspek-aspek budaya lainnya. Akan tetapi dalam perkembangan praktisnya, kata tersebut secara spesifik terbatas pada para sarjana Barat (Eropa dan Amerika) yang mengkaji tentang Islam, bahasa Arab, kebudayaan Islam, pranata Islam, dan sebagaimana yang berkaitan dengan Islam dengan tujuan-tujuan tertentu.

Mengenai kemunculan orientalisme, banyak pandangan yang bisa dikatakan sebagai teori-teori tentang awal kemunculan orientalisme. Akan tetapi ditemukan sumber yang menyebut secara pasti sejak kapan orientalisme muncul. Jika “orientalisme” dimaknai sebagai adanya kontak antara Barat dan Timur atau Kristen dan Islam, maka kemunculannya sudah terjadi antara lain sejak keberadaan kekuasaan Islam di Andalus, pada tahun 711 saat Tariq bin Ziyad dan pasukannya memasuki daratan Andalusia,  hingga tahun 1492 ketika Kerajaan Granada -yang dipimpin oleh Abu Abdillah Muhammad Ash-Shagir dari Bani Al-Ahmar- ditaklukkan oleh aliansi kerajaan Kristen di Andalusia. Bisa juga dilihat dari adanya ketegangan besar antara Kristen dan Islam dalam Perang Salib yang berlangsung hampir dua abad lamanya, mulai perang pertama hingga kedelapan (1095-1291). Teori lain menyebut, sejak kota Konstantinopel yang merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Timur jatuh ke tangan Usmani di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud II pada tahun 1453. Akan tetapi sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Orientalisme muncul pada abad modern bersamaan dengan munculnya kolonialisme negara-negara Barat atas negara-negara Timur, yaitu pada abad XVIII dan XIX.