alexametrics
24.1 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Wali Murid Khawatir Covid-19 Varian B117

Merespons Kebijakan PTM Jenjang SMA

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah menggelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di tiga SMA negeri berbeda, Jumat pekan lalu, awal pekan sejumlah SMA telah mulai menggelar pembelajaran di sekolah secara langsung. Langkah ini dilakukan setelah mendapat restu dari Ketua Satgas Covid-19 Jember yang sekaligus Bupati Jember Hendy Siswanto.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, salah satu sekolah yang mulai melaksanakan PTM adalah SMA Negeri 1 Jenggawah. Sekolah ini melakukan PTM secara terbatas sejak Senin awal pekan ini dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Secara infrastruktur, lembaga pendidikan ini juga sudah siap menyelenggarakan kebijakan baru tersebut.

Kepala SMA Negeri 1 Jenggawah Suryadi berharap, jika saat ini masih dilangsungkan secara terbatas, pada semester ganjil nanti pihaknya dapat melangsungkan PTM sepenuhnya. Total ada 542 siswa yang menempuh pendidikan di lembaga ini. Saat ini, yang diperbolehkan belajar di sekolah hanya 50 persennya. “Kami berharap tahun ajaran baru nanti dapat melangsungkan PTM secara penuh,” ungkapnya, kemarin (27/4).

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, di SMA Negeri Ambulu, kondisinya tak jauh berbeda. Hanya 50 persen siswa yang diperbolehkan masuk ke sekolah. Selebihnya mengikuti secara daring dan bergantian. Jadi, yang hari ini PTM, besok daring. Begitu sebaliknya. “Separuh-separuh atau bergantian. Dan sisanya kelompok kedua untuk keesokan harinya,” ujar Buang Susanto, guru di sekolah tersebut.

Selain menerapkan model PTM terbatas, pihak sekolah juga memberlakukan prokes yang cukup ketat. Baik guru maupun siswanya. Seperti pengecekan suhu tubuh, penyediaan sarana cuci tangan, dan bermasker. Bahkan beberapa guru dan siswa di antaranya juga melengkapi dengan face shield.

Kendati begitu, tidak semua sekolah memberlakukan PTM. Salah satunya adalah SMA Katolik Santo Paulus. Meski sekolah swasta ini menjadi satu dari tiga lembaga SMA yang dipilih sebagai uji coba, Jumat (23/4) lalu, namun mereka memilih melangsungkan PTM secara serentak pada semester ganjil atau tahun ajaran baru mendatang. Sebab, sebanyak 78-80 persen (sebelumnya tercatat 20 persen), wali murid tidak mengizinkan anaknya mengikuti PTM.

Alasannya, mereka khawatir dengan penyebaran korona saat ini. Bahkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, munculnya Covid-19 varian B117 dan meningkatnya pasien korona di India, menjadi faktor wali murid tidak setuju. “Terutama yang berasal dari luar Jember,” ungkap Antonius Denny Cahyo, Kepala SMA Katolik Santo Paulus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah menggelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di tiga SMA negeri berbeda, Jumat pekan lalu, awal pekan sejumlah SMA telah mulai menggelar pembelajaran di sekolah secara langsung. Langkah ini dilakukan setelah mendapat restu dari Ketua Satgas Covid-19 Jember yang sekaligus Bupati Jember Hendy Siswanto.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, salah satu sekolah yang mulai melaksanakan PTM adalah SMA Negeri 1 Jenggawah. Sekolah ini melakukan PTM secara terbatas sejak Senin awal pekan ini dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Secara infrastruktur, lembaga pendidikan ini juga sudah siap menyelenggarakan kebijakan baru tersebut.

Kepala SMA Negeri 1 Jenggawah Suryadi berharap, jika saat ini masih dilangsungkan secara terbatas, pada semester ganjil nanti pihaknya dapat melangsungkan PTM sepenuhnya. Total ada 542 siswa yang menempuh pendidikan di lembaga ini. Saat ini, yang diperbolehkan belajar di sekolah hanya 50 persennya. “Kami berharap tahun ajaran baru nanti dapat melangsungkan PTM secara penuh,” ungkapnya, kemarin (27/4).

