Prinsipnya, Sesibuk Apa pun Harus Tetap Mengaji

Penghafal Alquran yang Jadi Penulis Skripsi Terbaik

Mahasiswi Jurusan Bimbingan Islam (BKI) Fakultas Dakwah IAIN Jember ini harus pandai mengelola waktu. Sebab, selain kewajiban kuliah, juga ikut organisasi. Dia mengalokasikan waktu untuk menghafal Alquran.

INSPIRATIF: Maslahatul Nikmah, mahasiswa IAIN Jember yang borong penghargaan saat pelaksanaan Yudisium Fakultas Dakwah

RADAR JEMBER.ID – Usia muda memang harus diisi dengan prestasi yang gemilang dan berkarya. Sebab, tenaga dan pikiran masih segar. Begitu pula yang dilakukan oleh Maslahatul Nikmah, dia tak ingin masa mudanya berlalu dengan sia-sia.

IKLAN

Pada Yudisium Fakultas Dakwah kemarin  (26/8), perempuan kelahiran Banyuwangi itu meraih predikat sebagai penulis skripsi dan peserta yudisium terbaik Fakultas Dakwah IAIN Jember. Pencapaian itu tak diraih dengan instan, namun melalui kerja keras.

Putri ketiga dari empat bersaudara anak pasangan Suhaini Ibrahim dan Rihanah itu dinilai cerdas. Sebab, dia telah membuktikan bahwa aktif di berbagai organisasi tak memengaruhi waktu lulus kuliahnya. Studi strata satu ditempuh selama  delapan semester.

Bahkan, di sela tugas kampusnya, organisasi dan hafalan Alqurannya dia tekuni. Hal itu menjadi penilaian tersendiri sehingga menjadi peraih peserta yudisium terbaik.

Selama kuliah, Nikmah mengaku sempat aktif di berbagai organisasi intra maupun ekstra. Seperti Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bimbingan Konseling Islam (BKI), Organisasi Bidikmisi, dan Institut Of Culture Of Islamic Studies (ICIS) AIIN Jember.

Semua organisasi itu banyak memberikan pengaruh dan kesan tersendiri baginya. Banyak memberikan pengalaman dan relasi. Kuliah dianggapnya sebagai kewajiban, sedangkan organisasi dianggapnya sebagai pilihan. Prinsip yang dipakai selama kuliah, sesibuk apa pun harus tetap mengaji. “Walaupun sedikit, yang penting tetap setoran.  Prinsip saya, apa pun yang sudah dimulai, maka harus diselesaikan,” terangnya.

Menurut dia, ketika menghafal Alquran, Nikmah bertekad menyelesaikannya. Begitu pula saat bermimpi menjadi wisudawan terbaik, dia juga mencapainya dengan lulus tepat waktu dan memaksimalkan potensi dalam membuat skripsi.

Selama masa kuliah, terutama saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lapas, dia mengajari narapidana.  “Kita diajari bagaimana berkomunikasi dengan baik, tidak suuzon terlebih dahulu,” jelasnya.

Mampu menghafal Alquran 30 juz, merupakan rida dari orang tuanya. Target selanjutnya, Nikmah  ingin melanjutkan studi S-2. “Saya harus dapat beasiswa, karena saya tidak ingin merepotkan orang tua. Saya mau tempuh beasiswa LPDP,” ungkapnya penuh harap.

Bahkan, perempuan 25 tahun itu pun akan menikah meskipun nanti bisa melanjutkan studi  S-2. “Karena menikah itu juga bagian dari ibadah. Jadi, kalaupun kita belajar sambil ibadah, insayallah berlipat ganda pahalanya,” imbuhnya.

Selain itu, apa yang dicapainya saat ini ingin didedikasikan pada skala yang lebih luas. Menurutnya, bisa bermanfaat untuk diri sendiri saja belum cukup, namun yang lebih utama bisa bermanfaat untuk sesama, terlebih kepada bangsa agama dan negara.

“Saya banyak menikmati masa kuliah, berorganisasi, belajar, mengahafal, dan masa lajang. Jangan sampai potensi diri itu dirongrong oleh hal-hal yang sepele. Jadi, saya pun tidak takut untuk membuat mimpi itu nyata,” pungkasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi