alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Menjalani Pendidikan di Tengah Konflik PKI

Mobile_AP_Rectangle 1

CANGKRING, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Madinatul Ulum berdiri di tengah situasi konflik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Ponpes yang berada di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, ini pun menjadi saksi sejarah perjuangan pendidikan Islam di Jember.

Baca Juga : Tiga Rumah Warga Silo Jember Tertimpa Pohon, Satu Tertimbun Longsor

Pada saat itu, KH Ahmad Said bersama Kiai Mustain Romli, pendiri ponpes, aktif di dunia politik. Yaitu di Partai Sarekat Islam Indonesia. Ponpes ini pun sempat terbengkalai alias tidak beroperasi selama 25 tahun. Berikutnya, pada 1990, barulah dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Lutfi, pengasuh ponpes sampai sekarang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kiai Lutfi menyebut, nama Madinatul Ulum berasal dari bahasa Arab yang berarti kota ilmu. Nama tersebut diberikan langsung oleh sang pendiri, Kiai Ahmad Said, dengan harapan bisa menerangi masyarakat dengan ilmu pengetahuan agama. “Saya nempati di sini dari tahun 1990, sedangkan nama Madinatul Ulum ini memang langsung pemberian ayah saya. Dengan harapan bisa menjadi kota ilmu bagi masyarakat sekitar sini,” terang Kiai Lutfi.

- Advertisement -

CANGKRING, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Madinatul Ulum berdiri di tengah situasi konflik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Ponpes yang berada di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, ini pun menjadi saksi sejarah perjuangan pendidikan Islam di Jember.

Baca Juga : Tiga Rumah Warga Silo Jember Tertimpa Pohon, Satu Tertimbun Longsor

Pada saat itu, KH Ahmad Said bersama Kiai Mustain Romli, pendiri ponpes, aktif di dunia politik. Yaitu di Partai Sarekat Islam Indonesia. Ponpes ini pun sempat terbengkalai alias tidak beroperasi selama 25 tahun. Berikutnya, pada 1990, barulah dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Lutfi, pengasuh ponpes sampai sekarang.

Kiai Lutfi menyebut, nama Madinatul Ulum berasal dari bahasa Arab yang berarti kota ilmu. Nama tersebut diberikan langsung oleh sang pendiri, Kiai Ahmad Said, dengan harapan bisa menerangi masyarakat dengan ilmu pengetahuan agama. “Saya nempati di sini dari tahun 1990, sedangkan nama Madinatul Ulum ini memang langsung pemberian ayah saya. Dengan harapan bisa menjadi kota ilmu bagi masyarakat sekitar sini,” terang Kiai Lutfi.

CANGKRING, Radar Jember – Pondok Pesantren (Ponpes) Madinatul Ulum berdiri di tengah situasi konflik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Ponpes yang berada di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, ini pun menjadi saksi sejarah perjuangan pendidikan Islam di Jember.

Baca Juga : Tiga Rumah Warga Silo Jember Tertimpa Pohon, Satu Tertimbun Longsor

Pada saat itu, KH Ahmad Said bersama Kiai Mustain Romli, pendiri ponpes, aktif di dunia politik. Yaitu di Partai Sarekat Islam Indonesia. Ponpes ini pun sempat terbengkalai alias tidak beroperasi selama 25 tahun. Berikutnya, pada 1990, barulah dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Lutfi, pengasuh ponpes sampai sekarang.

Kiai Lutfi menyebut, nama Madinatul Ulum berasal dari bahasa Arab yang berarti kota ilmu. Nama tersebut diberikan langsung oleh sang pendiri, Kiai Ahmad Said, dengan harapan bisa menerangi masyarakat dengan ilmu pengetahuan agama. “Saya nempati di sini dari tahun 1990, sedangkan nama Madinatul Ulum ini memang langsung pemberian ayah saya. Dengan harapan bisa menjadi kota ilmu bagi masyarakat sekitar sini,” terang Kiai Lutfi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/