Sementara itu, di SMA Negeri Ambulu, kondisinya tak jauh berbeda. Hanya 50 persen siswa yang diperbolehkan masuk ke sekolah. Selebihnya mengikuti secara daring dan bergantian. Jadi, yang hari ini PTM, besok daring. Begitu sebaliknya. “Separuh-separuh atau bergantian. Dan sisanya kelompok kedua untuk keesokan harinya,” ujar Buang Susanto, guru di sekolah tersebut.

Selain menerapkan model PTM terbatas, pihak sekolah juga memberlakukan prokes yang cukup ketat. Baik guru maupun siswanya. Seperti pengecekan suhu tubuh, penyediaan sarana cuci tangan, dan bermasker. Bahkan beberapa guru dan siswa di antaranya juga melengkapi dengan face shield.

Kendati begitu, tidak semua sekolah memberlakukan PTM. Salah satunya adalah SMA Katolik Santo Paulus. Meski sekolah swasta ini menjadi satu dari tiga lembaga SMA yang dipilih sebagai uji coba, Jumat (23/4) lalu, namun mereka memilih melangsungkan PTM secara serentak pada semester ganjil atau tahun ajaran baru mendatang. Sebab, sebanyak 78-80 persen (sebelumnya tercatat 20 persen), wali murid tidak mengizinkan anaknya mengikuti PTM.

Alasannya, mereka khawatir dengan penyebaran korona saat ini. Bahkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, munculnya Covid-19 varian B117 dan meningkatnya pasien korona di India, menjadi faktor wali murid tidak setuju. “Terutama yang berasal dari luar Jember,” ungkap Antonius Denny Cahyo, Kepala SMA Katolik Santo Paulus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setelah menggelar uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di tiga SMA negeri berbeda, Jumat pekan lalu, awal pekan sejumlah SMA telah mulai menggelar pembelajaran di sekolah secara langsung. Langkah ini dilakukan setelah mendapat restu dari Ketua Satgas Covid-19 Jember yang sekaligus Bupati Jember Hendy Siswanto.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, salah satu sekolah yang mulai melaksanakan PTM adalah SMA Negeri 1 Jenggawah. Sekolah ini melakukan PTM secara terbatas sejak Senin awal pekan ini dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Secara infrastruktur, lembaga pendidikan ini juga sudah siap menyelenggarakan kebijakan baru tersebut.

Kepala SMA Negeri 1 Jenggawah Suryadi berharap, jika saat ini masih dilangsungkan secara terbatas, pada semester ganjil nanti pihaknya dapat melangsungkan PTM sepenuhnya. Total ada 542 siswa yang menempuh pendidikan di lembaga ini. Saat ini, yang diperbolehkan belajar di sekolah hanya 50 persennya. “Kami berharap tahun ajaran baru nanti dapat melangsungkan PTM secara penuh,” ungkapnya, kemarin (27/4).

Sementara itu, di SMA Negeri Ambulu, kondisinya tak jauh berbeda. Hanya 50 persen siswa yang diperbolehkan masuk ke sekolah. Selebihnya mengikuti secara daring dan bergantian. Jadi, yang hari ini PTM, besok daring. Begitu sebaliknya. “Separuh-separuh atau bergantian. Dan sisanya kelompok kedua untuk keesokan harinya,” ujar Buang Susanto, guru di sekolah tersebut.

Selain menerapkan model PTM terbatas, pihak sekolah juga memberlakukan prokes yang cukup ketat. Baik guru maupun siswanya. Seperti pengecekan suhu tubuh, penyediaan sarana cuci tangan, dan bermasker. Bahkan beberapa guru dan siswa di antaranya juga melengkapi dengan face shield.

Kendati begitu, tidak semua sekolah memberlakukan PTM. Salah satunya adalah SMA Katolik Santo Paulus. Meski sekolah swasta ini menjadi satu dari tiga lembaga SMA yang dipilih sebagai uji coba, Jumat (23/4) lalu, namun mereka memilih melangsungkan PTM secara serentak pada semester ganjil atau tahun ajaran baru mendatang. Sebab, sebanyak 78-80 persen (sebelumnya tercatat 20 persen), wali murid tidak mengizinkan anaknya mengikuti PTM.

Alasannya, mereka khawatir dengan penyebaran korona saat ini. Bahkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, munculnya Covid-19 varian B117 dan meningkatnya pasien korona di India, menjadi faktor wali murid tidak setuju. “Terutama yang berasal dari luar Jember,” ungkap Antonius Denny Cahyo, Kepala SMA Katolik Santo Paulus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/