alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Sudah Saatnya Libatkan Mahasiswa Tekan Angka Stunting Lewat Program Ini

Lewat Program KKN Tematik

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO, RADARJEMBER.ID – Angka stunting pada tingkat kabupaten di Jawa Timur masih cukup tinggi. Oleh karenanya, penanganannya tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah. Perlu keterlibatan semua pihak untuk menekan tingkat kekerdilan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis tersebut. Salah satunya dengan melibatkan mahasiswa melalui program kuliah kerja nyata (KKN). Keterlibatan mahasiswa ini cukup penting untuk mengurangi angka stunting.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna menjelaskan, sejak 2018 lalu Unej telah meluncurkan program KKN tematik dengan menerjunkan mahasiswa untuk terlibat menurunkan angka stunting. Sebab, dalam KKN tematik juga terdapat tema tentang penanganan stunting. “Angka prevalensi stunting di Jember dan kota-kota sekitarnya masih cukup tinggi, bahkan angkanya melebihi angka prevalensi stunting di Provinsi Jawa Timur. Kami lantas menggelar KKN tematik penanganan stunting di 30 desa di tiga kabupaten. Yakni Bondowoso, Situbondo, dan Probolinggo,” katanya, kemarin (24/8).

Pelaksanaan KKN tematik ini dianggap sebagai inovasi bagi beberapa daerah. Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa itu tidak jauh berbeda dengan yang telah diterapkan di Jember. Yakni salah satunya dengan memberikan edukasi untuk membuat makanan sehat bagi bayi dan untuk ibu-ibu di daerah setempat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kegiatan ini, Iwan Taruna menegaskan, juga sebagai komitmen Unej untuk mendukung program pemerintah dalam percepatan penanganan stunting. Termasuk di masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Karena itu, program KKN tematik dilanjutkan dengan nama program baru menjadi KKN Back to Village.

Melalui konsep anyar ini, mahasiswa tetap melaksanakan KKN seperti biasanya, namun di daerah asalnya sendiri-sendiri dengan berbagai tema yang kontekstual dengan daerahnya. “Di sisi lain, dosen kami juga telah membentuk kelompok riset yang fokus pada permasalahan-permasalahan terkait penanganan stuntingdan pencapaian SDGs dari berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

- Advertisement -

TEGALBOTO, RADARJEMBER.ID – Angka stunting pada tingkat kabupaten di Jawa Timur masih cukup tinggi. Oleh karenanya, penanganannya tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah. Perlu keterlibatan semua pihak untuk menekan tingkat kekerdilan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis tersebut. Salah satunya dengan melibatkan mahasiswa melalui program kuliah kerja nyata (KKN). Keterlibatan mahasiswa ini cukup penting untuk mengurangi angka stunting.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna menjelaskan, sejak 2018 lalu Unej telah meluncurkan program KKN tematik dengan menerjunkan mahasiswa untuk terlibat menurunkan angka stunting. Sebab, dalam KKN tematik juga terdapat tema tentang penanganan stunting. “Angka prevalensi stunting di Jember dan kota-kota sekitarnya masih cukup tinggi, bahkan angkanya melebihi angka prevalensi stunting di Provinsi Jawa Timur. Kami lantas menggelar KKN tematik penanganan stunting di 30 desa di tiga kabupaten. Yakni Bondowoso, Situbondo, dan Probolinggo,” katanya, kemarin (24/8).

Pelaksanaan KKN tematik ini dianggap sebagai inovasi bagi beberapa daerah. Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa itu tidak jauh berbeda dengan yang telah diterapkan di Jember. Yakni salah satunya dengan memberikan edukasi untuk membuat makanan sehat bagi bayi dan untuk ibu-ibu di daerah setempat.

Kegiatan ini, Iwan Taruna menegaskan, juga sebagai komitmen Unej untuk mendukung program pemerintah dalam percepatan penanganan stunting. Termasuk di masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Karena itu, program KKN tematik dilanjutkan dengan nama program baru menjadi KKN Back to Village.

Melalui konsep anyar ini, mahasiswa tetap melaksanakan KKN seperti biasanya, namun di daerah asalnya sendiri-sendiri dengan berbagai tema yang kontekstual dengan daerahnya. “Di sisi lain, dosen kami juga telah membentuk kelompok riset yang fokus pada permasalahan-permasalahan terkait penanganan stuntingdan pencapaian SDGs dari berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

TEGALBOTO, RADARJEMBER.ID – Angka stunting pada tingkat kabupaten di Jawa Timur masih cukup tinggi. Oleh karenanya, penanganannya tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah. Perlu keterlibatan semua pihak untuk menekan tingkat kekerdilan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis tersebut. Salah satunya dengan melibatkan mahasiswa melalui program kuliah kerja nyata (KKN). Keterlibatan mahasiswa ini cukup penting untuk mengurangi angka stunting.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna menjelaskan, sejak 2018 lalu Unej telah meluncurkan program KKN tematik dengan menerjunkan mahasiswa untuk terlibat menurunkan angka stunting. Sebab, dalam KKN tematik juga terdapat tema tentang penanganan stunting. “Angka prevalensi stunting di Jember dan kota-kota sekitarnya masih cukup tinggi, bahkan angkanya melebihi angka prevalensi stunting di Provinsi Jawa Timur. Kami lantas menggelar KKN tematik penanganan stunting di 30 desa di tiga kabupaten. Yakni Bondowoso, Situbondo, dan Probolinggo,” katanya, kemarin (24/8).

Pelaksanaan KKN tematik ini dianggap sebagai inovasi bagi beberapa daerah. Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa itu tidak jauh berbeda dengan yang telah diterapkan di Jember. Yakni salah satunya dengan memberikan edukasi untuk membuat makanan sehat bagi bayi dan untuk ibu-ibu di daerah setempat.

Kegiatan ini, Iwan Taruna menegaskan, juga sebagai komitmen Unej untuk mendukung program pemerintah dalam percepatan penanganan stunting. Termasuk di masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Karena itu, program KKN tematik dilanjutkan dengan nama program baru menjadi KKN Back to Village.

Melalui konsep anyar ini, mahasiswa tetap melaksanakan KKN seperti biasanya, namun di daerah asalnya sendiri-sendiri dengan berbagai tema yang kontekstual dengan daerahnya. “Di sisi lain, dosen kami juga telah membentuk kelompok riset yang fokus pada permasalahan-permasalahan terkait penanganan stuntingdan pencapaian SDGs dari berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/