Slamet Eko Syahroni, Guru Desa yang Terpilih sebagai Pembuat Soal UAMBN

Rangga Mahardika/Radar Jember DARI DESA: Setelah mengikuti seleksi, Slamet Eko Syahroni dinyatakan lolos sebagai pembuat soal ujian di level nasional.

RADARJEMBER.ID – Di layar laptop terlihat tulisan dengan menggunakan huruf Arab. Layaknya soal-soal lainnya, di bawah cerita tersebut ada sejumlah pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda A hingga E. “Ini contoh naskah soal yang kemarin kami ajukan ke Kementerian Agama,” ucap Slamet Eko Syahroni, guru pembuat soal UAMBN yang terpilih dari Kabupaten Jember.

IKLAN

Dirinya menjelaskan, naskah dan kisi-kisi soal miliknya yang berhasil menembus nasional itu bercerita tentang Salat Idulfitri dan Iduladha. “Isinya teks Idulfitri dan Iduladha. Misalnya berapa rakaat, bacaannya apa saja,” tutur pria kelahiran Jember, 13 Mei 1994 ini mengartikan teks yang semuanya menggunakan huruf Arab.

Terpilihnya Alumni IAIN Jember Jurusan Tarbiyah Pendidikan Agama Islam yang lulus tahun 2017 ini juga cukup mengagetkan. “Ada pengumuman seleksi online (daring, Red) untuk penyusunan kisi-kisi dan soal UAM BN itu sekitar 31 juli-5 Agustus 2018,” katanya menjelaskan proses seleksi.

Dirinya hanya mengirimkan naskah dan kisi-kisi soal melalui daring (online). Materi yang ditampilkan yakni bahasa Arab untuk siswa kelas 7-9 MTs. Dalam penyusunannya, dirinya merasa tidak kesulitan. Apalagi, dirinya sebagai guru bahasa Arab di lembaganya memiliki aplikasi dari Kemenag untuk membuat soal. “Aplikasi ini semacam Word, namun keluarnya langsung huruf Arab,” terangnya.

Slamet yang biasa membuat soal saat ujian di sekolahnya pun mencoba keberuntungan dengan mengikuti lomba itu. “Pengumumannya 13 Agustus 2018, dan dinyatakan lulus,” jelas anak pertama dari dua bersaudara pasangan Munari dan Leginah ini. Tentu saja ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Sebab, dirinya berhasil mengalahkan sebanyak 1.393 guru di seluruh Indonesia.

“Kalau jumlah peserta ada 1.393 guru agama se-Indonesia. Terpilih 31 guru, yakni dari Jember hanya saya sendiri dan Jawa Timur ada 12 guru,” jelas guru yang beralamat di Dusun Kraton Gang 9 Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo ini. Bukan hanya kebanggaan bagi dirinya saja, namun juga seluruh lembaganya.

Alumnus MA Darussolah dan MTs Hidayatul Mutaabiin Sidodadi ini mengatakan, tidak ada jurus khusus sehingga terpilih menjadi salah satu pembuat soal mata pelajaran Bahasa Arab untuk UAM BN ini. “Pokoknya mengerjakan sesuai juknis dan aturan. Kriteria penilaian tidak tahu seperti apa,” jelasnya. Tiba-tiba saja dirinya langsung lulus dan muncul nama-nama terpilih berikut dengan surat keputusan.

Usai terpilih itu, dia bersama dengan 31 guru seluruh Indonesia sempat dikumpulkan di Hotel Aston, Makassar pada 15-18 Agustus 2018 lalu. Dalam kegiatan itu, mereka diberikan bekal oleh Kementerian Agama dan Puspendik Kemenag juga Direktur Kurikulum Kemenag. “Yang mengisi materi Profesor dan Doktor,” jelasnya. Mereka digembleng untuk membuat soal-soal berskala nasional.

“Ada pembekalan dan membuat draft perencanaan ke depan seperti apa? Langkah selanjutnya membuat kisi-kisi dan membuat soal,” jelasnya. Dirinya mengakui masih belum tahu target jumlah soal untuk setiap guru. Baginya, yang penting dia akan mengerjakan sebaik mungkin untuk dijadikan soal dalam UAM BN 2019 mendatang.

Dirinya mengatakan, dengan kepercayaan ini, dia mengaku sangat bersyukur. “Dengan ini banyak belajar dengan orang-orang senior dan lebih hebat. Bangga sekali,” jelasnya. Pihaknya juga memiliki tanggung jawab dengan membawa nama lembaga MTs Al Amien Sabrang, Ambulu, untuk bisa berusaha memberikan yang sebaik mungkin nantinya.

Yang jelas, ini akan menjadi kepercayaan diri yang lebih bagi dirinya juga pihak-pihak yang mendukungnya. Sebab, selama ini dirinya hanya membuat soal-soal untuk MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Arab baik untuk soal ujian tengah semester maupun semesteran di Jember.

Dengan pengalaman ini, diharapkan nantinya soal-soal yang ada di lembaga dan di Jember juga memiliki standar yang sama dengan nasional. “Ke depan lembaga dan murid-murid nanti ada semacam sosialisasi ke lembaganya masing-masing terkait penilaian yang berstandar nasional. Agar semua sesuai dengan nasional, diharapkan seperti itu,” jelasnya.

Ke depan, dirinya ingin terus mengembangkan bakat untuk membuat soal ini. Dia juga memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan formal, yakni lanjut S2. “Semoga saja diberi kesempatan, insyaallah,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :