alexametrics
24.8 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Sebut EMIS 4.0 Proyek Gagal Kemenag

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Disahkannya Education Management Information System (EMIS) 4.0 nyatanya tak cukup disambut baik oleh para operator. Tidak sedikit operator yang merasa bahwa EMIS 4.0 merupakan proyek gagal Kemenag. Artinya, jika dibandingkan dengan EMIS sebelumnya, EMIS 4.0 dianggap gagal. Banyak fitur yang tidak tersedia, akses data lampau tidak ada. Sehingga hal ini membuat operator harus kerja dari awal dalam penginputan data siswa dan sekolah.

Aplikasi EMIS 4.0 telah di-launching bulan April dan dirilis bulan Mei. Sehingga para operator sekolah sudah menyicil melakukan pendataan sekolah. Meliputi luas sekolah dan data guru sekolah.

Selanjutnya, para operator sekolah diberi waktu satu bulan untuk menuntaskan pendataan sekolah dari awal, yaitu dari input data KK setiap siswa. Menurut salah seorang operator sekolah MTs Asy-Syafiiyah Sukorejo, Istalia Lailatal Izzah, waktu satu bulan yang ditargetkan Kemenag ini tidaklah cukup. “Kalau siswanya ratusan bahkan ribuan, maka waktu satu bulan tidaklah cukup. Mana input KK satu per satu,” ungkap Istalia Lailatal Izzah kepada Jawa Pos Radar Jember, Senin (24/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika dibandingkan dengan EMIS lama, menurut Istalia, EMIS 4.0 memiliki banyak kekurangan. Pada EMIS yang sebelumnya input dan data siswa masih terhimpun. Sehingga, operator hanya tinggal mengklik nomor pokok sekolah nasional (NPSN), maka data siswa akan muncul. Selanjutnya, pendataan akan diteruskan dengan progres data yang sekarang. “Tapi, kalau EMIS baru, data-data di EMIS lama tidak ada yang terhimpun,” tambahnya.

Menurut dia, EMIS baru merupakan program gagal yang hanya menyusahkan operator. Selain dengan tenggat hanya satu bulan perampungan pendataan, aplikasi EMIS baru ini juga masih tidak mudah diakses atau loading. “Melakukan pendataan dari awal. Banyak fitur yang tidak ada sekarang. Misalnya, template. Aksesnya lemot. Jadi, itu menjadi salah satu faktor penghambat. Kalau proyek gagal, kenapa harus dikeluarkan. Mending memakai EMIS yang lama,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Disahkannya Education Management Information System (EMIS) 4.0 nyatanya tak cukup disambut baik oleh para operator. Tidak sedikit operator yang merasa bahwa EMIS 4.0 merupakan proyek gagal Kemenag. Artinya, jika dibandingkan dengan EMIS sebelumnya, EMIS 4.0 dianggap gagal. Banyak fitur yang tidak tersedia, akses data lampau tidak ada. Sehingga hal ini membuat operator harus kerja dari awal dalam penginputan data siswa dan sekolah.

Aplikasi EMIS 4.0 telah di-launching bulan April dan dirilis bulan Mei. Sehingga para operator sekolah sudah menyicil melakukan pendataan sekolah. Meliputi luas sekolah dan data guru sekolah.

Selanjutnya, para operator sekolah diberi waktu satu bulan untuk menuntaskan pendataan sekolah dari awal, yaitu dari input data KK setiap siswa. Menurut salah seorang operator sekolah MTs Asy-Syafiiyah Sukorejo, Istalia Lailatal Izzah, waktu satu bulan yang ditargetkan Kemenag ini tidaklah cukup. “Kalau siswanya ratusan bahkan ribuan, maka waktu satu bulan tidaklah cukup. Mana input KK satu per satu,” ungkap Istalia Lailatal Izzah kepada Jawa Pos Radar Jember, Senin (24/5).

Jika dibandingkan dengan EMIS lama, menurut Istalia, EMIS 4.0 memiliki banyak kekurangan. Pada EMIS yang sebelumnya input dan data siswa masih terhimpun. Sehingga, operator hanya tinggal mengklik nomor pokok sekolah nasional (NPSN), maka data siswa akan muncul. Selanjutnya, pendataan akan diteruskan dengan progres data yang sekarang. “Tapi, kalau EMIS baru, data-data di EMIS lama tidak ada yang terhimpun,” tambahnya.

Menurut dia, EMIS baru merupakan program gagal yang hanya menyusahkan operator. Selain dengan tenggat hanya satu bulan perampungan pendataan, aplikasi EMIS baru ini juga masih tidak mudah diakses atau loading. “Melakukan pendataan dari awal. Banyak fitur yang tidak ada sekarang. Misalnya, template. Aksesnya lemot. Jadi, itu menjadi salah satu faktor penghambat. Kalau proyek gagal, kenapa harus dikeluarkan. Mending memakai EMIS yang lama,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Disahkannya Education Management Information System (EMIS) 4.0 nyatanya tak cukup disambut baik oleh para operator. Tidak sedikit operator yang merasa bahwa EMIS 4.0 merupakan proyek gagal Kemenag. Artinya, jika dibandingkan dengan EMIS sebelumnya, EMIS 4.0 dianggap gagal. Banyak fitur yang tidak tersedia, akses data lampau tidak ada. Sehingga hal ini membuat operator harus kerja dari awal dalam penginputan data siswa dan sekolah.

Aplikasi EMIS 4.0 telah di-launching bulan April dan dirilis bulan Mei. Sehingga para operator sekolah sudah menyicil melakukan pendataan sekolah. Meliputi luas sekolah dan data guru sekolah.

Selanjutnya, para operator sekolah diberi waktu satu bulan untuk menuntaskan pendataan sekolah dari awal, yaitu dari input data KK setiap siswa. Menurut salah seorang operator sekolah MTs Asy-Syafiiyah Sukorejo, Istalia Lailatal Izzah, waktu satu bulan yang ditargetkan Kemenag ini tidaklah cukup. “Kalau siswanya ratusan bahkan ribuan, maka waktu satu bulan tidaklah cukup. Mana input KK satu per satu,” ungkap Istalia Lailatal Izzah kepada Jawa Pos Radar Jember, Senin (24/5).

Jika dibandingkan dengan EMIS lama, menurut Istalia, EMIS 4.0 memiliki banyak kekurangan. Pada EMIS yang sebelumnya input dan data siswa masih terhimpun. Sehingga, operator hanya tinggal mengklik nomor pokok sekolah nasional (NPSN), maka data siswa akan muncul. Selanjutnya, pendataan akan diteruskan dengan progres data yang sekarang. “Tapi, kalau EMIS baru, data-data di EMIS lama tidak ada yang terhimpun,” tambahnya.

Menurut dia, EMIS baru merupakan program gagal yang hanya menyusahkan operator. Selain dengan tenggat hanya satu bulan perampungan pendataan, aplikasi EMIS baru ini juga masih tidak mudah diakses atau loading. “Melakukan pendataan dari awal. Banyak fitur yang tidak ada sekarang. Misalnya, template. Aksesnya lemot. Jadi, itu menjadi salah satu faktor penghambat. Kalau proyek gagal, kenapa harus dikeluarkan. Mending memakai EMIS yang lama,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/