alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Guru PAI di Jember Jadi Anak Tiri

Lolos Passing Grade tapi Tak Mendapat Formasi “Kalau dites lagi, beda lagi hasilnya. Karena setiap tes aturannya beda. Jadi, 140 guru PAI yang memenuhi passing grade itu harus langsung diloloskan.” Ali Dzamil - Ketua FH AGPAII Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap satu dan dua sudah selesai. Meski begitu, problem pemerataan sumber daya manusia (SDM) guru masih belum tuntas. Salah satunya adalah pemenuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jember yang pada rekrutmen lalu dinilai masih jauh dari kebutuhan.

Mengacu Data Pokok Pendidikan (Dapodik), kekurangan guru PAI untuk lembaga SD dan SMP mencapai 500 orang. Namun, dalam seleksi tahun ini pemerintah hanya membuka 42 formasi saja. Masih jauh dari kata ideal. “Kalau berdasarkan Dapodik kebutuhannya, lebih dari 500 guru,” kata Zainul Hadi, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Wilayah Jember, belum lama ini.

Imbas sedikitnya formasi guru PAI dalam seleksi PPPK itu, ada 140 guru PAI yang lolos seleksi tahap dua, namun tidak mendapat tempat mengajar. Padahal nilai mereka telah memenuhi ambang batas minimal atau passing grade. Kini, nasib dan status para guru agama tersebut seperti dianaktirikan, karena belum jelas sampai sekarang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dampak lainnya, Zainul menuturkan, bakal ada penumpukan guru agama di satu sekolah yang sama. Dia mencontohkan, jika guru PAI yang dinyatakan lolos PPPK itu mulai aktif mengajar di sekolah sesuai dengan formasinya saat ini, maka jumlahnya akan dobel, karena guru PAI yang lama belum pindah sekolah lantaran tak mendapatkan tempat. Sebaliknya, ada juga sekolah yang berpotensi tak memiliki guru PAI karena telah pindah setelah dinyatakan lolos.

Zainul mencontohkan, di Kecamatan Mayang Jember, kebutuhan guru PAI jenjang SD dan SMP mencapai 20 pendidik. Dan hingga saat ini masih belum terpenuhi. “Setiap kecamatan itu jumlah kekurangan gurunya berbeda. Contoh di Kecamatan Mayang Jember. Jumlah lembaga ada 24 sekolah, sedangkan guru PAI yang ASN hanya ada empat. Jadi, kurang 20 orang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika dibikin rata-rata setiap kecamatan kebutuhan guru PAI sebanyak 15 orang, maka totalnya mencapai 435 guru untuk jenjang SD saja. Belum ditambah untuk jenjang SMP yang diperkirakan kebutuhannya mencapai 89 guru. Karenanya, jumlah keseluruhan mencapai 500 guru lebih hampir sama dengan yang tercatat dalam Dapodik. “Bahkan bisa mengembang menjadi 600 orang,” ucapnya.

Ketua Forum Honorer (FH) AGPAII Wilayah Jember Ali Dzamil mengatakan, pada 2022 mendatang akan ada 395 formasi guru agama yang diusulkan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember. Usulan ini untuk memenuhi kebutuhan guru PAI di Jember, baik jenjang SD maupun SMP.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap satu dan dua sudah selesai. Meski begitu, problem pemerataan sumber daya manusia (SDM) guru masih belum tuntas. Salah satunya adalah pemenuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jember yang pada rekrutmen lalu dinilai masih jauh dari kebutuhan.

Mengacu Data Pokok Pendidikan (Dapodik), kekurangan guru PAI untuk lembaga SD dan SMP mencapai 500 orang. Namun, dalam seleksi tahun ini pemerintah hanya membuka 42 formasi saja. Masih jauh dari kata ideal. “Kalau berdasarkan Dapodik kebutuhannya, lebih dari 500 guru,” kata Zainul Hadi, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Wilayah Jember, belum lama ini.

Imbas sedikitnya formasi guru PAI dalam seleksi PPPK itu, ada 140 guru PAI yang lolos seleksi tahap dua, namun tidak mendapat tempat mengajar. Padahal nilai mereka telah memenuhi ambang batas minimal atau passing grade. Kini, nasib dan status para guru agama tersebut seperti dianaktirikan, karena belum jelas sampai sekarang.

Dampak lainnya, Zainul menuturkan, bakal ada penumpukan guru agama di satu sekolah yang sama. Dia mencontohkan, jika guru PAI yang dinyatakan lolos PPPK itu mulai aktif mengajar di sekolah sesuai dengan formasinya saat ini, maka jumlahnya akan dobel, karena guru PAI yang lama belum pindah sekolah lantaran tak mendapatkan tempat. Sebaliknya, ada juga sekolah yang berpotensi tak memiliki guru PAI karena telah pindah setelah dinyatakan lolos.

Zainul mencontohkan, di Kecamatan Mayang Jember, kebutuhan guru PAI jenjang SD dan SMP mencapai 20 pendidik. Dan hingga saat ini masih belum terpenuhi. “Setiap kecamatan itu jumlah kekurangan gurunya berbeda. Contoh di Kecamatan Mayang Jember. Jumlah lembaga ada 24 sekolah, sedangkan guru PAI yang ASN hanya ada empat. Jadi, kurang 20 orang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika dibikin rata-rata setiap kecamatan kebutuhan guru PAI sebanyak 15 orang, maka totalnya mencapai 435 guru untuk jenjang SD saja. Belum ditambah untuk jenjang SMP yang diperkirakan kebutuhannya mencapai 89 guru. Karenanya, jumlah keseluruhan mencapai 500 guru lebih hampir sama dengan yang tercatat dalam Dapodik. “Bahkan bisa mengembang menjadi 600 orang,” ucapnya.

Ketua Forum Honorer (FH) AGPAII Wilayah Jember Ali Dzamil mengatakan, pada 2022 mendatang akan ada 395 formasi guru agama yang diusulkan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember. Usulan ini untuk memenuhi kebutuhan guru PAI di Jember, baik jenjang SD maupun SMP.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap satu dan dua sudah selesai. Meski begitu, problem pemerataan sumber daya manusia (SDM) guru masih belum tuntas. Salah satunya adalah pemenuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jember yang pada rekrutmen lalu dinilai masih jauh dari kebutuhan.

Mengacu Data Pokok Pendidikan (Dapodik), kekurangan guru PAI untuk lembaga SD dan SMP mencapai 500 orang. Namun, dalam seleksi tahun ini pemerintah hanya membuka 42 formasi saja. Masih jauh dari kata ideal. “Kalau berdasarkan Dapodik kebutuhannya, lebih dari 500 guru,” kata Zainul Hadi, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Wilayah Jember, belum lama ini.

Imbas sedikitnya formasi guru PAI dalam seleksi PPPK itu, ada 140 guru PAI yang lolos seleksi tahap dua, namun tidak mendapat tempat mengajar. Padahal nilai mereka telah memenuhi ambang batas minimal atau passing grade. Kini, nasib dan status para guru agama tersebut seperti dianaktirikan, karena belum jelas sampai sekarang.

Dampak lainnya, Zainul menuturkan, bakal ada penumpukan guru agama di satu sekolah yang sama. Dia mencontohkan, jika guru PAI yang dinyatakan lolos PPPK itu mulai aktif mengajar di sekolah sesuai dengan formasinya saat ini, maka jumlahnya akan dobel, karena guru PAI yang lama belum pindah sekolah lantaran tak mendapatkan tempat. Sebaliknya, ada juga sekolah yang berpotensi tak memiliki guru PAI karena telah pindah setelah dinyatakan lolos.

Zainul mencontohkan, di Kecamatan Mayang Jember, kebutuhan guru PAI jenjang SD dan SMP mencapai 20 pendidik. Dan hingga saat ini masih belum terpenuhi. “Setiap kecamatan itu jumlah kekurangan gurunya berbeda. Contoh di Kecamatan Mayang Jember. Jumlah lembaga ada 24 sekolah, sedangkan guru PAI yang ASN hanya ada empat. Jadi, kurang 20 orang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika dibikin rata-rata setiap kecamatan kebutuhan guru PAI sebanyak 15 orang, maka totalnya mencapai 435 guru untuk jenjang SD saja. Belum ditambah untuk jenjang SMP yang diperkirakan kebutuhannya mencapai 89 guru. Karenanya, jumlah keseluruhan mencapai 500 guru lebih hampir sama dengan yang tercatat dalam Dapodik. “Bahkan bisa mengembang menjadi 600 orang,” ucapnya.

Ketua Forum Honorer (FH) AGPAII Wilayah Jember Ali Dzamil mengatakan, pada 2022 mendatang akan ada 395 formasi guru agama yang diusulkan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember. Usulan ini untuk memenuhi kebutuhan guru PAI di Jember, baik jenjang SD maupun SMP.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/