Cegah Paham Radikalisme pada Maba

Bagus Supriadi/Radar Jember DISKUSI RADIKALISME: Abdullah Syamsul Arifin, ketua Tanfidziyah PCNU Jember ikut bicara soal paham radikalisme, di Universitas Jember kemarin.

RADARJEMBER.ID – Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik (Fisip) Universitas Jember tak mau kecolongan mahasiswa soal paham radikalisme. Untuk itu, mahasiswa baru itu dibentengi dari ideologi radikal. Mereka dikumpulkan dalam kuliah umum  dengan mendatangkan mantan terorisme.

IKLAN

Kuliah umum dengan tema Anti Radikalisme dan Anti Terorisme dalam Menjaga Keutuhan NKRI itu mendatangkan Solihuddin Nasution, Kasubdit Bina Masyarakat, Direktorat Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Abdullah Syamsul Arifin Ketua Tanfidziyah PCNU Jember dan Kapolres Jember AKPB Kusworo Wibowo sebagai narasumber. Diskusi itu dilakukan di Gedung Soetardjo (25/9).

“Sekitar dua tahun lalu, ada  salah satu mahasiswa  di Jember yang hampir menjadi pengantin bom bunuh diri,” kata Kusworo Wibowo. Namun dia tidak menyebut dari kampus mana. Mahasiswa itu berasal dari Malang dan sudah diminta untuk membuat surat wasiat.

Namun, dia sempat berdiskusi dengan orangtuanya. Orang tua tersebut pun menceritakan perihal anaknya pada salah seorang pejabat lalu dibawa ke polres. Untung saja, anak itu akhirnya sadar dan tidak jadi pengantin.

Menurut dia, kasus itu ditindaklanjuti hingga kerja sama dengan Polda Jatim, kemudian berhasil di bongkar. “Bagi orang yang berpaham radikal itu, polisi dinilai toghut atau kafir harbi, yang halal darahnya,” jelas Kusworo.

Dalam memahami ayat Alquran, kaum radikalis mengambil ayat secara tidak utuh, hanya sepotong yang sesuai dengan visi-misi mereka. Padahal, setelah ayat itu ada kelanjutannya. “Ciri-ciri paham radikal, tinggalkan  kuliah, sekolah dan pekerjaan,” ujarnya.

Sebab, mindset mereka sudah berubah. Tidak ada hal yang lebih penting dari dibanding menjalankan ajaran agamanya, seperti jihad bunuh diri. “Secara mental mereka jadi tertutup dan tidak mau berdiskusi, menganggap di luar kelompok kafir, bahkan mengkafirkan keluarganya sendiri,” tambahnya.

Upaya pencegahan gerakan radikalisme itu meliputi pendekatan secara halus dan keras. Seperti penangkapan jaringan terorisme. Kemudian Kontra-radikal yakni menjaga lingkungan agar tidak terkena paham radikal. Lalu deradikalisasi, menurunkan radikalisme yang terjadi.

Beberapa tempat yang menjadi target paham radikalisme seperti perguruan tinggi, lembaga pemasyarakatan dan rumah sakit. Untuk itu, dosen dan mahasiswa harus membentengi diri. “Jangan belajar agama sendiri lewat internet, khawatir salah. Karena penyebaran radikal melalui internet,” tuturnya.

Bila ada yang melihat gejala gerakan radikalisme, harus segera menyampaikan pada aparat penegak hukum. Sebab kalau diam, sama dengan membiarkan kelompok radikalisme itu menjadi besar dan mengancam keutuhan  negara.

Sementara itu Solihuddin Nasution, Kasubdit Bina Masyarakat, Direktorat Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) biasa membina yang sudah terpapar. “Orang bisa terpapar karena kedangkalan ilmu pengetahuan dan daya analisis yang kurang,” imbuhnya.

Kemudian, karena faktor kemiskinan,  balas dendam dan sakit hati serta rasa yang tidak puas terhadap pemerintah. Mereka melakukan doktrin melalui kelemahan yang dimiliki. Salah satu cara melakukan indoktrinasi itu melalui media sosial.

“Radikalisme terjadi karena adanya kesenjangan antara idealitas dan realitas,” tambah Abdullah Syamsul Arifin. Menurut dia, kekerasan atas nama agama itu terjadi karena menilai Islam sebagai agama luhur yang tidak bisa diungguli oleh siapa pun. Namun fakta yang terjadi Umat Islam masih terjajah dari berbagai sisi, terutama ekonomi.

Selain itu, juga karena tidak puas dengan kepemimpinan yang ada. Mereka berkeinginan untuk mengambil alih kekuasaan dengan cara yang cepat. Akhirnya melakukan kekerasan yang tidak bisa dibenarkan. “Faktor lain salah paham terhadap teks keagamaan,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :