alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Dosen Pilih Kuliah Daring, Mahasiswa Baru Tidak Setuju Karena ini

Mobile_AP_Rectangle 1

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembelajaran daring akibat pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama empat semester. Model perkuliahan online ini ternyata membuat sebagian besar dosen menjadi semakin nyaman. Terbukti, mereka lebih senang perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa berlangsung secara daring dibandingkan luring.

Kenyataan itu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia. “Sebanyak 80 persen dosen PTKIN (perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, Red) lebih senang perkuliahan dilakukan secara daring dibandingkan dengan perkuliahan tatap muka di kelas. Itu hasil penelitian terbaru dari Dirjen Pendis,” papar Wakil Rektor III UIN KHAS Jember Dr Hefni Zein saat membuka Sosialisasi Perkuliahan Hybrid and Family Gathering yang digelar Fakultas Dakwah di Utama Raya Cottage Situbondo, Rabu (22/9).

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan harapan dan keinginan mahasiswa, khususnya mahasiswa semester awal. Dari hasil penelitian yang sama, lanjut Hefni, sebanyak 80 persen mahasiswa baru menginginkan perkuliahan digelar secara luring.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu alasannya, selama ini mereka tidak bisa bersosialisasi dan tidak mengenal teman-temannya secara langsung. Sebab, selama ini para mahasiswa semester satu dan tiga memang tidak pernah bertemu secara langsung dalam perkuliahan di kelas karena adanya pandemi Covid-19. “Hal ini sudah berlangsung sejak pertengahan semester genap tahun akademik 2019–2020. Berarti perkuliahan daring hingga sekarang sudah berlangsung selama empat semester,” tambah Hefni.

Adanya kontradiksi model perkuliahan daring antara mahasiswa dan dosen dari hasil penelitian yang dilakukan di 40 PTKIN ini perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan solusi. Apalagi kondisi pandemi di Indonesia terus membaik, bahkan di Jawa Timur sebagian besar sudah masuk level satu.

- Advertisement -

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembelajaran daring akibat pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama empat semester. Model perkuliahan online ini ternyata membuat sebagian besar dosen menjadi semakin nyaman. Terbukti, mereka lebih senang perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa berlangsung secara daring dibandingkan luring.

Kenyataan itu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia. “Sebanyak 80 persen dosen PTKIN (perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, Red) lebih senang perkuliahan dilakukan secara daring dibandingkan dengan perkuliahan tatap muka di kelas. Itu hasil penelitian terbaru dari Dirjen Pendis,” papar Wakil Rektor III UIN KHAS Jember Dr Hefni Zein saat membuka Sosialisasi Perkuliahan Hybrid and Family Gathering yang digelar Fakultas Dakwah di Utama Raya Cottage Situbondo, Rabu (22/9).

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan harapan dan keinginan mahasiswa, khususnya mahasiswa semester awal. Dari hasil penelitian yang sama, lanjut Hefni, sebanyak 80 persen mahasiswa baru menginginkan perkuliahan digelar secara luring.

Salah satu alasannya, selama ini mereka tidak bisa bersosialisasi dan tidak mengenal teman-temannya secara langsung. Sebab, selama ini para mahasiswa semester satu dan tiga memang tidak pernah bertemu secara langsung dalam perkuliahan di kelas karena adanya pandemi Covid-19. “Hal ini sudah berlangsung sejak pertengahan semester genap tahun akademik 2019–2020. Berarti perkuliahan daring hingga sekarang sudah berlangsung selama empat semester,” tambah Hefni.

Adanya kontradiksi model perkuliahan daring antara mahasiswa dan dosen dari hasil penelitian yang dilakukan di 40 PTKIN ini perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan solusi. Apalagi kondisi pandemi di Indonesia terus membaik, bahkan di Jawa Timur sebagian besar sudah masuk level satu.

MANGLI, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembelajaran daring akibat pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama empat semester. Model perkuliahan online ini ternyata membuat sebagian besar dosen menjadi semakin nyaman. Terbukti, mereka lebih senang perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa berlangsung secara daring dibandingkan luring.

Kenyataan itu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia. “Sebanyak 80 persen dosen PTKIN (perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, Red) lebih senang perkuliahan dilakukan secara daring dibandingkan dengan perkuliahan tatap muka di kelas. Itu hasil penelitian terbaru dari Dirjen Pendis,” papar Wakil Rektor III UIN KHAS Jember Dr Hefni Zein saat membuka Sosialisasi Perkuliahan Hybrid and Family Gathering yang digelar Fakultas Dakwah di Utama Raya Cottage Situbondo, Rabu (22/9).

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan harapan dan keinginan mahasiswa, khususnya mahasiswa semester awal. Dari hasil penelitian yang sama, lanjut Hefni, sebanyak 80 persen mahasiswa baru menginginkan perkuliahan digelar secara luring.

Salah satu alasannya, selama ini mereka tidak bisa bersosialisasi dan tidak mengenal teman-temannya secara langsung. Sebab, selama ini para mahasiswa semester satu dan tiga memang tidak pernah bertemu secara langsung dalam perkuliahan di kelas karena adanya pandemi Covid-19. “Hal ini sudah berlangsung sejak pertengahan semester genap tahun akademik 2019–2020. Berarti perkuliahan daring hingga sekarang sudah berlangsung selama empat semester,” tambah Hefni.

Adanya kontradiksi model perkuliahan daring antara mahasiswa dan dosen dari hasil penelitian yang dilakukan di 40 PTKIN ini perlu ditindaklanjuti untuk mendapatkan solusi. Apalagi kondisi pandemi di Indonesia terus membaik, bahkan di Jawa Timur sebagian besar sudah masuk level satu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/