alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sempat Redup Sepeninggal Pendiri Ponpes

Mobile_AP_Rectangle 1

PAKUSARI, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Bustanul Ulum (IBU) yang berada di Kecamatan Pakusari, Jember, menyimpan banyak sejarah perjuangan sampai semegah sekarang. Ponpes ini awalnya hanya sebuah musala sederhana. Kiai Kholish, pendirinya, juga sempat terbatas dengan mengajar mengaji masyarakat setempat. Belakangan, ponpes tersebut terus berkembang dan maju.

Baca Juga : Malam 29 Ramadan Puluhan Pasangan Usia Dini Siap Nikah

Pada tahun 1965 musala yang terbuat dari gedek tersebut mulai banyak dipakai belajar mengaji oleh para santri. Kiai Kholish selanjutnya mulai mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) pada tahun 1974, sebagai lembaga formal pertama di Pesantren Bustanul Ulum. Lembaga ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kala itu, yakni hanya dibangun 3 kelas MI.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Awalnya santri yang masuk di lembaga formal tersebut masih sekitar 17 orang. Dengan tiga kelas MI itu sebagai awal pendirian sekolah formal di Bustanul Ulum,” kata Ning Qurrota A’yun, putri Pengasuh Ponpes Bustanul Ulum Kiai Hafidi.

Menurut A’yun, panggilan akrabnya, perjalanan pesantren ini tidak semulus yang dikira. Sempat mengalami kemerosotan yang drastis setelah sang pendiri, Kiai Kholish, wafat meninggalkan keluarganya. Pada masa itu, sampai dicap sebagai masa keredupan bagi Pesantren Islam Bustanul Ulum Pakusari. Santri mulai pindah ke lembaga lain untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa bilik pesantren pun mulai dikosongkan. Bahkan, musala cikal bakal kelahiran pesantren tersebut dipenuhi kelelawar. Hampir tidak ada kesan bekas pesantren.

Namun, habis gelap terbitlah terang. Keluarga pesantren yang sangat prihatin dengan kondisi tersebut mulai memikirkan untuk menghidupkan kembali lembaga pendidikan yang dirintis Kiai Kholish. “Setelah itu, Kiai Hafidi, putra Kiai Kholish, mendirikan YPIBU untuk membuat manajemen pendidikan yang baik. Kemudian, dibangun sekolah formal yang lainnya,” jelas A’yun kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pada tahun 2006, Kiai Hafidi dengan dukungan tokoh masyarakat yang lain mendirikan SMP IBU yang ruang kelasnya masih bergantian dengan MI. “Jadi, kalau pagi itu MI yang masuk, sedangkan siangnya baru SMP-nya, karena gedungnya ga memadai waktu itu,” terangnya. Sedikit demi sedikit pembangunan mulai digarap di pesantren tersebut.

Tak berhenti di situ, pada tahun 2009 diresmikan SMK IBU sebagai lembaga formal tingkat menengah kejuruan sederajat dengan SMA. “Awal berdiri belum punya gedung. Jadi, numpang ke MI atau SMP. Kadang pembelajaran dilakukan di gubuk pesantren,” ungkapnya.

Dari dulu sampai sekarang, Pesantren Islam Bustanul Ulum menerima santri dan siswa dengan gratis. “Mereka sekolah juga gratis, terutama fakir miskin,” kata Heriyanto, tenaga keamanan Pesantren IBU. Pihaknya mengatakan, siswa fakir miskin yang mendaftar langsung masuk tanpa tes. Namun, seluruh santri dan siswa yang sekolah di Pesantren IBU harus disiplin. “Semua siswa dan santri harus mengikuti aturan pesantren. Jika tidak, dan melanggar kontrak, akan dikeluarkan tanpa syarat,” ungkapnya.

- Advertisement -

PAKUSARI, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Bustanul Ulum (IBU) yang berada di Kecamatan Pakusari, Jember, menyimpan banyak sejarah perjuangan sampai semegah sekarang. Ponpes ini awalnya hanya sebuah musala sederhana. Kiai Kholish, pendirinya, juga sempat terbatas dengan mengajar mengaji masyarakat setempat. Belakangan, ponpes tersebut terus berkembang dan maju.

Baca Juga : Malam 29 Ramadan Puluhan Pasangan Usia Dini Siap Nikah

Pada tahun 1965 musala yang terbuat dari gedek tersebut mulai banyak dipakai belajar mengaji oleh para santri. Kiai Kholish selanjutnya mulai mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) pada tahun 1974, sebagai lembaga formal pertama di Pesantren Bustanul Ulum. Lembaga ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kala itu, yakni hanya dibangun 3 kelas MI.

“Awalnya santri yang masuk di lembaga formal tersebut masih sekitar 17 orang. Dengan tiga kelas MI itu sebagai awal pendirian sekolah formal di Bustanul Ulum,” kata Ning Qurrota A’yun, putri Pengasuh Ponpes Bustanul Ulum Kiai Hafidi.

Menurut A’yun, panggilan akrabnya, perjalanan pesantren ini tidak semulus yang dikira. Sempat mengalami kemerosotan yang drastis setelah sang pendiri, Kiai Kholish, wafat meninggalkan keluarganya. Pada masa itu, sampai dicap sebagai masa keredupan bagi Pesantren Islam Bustanul Ulum Pakusari. Santri mulai pindah ke lembaga lain untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa bilik pesantren pun mulai dikosongkan. Bahkan, musala cikal bakal kelahiran pesantren tersebut dipenuhi kelelawar. Hampir tidak ada kesan bekas pesantren.

Namun, habis gelap terbitlah terang. Keluarga pesantren yang sangat prihatin dengan kondisi tersebut mulai memikirkan untuk menghidupkan kembali lembaga pendidikan yang dirintis Kiai Kholish. “Setelah itu, Kiai Hafidi, putra Kiai Kholish, mendirikan YPIBU untuk membuat manajemen pendidikan yang baik. Kemudian, dibangun sekolah formal yang lainnya,” jelas A’yun kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pada tahun 2006, Kiai Hafidi dengan dukungan tokoh masyarakat yang lain mendirikan SMP IBU yang ruang kelasnya masih bergantian dengan MI. “Jadi, kalau pagi itu MI yang masuk, sedangkan siangnya baru SMP-nya, karena gedungnya ga memadai waktu itu,” terangnya. Sedikit demi sedikit pembangunan mulai digarap di pesantren tersebut.

Tak berhenti di situ, pada tahun 2009 diresmikan SMK IBU sebagai lembaga formal tingkat menengah kejuruan sederajat dengan SMA. “Awal berdiri belum punya gedung. Jadi, numpang ke MI atau SMP. Kadang pembelajaran dilakukan di gubuk pesantren,” ungkapnya.

Dari dulu sampai sekarang, Pesantren Islam Bustanul Ulum menerima santri dan siswa dengan gratis. “Mereka sekolah juga gratis, terutama fakir miskin,” kata Heriyanto, tenaga keamanan Pesantren IBU. Pihaknya mengatakan, siswa fakir miskin yang mendaftar langsung masuk tanpa tes. Namun, seluruh santri dan siswa yang sekolah di Pesantren IBU harus disiplin. “Semua siswa dan santri harus mengikuti aturan pesantren. Jika tidak, dan melanggar kontrak, akan dikeluarkan tanpa syarat,” ungkapnya.

PAKUSARI, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Islam Bustanul Ulum (IBU) yang berada di Kecamatan Pakusari, Jember, menyimpan banyak sejarah perjuangan sampai semegah sekarang. Ponpes ini awalnya hanya sebuah musala sederhana. Kiai Kholish, pendirinya, juga sempat terbatas dengan mengajar mengaji masyarakat setempat. Belakangan, ponpes tersebut terus berkembang dan maju.

Baca Juga : Malam 29 Ramadan Puluhan Pasangan Usia Dini Siap Nikah

Pada tahun 1965 musala yang terbuat dari gedek tersebut mulai banyak dipakai belajar mengaji oleh para santri. Kiai Kholish selanjutnya mulai mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) pada tahun 1974, sebagai lembaga formal pertama di Pesantren Bustanul Ulum. Lembaga ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kala itu, yakni hanya dibangun 3 kelas MI.

“Awalnya santri yang masuk di lembaga formal tersebut masih sekitar 17 orang. Dengan tiga kelas MI itu sebagai awal pendirian sekolah formal di Bustanul Ulum,” kata Ning Qurrota A’yun, putri Pengasuh Ponpes Bustanul Ulum Kiai Hafidi.

Menurut A’yun, panggilan akrabnya, perjalanan pesantren ini tidak semulus yang dikira. Sempat mengalami kemerosotan yang drastis setelah sang pendiri, Kiai Kholish, wafat meninggalkan keluarganya. Pada masa itu, sampai dicap sebagai masa keredupan bagi Pesantren Islam Bustanul Ulum Pakusari. Santri mulai pindah ke lembaga lain untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa bilik pesantren pun mulai dikosongkan. Bahkan, musala cikal bakal kelahiran pesantren tersebut dipenuhi kelelawar. Hampir tidak ada kesan bekas pesantren.

Namun, habis gelap terbitlah terang. Keluarga pesantren yang sangat prihatin dengan kondisi tersebut mulai memikirkan untuk menghidupkan kembali lembaga pendidikan yang dirintis Kiai Kholish. “Setelah itu, Kiai Hafidi, putra Kiai Kholish, mendirikan YPIBU untuk membuat manajemen pendidikan yang baik. Kemudian, dibangun sekolah formal yang lainnya,” jelas A’yun kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pada tahun 2006, Kiai Hafidi dengan dukungan tokoh masyarakat yang lain mendirikan SMP IBU yang ruang kelasnya masih bergantian dengan MI. “Jadi, kalau pagi itu MI yang masuk, sedangkan siangnya baru SMP-nya, karena gedungnya ga memadai waktu itu,” terangnya. Sedikit demi sedikit pembangunan mulai digarap di pesantren tersebut.

Tak berhenti di situ, pada tahun 2009 diresmikan SMK IBU sebagai lembaga formal tingkat menengah kejuruan sederajat dengan SMA. “Awal berdiri belum punya gedung. Jadi, numpang ke MI atau SMP. Kadang pembelajaran dilakukan di gubuk pesantren,” ungkapnya.

Dari dulu sampai sekarang, Pesantren Islam Bustanul Ulum menerima santri dan siswa dengan gratis. “Mereka sekolah juga gratis, terutama fakir miskin,” kata Heriyanto, tenaga keamanan Pesantren IBU. Pihaknya mengatakan, siswa fakir miskin yang mendaftar langsung masuk tanpa tes. Namun, seluruh santri dan siswa yang sekolah di Pesantren IBU harus disiplin. “Semua siswa dan santri harus mengikuti aturan pesantren. Jika tidak, dan melanggar kontrak, akan dikeluarkan tanpa syarat,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/