
RADAR JEMBER – Forum Penyelamat UINSA (FPU) mendesak Menteri Agama RI segera memberikan kepastian mengenai pengangkatan dan pelantikan Rektor definitif Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Ketidakpastian kepemimpinan dinilai berpotensi mengganggu tata kelola dan pengambilan keputusan strategis di lingkungan kampus.
Desakan tersebut disampaikan FPU melalui surat terbuka kepada Menteri Agama RI tertanggal 8 Agustus 2026. Forum yang mengatasnamakan alumni, warga sivitas akademika, serta warga Nahdlatul Ulama yang peduli terhadap UINSA itu juga menyatakan menolak pengangkatan kembali Prof. Akh. Muzakki sebagai rektor untuk periode berikutnya.
Koordinator FPU Suhermanto Ja’far menyatakan, proses pengisian jabatan Rektor UINSA sebelumnya telah melalui sejumlah tahapan kelembagaan, termasuk proses di tingkat senat universitas dan penyampaian nama calon ke Kementerian Agama.
Karena itu, FPU mempertanyakan belum adanya kepastian mengenai siapa yang akan memimpin UINSA secara definitif.
“UINSA membutuhkan kepastian mengenai siapa yang akan memimpin universitas secara definitif, bukan ketidakpastian kepemimpinan yang berkepanjangan,” demikian salah satu poin dalam surat tersebut.
FPU meminta Kementerian Agama memberikan penjelasan secara terbuka apabila terdapat persoalan administratif, hukum, maupun kelembagaan yang menyebabkan proses penetapan rektor definitif belum dapat diselesaikan.
Menurut FPU, kepastian kepemimpinan penting karena berkaitan dengan stabilitas organisasi, pengambilan keputusan strategis, pelayanan akademik, pengelolaan sumber daya, hingga kepercayaan sivitas akademika.
FPU juga berpandangan bahwa mekanisme pelaksana tugas (Plt) semestinya hanya digunakan sebagai instrumen transisi. Karena itu, mereka meminta Kementerian Agama tidak terus memperpanjang kepemimpinan sementara melalui pergantian Plt apabila secara administratif dan hukum tidak terdapat hambatan untuk menetapkan rektor definitif.
Tolak Incumbent




