10 Nama Ramaikan Pilrek Unej

MULAI DAFTAR: Zulfikar, Wadek 1 Unej, mulai mendaftarkan diri di hari terakhir. Selain Zulfikar, juga ada nama Prof Bambang Kuswandi menjadi pendaftar ke sepuluh dan terakhir, kemarin (26/8), di Gedung Rektorat Unej.

RADAR JEMBER.ID – Para pendaftar bakal calon (Bacalon) Rektor Universitas Jember bertambah menjadi sepuluh kandidat. Sebagian dari mereka mendaftarkan diri pada hari terakhir, kemarin (26/8). Jumlah total mencapai sepuluh kandidat yang bakal meramaikan pemilihan rektor Kampus Tegalboto tersebut.

IKLAN

Sepuluh pendaftar ini menjadi rekor tersendiri bagi Unej. Sebab, selama ini pendaftarnya tak sampai lima kandidat. Namun, sekarang mencapai sepuluh orang.  Sebelum pendaftaran terakhir, sudah ada tiga nama yang mendaftar, yaitu Prof Davik, Dr Nurul Gufron, dan Dr Djoko Poernomo.

Sementara itu, di hari terakhir, dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Dr Ir Iwan Taruna, mendaftarkan diri di pagi hari. Kemudian, saat istirahat siang hingga sore hari, disusul oleh pendaftar yang berasal dari berbagai jabatan di Unej, mulai dari dosen hingga warek I.

Yakni Warek I Zulfikar Phd, Dr Kahar Muzakar (dosen Fakultas MIPA), Dr drg I Dewa Ayu Susilawati (wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Gigi), Prof Bambang Sujanarko (dosen Fakultas Teknik), Dr Agus Lutfi (dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis), serta Prof Bambang Kuswandi (dosen Fakultas Farmasi).

Sekitar pukul 17.00, Prof Bambang Kuswandi menyerahkan berkas untuk mendaftarkan diri sebagai Bacarek Unej. Dia baru sempat datang ke ruang panitia Pilrek Unej di Gedung Rektorat, tapi hanya meminta persyaratannya. Sebab, mantan  dekan Farmasi Unej tersebut baru tiba dari Melbourne, Australia. “Saya habis dari penelitian di luar negeri. Info dari teman-teman, hari ini (kemarin, Red) terakhir. Saya hanya meramaikan saja,” katanya.

Sebenarnya, ada satu nama lagi yang hendak mendaftarkan diri. Dipantau dari Unit Medical Center (UMC), Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Dr Muhamad Miqdad sempat melakukan tes kesehatan. Namun, keinginan mendaftarkan diri rasanya diurungkan. “Saya dan Pak Miqdad sudah komunikasi dengan baik dan bijaksana untuk yang terbaik.  Beliau tidak jadi mendaftarkan diri,” kata Dr Agus Lutfi, dosen FEB Unej.

Panita pilrek, Dr Moch Ali mengaku, pada injury time, sangat banyak yang mendaftar. Awalnya, yang santer mendaftar hanya lima orang, karena dilihat dari tes kesehatan di UMC. Ternyata, pada hari terakhir jumlah pendaftar semakin banyak, bahkan juga ada perempuan, yaitu dari Wakil Dekan (Wadek) 1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Dia mengaku, 10 orang yang mendaftar itu terbanyak sepanjang Pilrek Unej. Biasanya, kata dia, tiga sampai dua orang yang mendaftar.

Dia menjelaskan, untuk sepuluh nama yang mendaftar tersebut belum tentu bisa lolos menjadi bacarek. “Kami akan seleksi administrasinya terlebih dahulu,” katanya. Mereka yang lolos administrasi juga belum pasti bisa dipilih, tapi ada tahap penyaringan terbuka dan tertutup untuk ditetapkan sebagai calon rektor. “Calon rektor itu nanti disusutkan menjadi tiga orang saja,” tambahnya.

Sementara itu, Pilrek Universitas Muhammadiyah Jember periode 2019-2024 diikuti oleh tiga calon yang diusulkan oleh 27 anggota Senat Unmuh. Mereka adalah Hanafi, Muhammad Hazmi, dan Emy Kholifah. Berkas ketiga kandidat tersebut akan dilimpahkan ke pusat untuk diputuskan oleh Majelis Dewan Syuro Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah.

Juanda, ketua panitia Pilrek Unmuh Jember mengatakan, model pemilihan rektor di kampusnya berbeda dengan kampus negeri atau swasta lainnya. Para calon tidak bisa mengusung dirinya, dan mereka harus diusung oleh pihak lain. Seperti dari unsur Pengurus Muhammadiyah, Organisasi Mahasiswa (Ormawa), senat, dekanat, maupun pegawai. “Kalau di negeri, menteri itu punya porsi suara. Kalau di internal kami, semua diputuskan lewat Musyawarah PP Muhammadiyah,” katanya.

Meskipun ada unsur demokrasi, hal itu dimaksudkan hanya ada pada level penjaringan calon. Sedangkan di tingkat PP digunakan sistem musyawarah.

Dia menjelaskan, kriteria calon yang dianggap layak sebagai kandidat kuat bisa dilihat dari rekam jejak mereka. Baik ketika berada di ranting, cabang, wilayah, maupun di pusat. Kiprah dan sumbangsih mereka dalam pergerakan perserikatan Muhammadiyah dianggap sangat menentukan putusan pengurus pusat. “Semua amal-amal usaha itu milik pusat. Begitu juga dengan segala mekanisme yang  juga diatur oleh PP,” imbuhnya.

Bahkan, presentasi wewenang dari senat pun bisa dianggap tidak ada. Sebab, menurut Juanda, PP Muhammadiyah tidak mengenal suara tersebut. Mereka diberikan wewenang sebatas mengusulkan atau menjaring, begitu dengan peran dari senat kampus. “Wilayah demokrasi itu menghasilkan angka-angka yang diusung oleh senat, atau cabang atau wilayah. Ketika sudah sampai ke pusat, maka sudah tidak ada lagi angka-angka pertimbangan itu. Artinya, sudah di-goal-kan melalui Majelis Dikti PP,” paparnya.

Dia mencontohkan pemilihan rektor yang calonnya hanya mendapat satu suara dari senat, tapi PP menetapkannya sebagai rektor terpilih. “Karena suara senat kemarin itu hanya menjadi penghantar, calon dibawa namanya hingga pusat. Peluangnya sama, itulah Majelis Musyawarahnya PP, dan itu siapa pun tidak ada bisa mengintervensi,” imbuhnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui pasti kapan keputusan rektor terpilih dari pusat akan turun. Mengingat masa bakti rektor aktif saat ini masih sampai awal Oktober 2019 mendatang. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi