alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Penerbitan SK Tak Menjawab Kekurangan Guru

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 8 April lalu Bupati Jember Hendy Siswanto telah mengeluarkan surat keputusan (SK) kepada guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap (GTT/PTT). Namun, masalah di bidang pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Sebab, hingga kini banyak sekolah yang masih kekurangan guru. Kondisi itu tak hanya terjadi di lembaga pendidikan perdesaan. Tapi, juga sekolah-sekolah di kawasan perkotaan.

Pemberian SK yang bisa menjadi jalan untuk kesejahteraan guru dengan mengikuti sertifikasi, serta penguatan status sebagai GTT/PTT, tetap tak bisa menjawab problem kekurangan guru tersebut. Sebab, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera merumuskan solusi. Terlebih pada tahun ajaran baru nanti, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) bakal berlangsung seluruhnya. Tidak lagi terbatas seperti sekarang.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), jumlah sekolah dasar (SD) di Jember tercatat sebanyak 1.037 lembaga. Terdiri atas 131 SD swasta dan 906 SD negeri. Jumlah SMP mencapai 344 lembaga. Di antaranya 94 SMP negeri dan 250 swasta. Sementara, jumlah guru PNS sebanyak 9.130 orang, GTT/PTT 887 orang, dan guru honorer sekolah berjumlah 4.962 orang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono mengungkapkan, setidaknya ada empat posisi guru mata pelajaran yang paling dibutuhkan saat ini. Bahkan, kata dia, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Baik untuk jenjang SD maupun SMP. “Paling krusial adalah kebutuhan akan guru sejarah, olahraga , dan BK. Di tambah guru PAI,” katanya.

Menurut Supriyono, saat ini banyak guru di bidang tersebut yang telah purnatugas. Akibatnya, secara otomatis, jumlahnya tidak sepadan dengan kebutuhan yang ada. Kata dia, kekurangan guru itu tidak hanya ada di sekolah perdesaan, tapi juga di perkotaan. Misalnya SD Negeri Kepatihan 02, Kecamatan Kaliwates.

Kepala SD Negeri Kepatihan 02 Sudarti mengatakan, kekurangan guru di lembaganya karena beberapa penyebab. Di antaranya ada yang telah pensiun, mutasi, dan guru honorer yang keluar lantaran diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Total sekolahnya kekurangan lima tenaga pendidik. “Pensiun ada dua, mutasi juga dua. Dan satu guru kena CPNS di Lumajang,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 8 April lalu Bupati Jember Hendy Siswanto telah mengeluarkan surat keputusan (SK) kepada guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap (GTT/PTT). Namun, masalah di bidang pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Sebab, hingga kini banyak sekolah yang masih kekurangan guru. Kondisi itu tak hanya terjadi di lembaga pendidikan perdesaan. Tapi, juga sekolah-sekolah di kawasan perkotaan.

Pemberian SK yang bisa menjadi jalan untuk kesejahteraan guru dengan mengikuti sertifikasi, serta penguatan status sebagai GTT/PTT, tetap tak bisa menjawab problem kekurangan guru tersebut. Sebab, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera merumuskan solusi. Terlebih pada tahun ajaran baru nanti, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) bakal berlangsung seluruhnya. Tidak lagi terbatas seperti sekarang.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), jumlah sekolah dasar (SD) di Jember tercatat sebanyak 1.037 lembaga. Terdiri atas 131 SD swasta dan 906 SD negeri. Jumlah SMP mencapai 344 lembaga. Di antaranya 94 SMP negeri dan 250 swasta. Sementara, jumlah guru PNS sebanyak 9.130 orang, GTT/PTT 887 orang, dan guru honorer sekolah berjumlah 4.962 orang.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono mengungkapkan, setidaknya ada empat posisi guru mata pelajaran yang paling dibutuhkan saat ini. Bahkan, kata dia, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Baik untuk jenjang SD maupun SMP. “Paling krusial adalah kebutuhan akan guru sejarah, olahraga , dan BK. Di tambah guru PAI,” katanya.

Menurut Supriyono, saat ini banyak guru di bidang tersebut yang telah purnatugas. Akibatnya, secara otomatis, jumlahnya tidak sepadan dengan kebutuhan yang ada. Kata dia, kekurangan guru itu tidak hanya ada di sekolah perdesaan, tapi juga di perkotaan. Misalnya SD Negeri Kepatihan 02, Kecamatan Kaliwates.

Kepala SD Negeri Kepatihan 02 Sudarti mengatakan, kekurangan guru di lembaganya karena beberapa penyebab. Di antaranya ada yang telah pensiun, mutasi, dan guru honorer yang keluar lantaran diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Total sekolahnya kekurangan lima tenaga pendidik. “Pensiun ada dua, mutasi juga dua. Dan satu guru kena CPNS di Lumajang,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada 8 April lalu Bupati Jember Hendy Siswanto telah mengeluarkan surat keputusan (SK) kepada guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap (GTT/PTT). Namun, masalah di bidang pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Sebab, hingga kini banyak sekolah yang masih kekurangan guru. Kondisi itu tak hanya terjadi di lembaga pendidikan perdesaan. Tapi, juga sekolah-sekolah di kawasan perkotaan.

Pemberian SK yang bisa menjadi jalan untuk kesejahteraan guru dengan mengikuti sertifikasi, serta penguatan status sebagai GTT/PTT, tetap tak bisa menjawab problem kekurangan guru tersebut. Sebab, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera merumuskan solusi. Terlebih pada tahun ajaran baru nanti, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) bakal berlangsung seluruhnya. Tidak lagi terbatas seperti sekarang.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), jumlah sekolah dasar (SD) di Jember tercatat sebanyak 1.037 lembaga. Terdiri atas 131 SD swasta dan 906 SD negeri. Jumlah SMP mencapai 344 lembaga. Di antaranya 94 SMP negeri dan 250 swasta. Sementara, jumlah guru PNS sebanyak 9.130 orang, GTT/PTT 887 orang, dan guru honorer sekolah berjumlah 4.962 orang.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono mengungkapkan, setidaknya ada empat posisi guru mata pelajaran yang paling dibutuhkan saat ini. Bahkan, kata dia, kekurangannya mencapai lebih dari seribu tenaga pendidik. Baik untuk jenjang SD maupun SMP. “Paling krusial adalah kebutuhan akan guru sejarah, olahraga , dan BK. Di tambah guru PAI,” katanya.

Menurut Supriyono, saat ini banyak guru di bidang tersebut yang telah purnatugas. Akibatnya, secara otomatis, jumlahnya tidak sepadan dengan kebutuhan yang ada. Kata dia, kekurangan guru itu tidak hanya ada di sekolah perdesaan, tapi juga di perkotaan. Misalnya SD Negeri Kepatihan 02, Kecamatan Kaliwates.

Kepala SD Negeri Kepatihan 02 Sudarti mengatakan, kekurangan guru di lembaganya karena beberapa penyebab. Di antaranya ada yang telah pensiun, mutasi, dan guru honorer yang keluar lantaran diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Total sekolahnya kekurangan lima tenaga pendidik. “Pensiun ada dua, mutasi juga dua. Dan satu guru kena CPNS di Lumajang,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/