alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Mahasiswa Pascasarjana Terbaik Raih IPK 4.0

Prestasi tak bisa lepas dari usaha yang dilakukan. Dalam yudisium kemarin, tiga mahasiswi Politeknik Negeri Jember (Polije) didaulat sebagai yudisi terbaik di kampusnya. Untuk bisa seperti itu, tentunya perlu usaha yang maksimal.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kegigihan tiga mahasiswa Polije berujung prestasi. Selain ada upaya yang maksimal, ada keringat yang menetes dan doa orang tua di rumah. Tiga mahasiswa itu adalah Aninatul Baidiyah, 22, Safira Mutiara Maulidina, 22, dan mahasiswa pascasarjana, Imroatul Khoiriyah.

BACA JUGA : Pilih Sekolah Swasta Imbas Persaingan Zonasi

Bagi Aninatul Baidiyah, predikat yudisi terbaik yang diraihnya pada Rabu (25/5) lalu tidak lepas dari hasil keringat serta usahanya. Perolehan IPK 3,87 membuktikan dirinya mampu bersaing dengan 70 mahasiswa seangkatan di prodinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan asal Probolinggo tersebut menceritakan, raihan predikat yudisi terbaik tersebut merupakan hasil dari usahanya selama ini. Dirinya bermodal keyakinan yang teguh, serta usaha yang tekun berangkat dari rumah dengan niat belajar. “Modal niat baik ingin belajar. Kalau sudah ada yang saya mau (cita-cita, Red) pasti saya kejar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Nina, sapaan akrabnya, merupakan perempuan yang perfeksionis dan ambisius. Salah satunya tecermin dalam kesehariannya yang harus membagi waktu antara tugas kuliah dengan organisasi. “Bagi saya, dengan membagi waktu di antara keduanya adalah kelebihan, karena ilmu kita tidak hanya stagnan di kelas saja,” imbuh Nina. Dia pun menjelaskan, konektivitas di organisasi cukup memberi wawasan dan pengalaman baru.

Salah satu cara belajar saat kuliah, menurutnya, mengulang setelah kegiatan kampus selesai. “Untuk speaking, saya biasanya monolog, seperti berbicara sendiri di depan cermin. Ngoceh sendiri kayak orang gila di depan cermin,” jelas Nina dengan wajah tersenyum.

Mahasiswi Prodi Bahasa Inggris tersebut juga menceritakan, perolehan prestasi yang ia dapatkan tentunya tidak lepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu memberikan support sehingga dirinya bisa berada di titik tersebut. “Orang tua saya bukan mendorong untuk nilai, melainkan untuk giat serta tidak separuh-separuh,” ujarnya. Menurutnya, IPK hanya angka, yang paling penting adalah skill. Perempuan ini pun pernah ikut perlombaan tingkat nasional dan internasional.

Mahasiswi kedua yang berprestasi adalah Safira Mutiara Maulidina. Dia menceritakan, perolehan prestasi yang dia dapat merupakan hasil dari jerih payahnya selama ini. “Kalau ingin dapat hasil yang maksimal, maka usahanya juga tidak boleh setengah-setengah,” jelas perempuan yang akrab disapa Safira tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kegigihan tiga mahasiswa Polije berujung prestasi. Selain ada upaya yang maksimal, ada keringat yang menetes dan doa orang tua di rumah. Tiga mahasiswa itu adalah Aninatul Baidiyah, 22, Safira Mutiara Maulidina, 22, dan mahasiswa pascasarjana, Imroatul Khoiriyah.

BACA JUGA : Pilih Sekolah Swasta Imbas Persaingan Zonasi

Bagi Aninatul Baidiyah, predikat yudisi terbaik yang diraihnya pada Rabu (25/5) lalu tidak lepas dari hasil keringat serta usahanya. Perolehan IPK 3,87 membuktikan dirinya mampu bersaing dengan 70 mahasiswa seangkatan di prodinya.

Perempuan asal Probolinggo tersebut menceritakan, raihan predikat yudisi terbaik tersebut merupakan hasil dari usahanya selama ini. Dirinya bermodal keyakinan yang teguh, serta usaha yang tekun berangkat dari rumah dengan niat belajar. “Modal niat baik ingin belajar. Kalau sudah ada yang saya mau (cita-cita, Red) pasti saya kejar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Nina, sapaan akrabnya, merupakan perempuan yang perfeksionis dan ambisius. Salah satunya tecermin dalam kesehariannya yang harus membagi waktu antara tugas kuliah dengan organisasi. “Bagi saya, dengan membagi waktu di antara keduanya adalah kelebihan, karena ilmu kita tidak hanya stagnan di kelas saja,” imbuh Nina. Dia pun menjelaskan, konektivitas di organisasi cukup memberi wawasan dan pengalaman baru.

Salah satu cara belajar saat kuliah, menurutnya, mengulang setelah kegiatan kampus selesai. “Untuk speaking, saya biasanya monolog, seperti berbicara sendiri di depan cermin. Ngoceh sendiri kayak orang gila di depan cermin,” jelas Nina dengan wajah tersenyum.

Mahasiswi Prodi Bahasa Inggris tersebut juga menceritakan, perolehan prestasi yang ia dapatkan tentunya tidak lepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu memberikan support sehingga dirinya bisa berada di titik tersebut. “Orang tua saya bukan mendorong untuk nilai, melainkan untuk giat serta tidak separuh-separuh,” ujarnya. Menurutnya, IPK hanya angka, yang paling penting adalah skill. Perempuan ini pun pernah ikut perlombaan tingkat nasional dan internasional.

Mahasiswi kedua yang berprestasi adalah Safira Mutiara Maulidina. Dia menceritakan, perolehan prestasi yang dia dapat merupakan hasil dari jerih payahnya selama ini. “Kalau ingin dapat hasil yang maksimal, maka usahanya juga tidak boleh setengah-setengah,” jelas perempuan yang akrab disapa Safira tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kegigihan tiga mahasiswa Polije berujung prestasi. Selain ada upaya yang maksimal, ada keringat yang menetes dan doa orang tua di rumah. Tiga mahasiswa itu adalah Aninatul Baidiyah, 22, Safira Mutiara Maulidina, 22, dan mahasiswa pascasarjana, Imroatul Khoiriyah.

BACA JUGA : Pilih Sekolah Swasta Imbas Persaingan Zonasi

Bagi Aninatul Baidiyah, predikat yudisi terbaik yang diraihnya pada Rabu (25/5) lalu tidak lepas dari hasil keringat serta usahanya. Perolehan IPK 3,87 membuktikan dirinya mampu bersaing dengan 70 mahasiswa seangkatan di prodinya.

Perempuan asal Probolinggo tersebut menceritakan, raihan predikat yudisi terbaik tersebut merupakan hasil dari usahanya selama ini. Dirinya bermodal keyakinan yang teguh, serta usaha yang tekun berangkat dari rumah dengan niat belajar. “Modal niat baik ingin belajar. Kalau sudah ada yang saya mau (cita-cita, Red) pasti saya kejar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Nina, sapaan akrabnya, merupakan perempuan yang perfeksionis dan ambisius. Salah satunya tecermin dalam kesehariannya yang harus membagi waktu antara tugas kuliah dengan organisasi. “Bagi saya, dengan membagi waktu di antara keduanya adalah kelebihan, karena ilmu kita tidak hanya stagnan di kelas saja,” imbuh Nina. Dia pun menjelaskan, konektivitas di organisasi cukup memberi wawasan dan pengalaman baru.

Salah satu cara belajar saat kuliah, menurutnya, mengulang setelah kegiatan kampus selesai. “Untuk speaking, saya biasanya monolog, seperti berbicara sendiri di depan cermin. Ngoceh sendiri kayak orang gila di depan cermin,” jelas Nina dengan wajah tersenyum.

Mahasiswi Prodi Bahasa Inggris tersebut juga menceritakan, perolehan prestasi yang ia dapatkan tentunya tidak lepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu memberikan support sehingga dirinya bisa berada di titik tersebut. “Orang tua saya bukan mendorong untuk nilai, melainkan untuk giat serta tidak separuh-separuh,” ujarnya. Menurutnya, IPK hanya angka, yang paling penting adalah skill. Perempuan ini pun pernah ikut perlombaan tingkat nasional dan internasional.

Mahasiswi kedua yang berprestasi adalah Safira Mutiara Maulidina. Dia menceritakan, perolehan prestasi yang dia dapat merupakan hasil dari jerih payahnya selama ini. “Kalau ingin dapat hasil yang maksimal, maka usahanya juga tidak boleh setengah-setengah,” jelas perempuan yang akrab disapa Safira tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/