Sekitar 60 Persen Lulusan SMK Nganggur

MUCHAMMAD AINUL BUDI / RADAR JEMBER CARI KERJA: Beberapa pelamar pekerjaan mencoba mendaftar dalam Job Fair SMK 2018 di SMKN 2 Jember, kemarin (27/8).

RADARJEMBER.ID – Banyaknya lulusan SMK yang tak terserap ke lapangan kerja membuat SMKN 2 Jember berupaya mencari solusi. Salah satunya, memperkecil angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) tamatan SMK dengan menggelar Job Matching atau Job Fair SMK.

IKLAN

Kegiatan rekrutmen pekerjaan ini digelar di aula SMKN 2 Jember yang bekerja sama dengan PT Top Karir Indonesia. Acara itu berlangsung selama tiga hari, mulai Senin kemarin (27/8) sampai besok.

Tercatat sebanyak 33 perusahaan turut serta dalam acara ini. Perusahaan yang membuka lowongan kerja tersebut adalah perusahaan nasional. Di tahun 2013 silam, SMKN 2 juga menggelar acara serupa. Tetapi, hanya melalui jalur luring (offline). Kini, ada dua jalur bagi para pelamar. Yakni secara daring (online) dan luring (offline). Calon tenaga kerja yang sudah mendaftar baik di daring (online) maupun luring (offline) akan langsung mengikuti tahap wawancara dan psikotes, kemarin.

Hingga pagi kemarin, pelamar yang sudah mendaftar secara luring (offline) mencapai 200 lebih. Tetapi untuk jalur daring (online) membeludak. “Sudah mencapai 8.000. Jumlahnya sangat tinggi,” ungkap Suyadi, wakil Humas SMKN 2 Jember kepada radarjember.id.

Dikatakannya, permasalahan pengangguran sudah menjadi problem klasik. Tak hanya di Jember saja, tetapi masalah besar bagi negeri ini. Angka pengangguran yang besar tak didukung dengan lahan pekerjaan yang sepadan.

Kata Suyadi, bicara tingkat pengangguran, sudah menjadi permasalahan nasional. “Di Jember, dari jumlah lulusan SMK per tahunnya yang ribuan, bisa sekitar 50 persen sampai 60 persen tingkat penganggurannya. Bahkan lebih,” jelasnya.

Persentasenya cukup tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Dengan berusaha menggandeng perusahaan-perusahaan nasional untuk bekerja sama. Data di Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran juga masih tinggi. Namun, data pengangguran tersebut belum tentu valid dalam mendata pengangguran yang sudah bekerja. “Jadi, kalau misalnya ada anak SMK jurusan mesin, tetapi dia sudah bekerja bukan di sektor mesin, dalam data BPS, dia masih berstatus pengangguran,” jelasnya.

Suyadi sangat berharap acara ini bisa memfasilitasi anak-anak yang ingin mencari pekerjaan. Dengan mendekatkan mereka kepada perusahaan, dan tidak mengeluarkan biaya sama sekali.

“Mereka juga bisa sharing sesama tamatan SMK. Dan yang jelas, menurunkan tingkat pengangguran yang ada,” imbuhnya.

Salah seorang pelamar asal Kencong, Jember, Nur Faizin cukup bersyukur dengan adanya job fair seperti ini. “Acara ini sangat bermanfaat untuk saya dan rekan-rekan lainnya yang sedang mencari pekerjaan. Agar cepat bekerja di perusahaan yang diinginkan,” ucapnya.

Reporter & Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :