Sudah Tiga Tahun Bangunan SDN Bintoro Ambruk

JUMAI/RADAR JEMBER BAHAYA: Anak-anak SDN Bintoro 5 lingkungan Mojan Gluduk, Kelurahan Bintoro, Patrang sedang bermain- main di salah satu ruang kelas yang atapnya roboh. Sehari-hari mereka harus berbagi kelas, satu ruangan dipakai dua kelas.

RADARJEMBER.ID- Para siswa SDN Bintoro 5 Lingkungan Mojan Gluduk, Kelurahan Bintoro, Patrang terpaksa harus berbagi kelas. Enam rombongan belajar (rombel) harus berbagi di tiga ruang kelas yang ada.

IKLAN

Seperti pantauan radarjember.id kemarin, sejumlah siswa berada di ruang kelas di belakang sekolah yang disekat menjadi dua kelas. “Ini adalah siswa kelas 1 dan dua,” tutur Lutfiyah, guru kelas.

Bukan hanya kelas 1 dan 2, tetapi juga semua rombel terpaksa harus dibagi dua. Seperti kelas 3 dengan kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. “Kondisi ini sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir,” jelas Nur Fadly, guru honorer yang sempat dipindah ke SMPN 2 Sukorambi dan kembali ke sekolah itu karena merasa kasihan dengan kondisi sekolah.

Diakuinya, kondisi kelas yang demikian tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, siswa di sekolah ini sudah bisa memahami kondisi yang dimiliki sekolah. “Jika ada satu kelas diterangkan (diberi penjelasan dengan suara keras), maka kelas sebelahnya biasanya diberikan tugas menulis atau mengerjakan soal,” jelasnya.

Siswa di SDN Bintoro 5 ini memang tidak terlalu banyak. Namun, semuanya adalah siswa sekitar sekolah yang jauh untuk mengakses ke sekolah lain. Total ada 91 siswa dengan jumlah kelas 1 sebanyak 12 anak, kelas 2 dengan 14 anak. Berikutnya berturut-turut kelas 3, 4, 6, yakni 13, 17, 15, dan 14.

Hal senada disampaikan Purwito, Kepala SDN Bintoro 5 yang sudah mengabdi di sekolah tersebut selama empat tahun terakhir. Menurutnya, awal dirinya di sekolah itu ada dua ruang kelas lain yang bisa digunakan meskipun sejumlah ruang kelas tersebut harus menggunakan penyangga. “Namun sejak tiga tahun lalu, ambruk. Sehingga tidak bisa digunakan lagi,” jelasnya.

Ruangan yang ambruk itu, kata Purwito, adalah tempat belajar bagi siswa kelas 2, 3, dan 4. Oleh karena itu, mau tidak mau pihak sekolah melakukan penggabungan rombongan belajar ini agar bisa melakukan kegiatan belajar mengajar. Diakuinya, sebenarya ada empat ruang, namun yang satu ruangan digunakan multifungsi. Untuk kantor kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan, dan gudang untuk menyimpang alat peraga pendidikan yang ada.

Purwito menambahkan, sebenarnya sekolah itu sudah waktunya diperbaiki, karena ada atap yang jebol dan kurang representatif. Bangunan baru hanya dua ruang kelas dan ruang yang digunakan untuk kantor.

Pihaknya sebenarnya sudah mencoba mencari ruang kelas baru untuk digunakan kegiatan belajar mengajar. Kebetulan memang sekolah ini menjadi satu dengan SMPN 15 Jember. Tetapi, karena tidak ada, terpaksa dilakukan kelas gabungan seperti ini. Diakuinya, memang sebenarnya tidak kondusif. “Namun bagaimana lagi. Daripada anak-anak tidak sekolah,’’ katanya.

Dia menambahkan, ruang kelas satu yang digunakan untuk kelas 1-2 juga sudah mulai rusak di bagian atapnya. Pihaknya sudah mencoba untuk mengajukan perbaikan ruang sekolah tersebut. Bahkan, tim survei dari Pemkab Jember, sekitar dua tahun lalu sudah mengecek kondisi ruang kelas yang ambruk itu. “Tetapi hingga saat ini belum ada penanganan dan pembangunan ggedung baru dari pemerintah,” jelasnya.

Pihaknya pun berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, segera memberikan perhatian dengan memperbaiki ruang kelas yang ambruk itu. “Harapan kami bisa segera diperbaiki dan bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sebagaimana mestinya,” terangnya.

Kondisi di SDN Bintoro 5 itu membuat prihatin anggota Komisi D DPRD Jember Alfian Andri Wijaya. Seharusnya, menurut Alfian, penanganan pembangunan sekolah ini bisa dipercepat karena kondisinya parah.

“Kalau melihat kondisinya, tentu akan sulit untuk bisa melakukan proses kegiatan belajar mengajar secara optimal,” tutur Alfian, kemarin siang. Dengan dua rombongan belajar dan dua guru dengan mata pelajaran berbeda dalam satu ruang kelas, tentu cukup mengganggu.

Legislator dari Partai Gerindra ini pun berjanji pihaknya akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember untuk menanyakan perihal persoalan tersebut. Pihaknya pun berharap bisa segera menyampaikan aspirasi menanyakan perihal kelas yang ambruk ini. “Bintoro ini sekolah yang ada di wilayah kota. Lah yang berada di pelosok bagaimana? Ini harus benar-benar diperhatikan,” tandasnya.

Alfian menambahkan, banyaknya laporan sekolah rusak ini harus ditanggapi serius oleh Pemkab Jember. Pasalnya, dirinya melihat sejauh ini anggaran yang dialokasikan oleh Pemkab Jember untuk pembangunan sekolah ini juga cukup minim. “Meskipun anggaran untuk dunia pendidikan mencapai Rp 1 triliun, namun untuk belanja modal pembangunan kecil,” jelasnya.

Padahal, pembangunan ini tidak kalah penting dengan peningkatan kualitas dari tenaga pendidik dan program lainnya. Karena meskipun pendidik bagus, namun dengan kondisi ruang kelas seperti di SDN Bintoro 5 Patrang ini, maka diakuinya KBM tidak akan optimal dan akan mempengaruhi kualitas pendidikan di sana.

“Dalam setiap pembahasan anggaran (APBD) untuk belanja modal itu minim sekali, padahal kebutuhannya sangat besar,” jelasnya. Dengan demikian, diharapkan nantinya tidak akan ada laporan tentang sekolah ambruk hingga siswa harus dikorbankan seperti ini lagi. Padahal, diakuinya, hal ini bisa diantisipasi dengan diperbaiki sebelum kondisi kelas semakin parah bahkan ambruk.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :