Upaya Mahasiswa FKIP Unej Lestarikan Benda Bersejarah di Jember

Lakukan Studi Lapang, Temukan Arca hingga Bata Merah Bekas Kerajaan

GEMAR SEJARAH: (Dari kiri) Joni Wibowo, Ainur Rohimah dan Riki Yuli Kristian, tiga mahasiswa FKIP Unej yang gemar melakukan studi lapang tentang benda bersejarah. Kini ketiganya sudah menerbitkan buku dari hasil studi mereka. (JONI WIBOWO FOR RADAR JEMBER.ID)

RADARJEMBER.ID – Jejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Indonesia masih bisa terlacak hingga kini. Bekas peninggalan kerajaan itu kerap ditemukan oleh sejumlah peneliti, termasuk di Jember. Seperti peninggalan sejarah yang ditemukan oleh tiga mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) ini.

IKLAN

Jember menjadi salah satu daerah yang dulunya menjadi bagian dari kerajaan. Ini bisa dilihat dari temuan benda bernilai sejarah. Dari benda-benda yang ditemukan itu, cerita mengenai kejayaan beberapa kerajaan yang dulu pernah menduduki kawasan Jember, seperti Blambangan dan Majapahit, menjadi semakin kuat.

Rupanya cerita kejayaan di era kerajaan ini yang menggerakkan tiga mahasiswa FKIP Unej, Joni Wibowo, Ainur Rohimah dan Riki Yuli Kristian, terdorong melakukan studi dan kajian. Rasa ingin tahu yang tinggi, membuat kelompok mahasiswa ini melakukan studi lapang di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari. Di desa itu, mereka menemukan beberapa situs yang ditengarai merupakan peninggalan kerajaan. Seperti arca, boto abang (bata merah) dan Bunga Asoka.

Joni Wibowo, salah seorang anggota kelompok tersebut mengatakan, ide awal melakukan penelitian ini terlahir dari diskusi ringan yang biasa digelar di fakultasnya. Mereka mempelajari UU No 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya. Dari kajian undang-undang inilah, mereka terinspirasi untuk mengikuti sebuah event penelitian, Progam Kreatifitas Mahasiswa (PKM), yang digelar kampusnya. “Setelah diskusi itu, pada tiga bulan kemarin, kami coba ikuti. Kemudian saat turun lapangan dibarengi warga. Kami nemu arca itu,” kata Joni.

Ketika melakukan studi tersebut, rupanya banyak benda yang mereka temukan. Tak sekedar arca, tapi juga bata abang berukuran besar dan bunga asoka. Bata abang dan Bunga Asoka, merupakan benda dan tanaman yang biasa dipakai dalam tradisi kerajaan. Benda-benda bernilai sejarah itu terletak di sebuah pekarangan kosong di desa tersebut.

Dia menjelaskan, arca yang ditemukan di sekitar pekarangan warga itu memiliki ukuran sekitar setengah meter, dengan kondisi kepala arca yang sudah hancur. “Asumsi itu kami bangun berdasarkan keterangan dari tokoh sepuh masyarakat, dosen pembimbing kami, dan kajian-kajian literatur selama ini,” imbuh mahasiswa asal Nganjuk tersebut.

Temuan ketiga mahasiswa ini telah diserahkan ke Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Jember, bulan kemarin. Namun, mereka menyayangkan karena setelah diserahkan ternyata tak ada langkah tidak lanjut, semisal melakukan penelitian yang lebih dalam. Padahal, ketiganya mengharapkan ada dorongan pemerintah untuk membantu penelitian terhadap benda dan tanaman yang mereka temukan lebih lanjut.

Ainur Rohimah, anggota yang lain mengatakan, timnya telah berupaya agar temuannya bisa diperdalam. Karena hingga kini belum ada respons apakah ada penelitian lebih lanjut atau tidak. Mereka pun mencoba jalan lain. Bahkan, sempat wira-wiri untuk mengurus arca tersebut agar dapat diteliti lebih lanjut. “Kami sempat ke BPCB Surabaya. Sampai sana kurang direspons karena arca itu belum terdata,” tuturnya.

Setelah dari Surabaya, dia berkata, pihak BPCB Jawa Timur merekomendasikan agar ketiga mahasiswa itu ke Museum Blambangan Banyuwangi. Namun setelah dari Banyuwangi, ketiganya mengalami nasib serupa. Belum mendapatkan respons agar temuannya diteliti lebih lanjut. “Kemudian kami mencoba mengirimnya ke Kemenristekdikti. Dari sana alhamdulillah usulan penelitian kami diterima, dan mendapat dukungan dana,” ungkap mahasiswa semester enam itu.

Berbekal dukungan Kemenristekdikti ini, mereka melakukan penelitian yang targetnya tuntas pada akhir Juli ini. Bahkan, kata Imah, penelitian yang bermuara pada penerbitan karya ilmiah berupa jurnal dan buku tersebut sudah hamper selesai. Ketiga mahasiswa itu telah menerbitkan buku. Meski belum diseminarkan.

Di sisi lain, mereka juga berharap Pemkab Jember lebih memerhatikan situs-situs bersejarah yang ada di kabupaten setempat. Karena para mahasiswa ini meyakini, masih banyak situs peninggalan sejarah yang tersebar dan belum ditemukan. “Situs warisan budaya itu tidak sekedar menjadi potensi lokal, namun juga menjadi bahan edukasi bagi generasi masa depan,” tukasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih