alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Tanpa NUPTK, Sertifikasi Terhambat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember menemukan bahwa masih ada guru yang belum memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Jumlahnya cukup banyak, yakni sekitar 43 guru di jenjang SMP. Padahal, ditengarai data ini belum sepenuhnya mewakili semua sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan.

Mirisnya, dalam data tersebut ada beberapa guru yang masa pengabdiannya telah lebih dari lima tahun, namun belum memiliki NUPTK. Imbasnya, para guru yang tidak memiliki NUPTK ini tidak dapat mengurus sertifikasi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Jember Nur Hamid. Menurut dia, tidak semua perkara pemenuhan NUPTK pada guru berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan. Namun, untuk mata pelajaran tertentu, misalnya Pendidikan Agama Islam, guru yang bersangkutan menyelesaikan problem NUPTK di bawah Kementerian Agama. “Tidak semua NUPTK di bawah Kemendikbud,” kata Nur Hamid.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai informasi, NUPTK adalah nomor master untuk guru dan tenaga kependidikan (GTK), dan akan diberikan kepada baik pegawai negeri maupun nonpejabat, yang akan memenuhi persyaratan ditetapkan dalam surat Direktur Jenderal GTK. Sifatnya sebagai nomor identifikasi resmi untuk pelaksanaan berbagai program dan kegiatan terkait pendidikan terkait dengan peningkatan program kualitas guru dan staf pendidikan.

NUPTK terdiri atas 16 angka unik dan permanen. NUPTK yang dimiliki oleh GTK tidak berubah, bahkan jika subjek data telah pindah ke lokasi lain, telah mengubah status pekerjaan di masa lalu, atau mengubah data lainnya.

Ketua Asosiasi Pendidik Guru Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember Zaenul Hadi memaparkan, guru-guru yang tidak memiliki NUPTK disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, kurangnya koordinasi dan komunikasi dengan pihak operator atau pihak yang bertugas untuk memasukkan data dalam Dapodik. “Mungkin, kurang koordinasi dengan pihak yang bersangkutan. Tapi, perhatian khusus,” kata Zaenul Hadi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember menemukan bahwa masih ada guru yang belum memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Jumlahnya cukup banyak, yakni sekitar 43 guru di jenjang SMP. Padahal, ditengarai data ini belum sepenuhnya mewakili semua sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan.

Mirisnya, dalam data tersebut ada beberapa guru yang masa pengabdiannya telah lebih dari lima tahun, namun belum memiliki NUPTK. Imbasnya, para guru yang tidak memiliki NUPTK ini tidak dapat mengurus sertifikasi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Jember Nur Hamid. Menurut dia, tidak semua perkara pemenuhan NUPTK pada guru berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan. Namun, untuk mata pelajaran tertentu, misalnya Pendidikan Agama Islam, guru yang bersangkutan menyelesaikan problem NUPTK di bawah Kementerian Agama. “Tidak semua NUPTK di bawah Kemendikbud,” kata Nur Hamid.

Sebagai informasi, NUPTK adalah nomor master untuk guru dan tenaga kependidikan (GTK), dan akan diberikan kepada baik pegawai negeri maupun nonpejabat, yang akan memenuhi persyaratan ditetapkan dalam surat Direktur Jenderal GTK. Sifatnya sebagai nomor identifikasi resmi untuk pelaksanaan berbagai program dan kegiatan terkait pendidikan terkait dengan peningkatan program kualitas guru dan staf pendidikan.

NUPTK terdiri atas 16 angka unik dan permanen. NUPTK yang dimiliki oleh GTK tidak berubah, bahkan jika subjek data telah pindah ke lokasi lain, telah mengubah status pekerjaan di masa lalu, atau mengubah data lainnya.

Ketua Asosiasi Pendidik Guru Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember Zaenul Hadi memaparkan, guru-guru yang tidak memiliki NUPTK disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, kurangnya koordinasi dan komunikasi dengan pihak operator atau pihak yang bertugas untuk memasukkan data dalam Dapodik. “Mungkin, kurang koordinasi dengan pihak yang bersangkutan. Tapi, perhatian khusus,” kata Zaenul Hadi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Data Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember menemukan bahwa masih ada guru yang belum memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Jumlahnya cukup banyak, yakni sekitar 43 guru di jenjang SMP. Padahal, ditengarai data ini belum sepenuhnya mewakili semua sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan.

Mirisnya, dalam data tersebut ada beberapa guru yang masa pengabdiannya telah lebih dari lima tahun, namun belum memiliki NUPTK. Imbasnya, para guru yang tidak memiliki NUPTK ini tidak dapat mengurus sertifikasi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Jember Nur Hamid. Menurut dia, tidak semua perkara pemenuhan NUPTK pada guru berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan. Namun, untuk mata pelajaran tertentu, misalnya Pendidikan Agama Islam, guru yang bersangkutan menyelesaikan problem NUPTK di bawah Kementerian Agama. “Tidak semua NUPTK di bawah Kemendikbud,” kata Nur Hamid.

Sebagai informasi, NUPTK adalah nomor master untuk guru dan tenaga kependidikan (GTK), dan akan diberikan kepada baik pegawai negeri maupun nonpejabat, yang akan memenuhi persyaratan ditetapkan dalam surat Direktur Jenderal GTK. Sifatnya sebagai nomor identifikasi resmi untuk pelaksanaan berbagai program dan kegiatan terkait pendidikan terkait dengan peningkatan program kualitas guru dan staf pendidikan.

NUPTK terdiri atas 16 angka unik dan permanen. NUPTK yang dimiliki oleh GTK tidak berubah, bahkan jika subjek data telah pindah ke lokasi lain, telah mengubah status pekerjaan di masa lalu, atau mengubah data lainnya.

Ketua Asosiasi Pendidik Guru Agama Islam Indonesia (APGAI) Wilayah Jember Zaenul Hadi memaparkan, guru-guru yang tidak memiliki NUPTK disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, kurangnya koordinasi dan komunikasi dengan pihak operator atau pihak yang bertugas untuk memasukkan data dalam Dapodik. “Mungkin, kurang koordinasi dengan pihak yang bersangkutan. Tapi, perhatian khusus,” kata Zaenul Hadi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/