Terinspirasi dari Tiongkok, Kerja Tim dengan Mahasiswa IT

Mahasiswa Polije Ciptakan Aquaponik Kontrol Jarak Jauh

PETANI MODERN: Dari kiri, M Faqih, Amalia Azhari, dan Davidy, mahasiswa Polije yang mengembangkan pertanian di lahan sempit dengan aquaponik.(DAVIDY FOR RADAR JEMBER)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pengembangan pertanian hidroponik sudah biasa, banyak yang melakukannya. Namun, aquaponik yang dikembangkan oleh mahasiswa ini masih jarang. Yakni tanaman yang memanfaatkan tenaga surya dan sistem kontrol lewat jarak jauh.

IKLAN

Menuju rumah Davidy Aly Wafa, suasananya terasa sejuk karena banyak pepohonan. Rumahnya dikenal sebagai penghasil sayuran hijau yang berkualitas dan siap untuk memasok ke beberapa hotel. Jenis sayuran hijau seperti selada adalah salah satu sayur yang menjadi primadona.

Hasil sayurannya bukan dari sawah pertanian pada umumnya. Namun, dengan media tanam. Di halaman rumahnya ada dua kolam ikan, di atasnya terdapat pipa paralon sebagai media tanam aquaponik.

Mahasiswa Polije ini dikenal masyarakat sebagai mahasiswa berprestasi dan petani muda di sana. Tapi, menjadi petani aquaponik tidak akan berjalan tanpa kerja tim.

“Saya, M Faqih, Rohmaan, Naufal Aby, dan Bagas, kerja bareng membuat program kompetisi bisnis mahasiswa Indonesia dengan budi daya sayuran dan ikan berbasis aquaponik,” jelas mahasiswa yang pernah terpilih dalam program pertukaran mahasiswa di Tiongkok ini.
Perbedaan aquaponik dengan hidroponik adalah ada pemanfaatan ikan pada air yang didistribusikan ke tanaman. Cara tersebut dipakai, karena aquaponik merupakan suatu kombinasi sistem aquakultur dan budi daya tanaman hidroponik yang menggunakan nutrisi dari amoniak hasil metabolisme ikan.

“Pada sistem ini, ikan dan tanaman tumbuh dalam satu sistem yang terintegrasi dan menciptakan suatu simbiotik antara keduanya. Jadi, meminimalisasi limbah nitrogen dari sisa metabolisme ikan,” terangnya.

Teknologi aquaponik merupakan alternatif untuk mendapatkan hasil pertanian dan perikanan secara bersamaan. Teknologi ini merupakan teknologi terapan hemat lahan dan air, sehingga dapat dijadikan sebagai model perikanan di lahan sempit.
Dia memilih bidang pertanian, kata Davidy, karena selama ini pertanian jadi sektor penopang pembangunan nasional. Apalagi, pertanian selalu dianggap sebagai bidang inferior dan kotor. “Lahan pertanian semakin sempit, kalangan milenial juga makin berkurang. Kalau seperti ini terus, bisa jadi Indonesia tidak berdaulat soal pangan, padahal potensinya besar,” terangnya.

Menariknya, untuk mengontrol aquaponik karya lima mahasiswa Polije ini, tidak perlu langsung ke lokasi, cukup lewat HP dan pakai tenaga surya. Peralatan yang digunakan ada pompa, TDS meter, sensor, Arduino Wemos D1, wifi, dan solar cell. “Jadi, ramah lingkungan, pakai tenaga surya,” ujarnya.

Otomatisasi dalam sistem pengendalian tanaman itu dilakukan karena kelima mahasiswa itu sibuk dengan aktivitas perkuliahan. “Proses budi daya dari hasil otomatisasi tersebut lebih mudah walaupun tidak sedang berada di lokasi budi daya,” imbuhnya.
Pengendalian jarak jauh lewat HP itu terinspirasi saat mengikuti pertukaran mahasiswa di Tiongkok. Davidy mencoba mengaplikasikan ide tersebut selalu gagal dan gagal. Akhirnya, mahasiswa Jurusan Manajemen Agrobisnis tersebut mulai membentuk tim dan bekerja bersama-sama.

Tim tersebut berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Mulai dari Pertanian hingga Teknologi Informasi. Akhirnya, otomatisasi bisa berjalan sesuai harapan. Pengembangannya juga pada analisis usaha yang menunjukkan keuntungan lebih besar. “Usaha ini layak untuk dijalankan dan dikomersialkan,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi