alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

SMK Analis Kesehatan Gebang Jember di Segel, Ada Apa ?

Ratusan Siswa SMK Terancam Keleleran, Seteru Ahli Waris Berbuntut Penyegelan Sekolah

Mobile_AP_Rectangle 1

GEBANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan siswa di SMK Analis Kesehatan Gebang terancam keleleran karena tidak lagi memiliki tempat belajar mengajar. Hal itu setelah gedung sekolah yang beralamat di Jalan Kaca Piring nomor 23, Kelurahan Gebang, Kelurahan Patrang, itu disegel oleh pihak yang mengaku sebagai ahli waris. Kabarnya, penyegelan itu lantaran pihak yayasan tidak sanggup membayar biaya sewa gedung sekolah yang nilainya mencapai kisaran Rp 6 juta per bulan.

Cahaya Ramadhani, Pembina Yayasan Bhakti Negara Jember, yayasan yang menaungi sekolah tersebut, menyebutkan, sejak Mei 2011, sekolah itu dihibahkan dari kedua orang tuanya, Hadi Purnomo ke Dwi Harpin, yang awalnya suami istri, lalu bercerai. “Juni 2011, ada perjanjian sewa tanah dan gedung lantai dua di Jalan Kaca Piring Gebang itu. Di situlah dimulainya pengelolaan SMK secara sepihak,” katanya melalui keterangan tertulis saat dikonfirmasi, Jumat (27/8) kemarin.

Akad sewa-menyewa itu berlanjut hingga 2020 lalu. Dia mengaku dipaksa menandatangani akad sewa dengan nilai tinggi. “Saat itu saya terpaksa. Sebab, kalau tidak, kami dipaksa pergi,” imbuhnya. Kasus itu juga memaksanya menunjuk kuasa hukum.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penyegelan sekolah itu kemudian berbuntut panjang. Selain perseteruan kedua belah pihak yang masih bersaudara itu, juga memantik kegelisahan wali murid. Bahkan, ada beberapa siswa yang diakuinya telah mengundurkan diri karena kasus tersebut.

Sementara itu, dari pihak kedua, Harydho Kurniawan, melalui kuasa hukumnya, Cholily, menyatakan berbeda. Menurutnya, tanah dan gedung yang digunakan sekolah itu milik kliennya yang dipinjam dengan akad sewa. “Yayasan tersebut sejak Maret sampai Juni 2021, tidak membayar uang sewa gedung. Semua bukti itu ada bahwa SMK Analis Kesehatan menggunakan tanah dan gedung dengan cara sewa,” jelasnya.

- Advertisement -

GEBANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan siswa di SMK Analis Kesehatan Gebang terancam keleleran karena tidak lagi memiliki tempat belajar mengajar. Hal itu setelah gedung sekolah yang beralamat di Jalan Kaca Piring nomor 23, Kelurahan Gebang, Kelurahan Patrang, itu disegel oleh pihak yang mengaku sebagai ahli waris. Kabarnya, penyegelan itu lantaran pihak yayasan tidak sanggup membayar biaya sewa gedung sekolah yang nilainya mencapai kisaran Rp 6 juta per bulan.

Cahaya Ramadhani, Pembina Yayasan Bhakti Negara Jember, yayasan yang menaungi sekolah tersebut, menyebutkan, sejak Mei 2011, sekolah itu dihibahkan dari kedua orang tuanya, Hadi Purnomo ke Dwi Harpin, yang awalnya suami istri, lalu bercerai. “Juni 2011, ada perjanjian sewa tanah dan gedung lantai dua di Jalan Kaca Piring Gebang itu. Di situlah dimulainya pengelolaan SMK secara sepihak,” katanya melalui keterangan tertulis saat dikonfirmasi, Jumat (27/8) kemarin.

Akad sewa-menyewa itu berlanjut hingga 2020 lalu. Dia mengaku dipaksa menandatangani akad sewa dengan nilai tinggi. “Saat itu saya terpaksa. Sebab, kalau tidak, kami dipaksa pergi,” imbuhnya. Kasus itu juga memaksanya menunjuk kuasa hukum.

Penyegelan sekolah itu kemudian berbuntut panjang. Selain perseteruan kedua belah pihak yang masih bersaudara itu, juga memantik kegelisahan wali murid. Bahkan, ada beberapa siswa yang diakuinya telah mengundurkan diri karena kasus tersebut.

Sementara itu, dari pihak kedua, Harydho Kurniawan, melalui kuasa hukumnya, Cholily, menyatakan berbeda. Menurutnya, tanah dan gedung yang digunakan sekolah itu milik kliennya yang dipinjam dengan akad sewa. “Yayasan tersebut sejak Maret sampai Juni 2021, tidak membayar uang sewa gedung. Semua bukti itu ada bahwa SMK Analis Kesehatan menggunakan tanah dan gedung dengan cara sewa,” jelasnya.

GEBANG, RADARJEMBER.ID – Ratusan siswa di SMK Analis Kesehatan Gebang terancam keleleran karena tidak lagi memiliki tempat belajar mengajar. Hal itu setelah gedung sekolah yang beralamat di Jalan Kaca Piring nomor 23, Kelurahan Gebang, Kelurahan Patrang, itu disegel oleh pihak yang mengaku sebagai ahli waris. Kabarnya, penyegelan itu lantaran pihak yayasan tidak sanggup membayar biaya sewa gedung sekolah yang nilainya mencapai kisaran Rp 6 juta per bulan.

Cahaya Ramadhani, Pembina Yayasan Bhakti Negara Jember, yayasan yang menaungi sekolah tersebut, menyebutkan, sejak Mei 2011, sekolah itu dihibahkan dari kedua orang tuanya, Hadi Purnomo ke Dwi Harpin, yang awalnya suami istri, lalu bercerai. “Juni 2011, ada perjanjian sewa tanah dan gedung lantai dua di Jalan Kaca Piring Gebang itu. Di situlah dimulainya pengelolaan SMK secara sepihak,” katanya melalui keterangan tertulis saat dikonfirmasi, Jumat (27/8) kemarin.

Akad sewa-menyewa itu berlanjut hingga 2020 lalu. Dia mengaku dipaksa menandatangani akad sewa dengan nilai tinggi. “Saat itu saya terpaksa. Sebab, kalau tidak, kami dipaksa pergi,” imbuhnya. Kasus itu juga memaksanya menunjuk kuasa hukum.

Penyegelan sekolah itu kemudian berbuntut panjang. Selain perseteruan kedua belah pihak yang masih bersaudara itu, juga memantik kegelisahan wali murid. Bahkan, ada beberapa siswa yang diakuinya telah mengundurkan diri karena kasus tersebut.

Sementara itu, dari pihak kedua, Harydho Kurniawan, melalui kuasa hukumnya, Cholily, menyatakan berbeda. Menurutnya, tanah dan gedung yang digunakan sekolah itu milik kliennya yang dipinjam dengan akad sewa. “Yayasan tersebut sejak Maret sampai Juni 2021, tidak membayar uang sewa gedung. Semua bukti itu ada bahwa SMK Analis Kesehatan menggunakan tanah dan gedung dengan cara sewa,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/