alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Konsisten Penelitian Keanekaragaman Hayati

Mobile_AP_Rectangle 1

TEGALBOTO, Radar Jember – Balai Taman Nasional Meru Betiri merupakan kawasan yang lekat dengan aktivitas penelitian. Suharyono dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mengatakan bahwa Meru Betiri adalah sarana yang tepat untuk menjadi tempat penelitian. Sebab, menurutnya, dengan luas 580 kilometer persegi, Taman Nasional Meru Betiri menyediakan beranekaragam flora dan fauna untuk diteliti dan dikaji.

“Kami menyediakan kawasan kami sebagai tempat untuk belajar, untuk penelitian, untuk kerja lapangan, dan lainnya. Dari situ kami juga akan mendapatkan pemikiran dan temuan-temuan sehingga ada saling memberi antara kampus dengan kami,” jelas Suharyono.

Tidak hanya flora dan fauna, menurut Suharyono, masyarakat penyangga yang berada di luar kawasan hutan namun hidupnya bergantung pada kawasan hutan juga menarik untuk diberdayakan. “Sehingga masyarakat tidak lagi melakukan eksploitasi dan merusak kawasan hutan. Tetapi, beralih dengan memanfaatkan taman nasional ini secara bersama-sama atau bahasa sekarang istilahnya kemitraan konservasi. Masyarakat mengambil dan memanfaatkan hutan, namun tidak merusak hutan,” lanjut Suharyono.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih jauh, Suharyono menjelaskan, peran para peneliti dan akademisi di Jember menjadi sangat penting dalam konsep kemitraan konservasi. Sebab, menurutnya, para peneliti akan menjadi jembatan antara masyarakat dengan kawasan konservasi. “Ini butuh dukungan rekan-rekan dari Universitas Jember dalam rangka community development melalui program-program pemberdayaan masyarakat yang berbasis lingkungan hutan. Sehingga harapannya masyarakat tidak lagi melakukan perusakan hutan,” pungkas Suharyono.

- Advertisement -

TEGALBOTO, Radar Jember – Balai Taman Nasional Meru Betiri merupakan kawasan yang lekat dengan aktivitas penelitian. Suharyono dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mengatakan bahwa Meru Betiri adalah sarana yang tepat untuk menjadi tempat penelitian. Sebab, menurutnya, dengan luas 580 kilometer persegi, Taman Nasional Meru Betiri menyediakan beranekaragam flora dan fauna untuk diteliti dan dikaji.

“Kami menyediakan kawasan kami sebagai tempat untuk belajar, untuk penelitian, untuk kerja lapangan, dan lainnya. Dari situ kami juga akan mendapatkan pemikiran dan temuan-temuan sehingga ada saling memberi antara kampus dengan kami,” jelas Suharyono.

Tidak hanya flora dan fauna, menurut Suharyono, masyarakat penyangga yang berada di luar kawasan hutan namun hidupnya bergantung pada kawasan hutan juga menarik untuk diberdayakan. “Sehingga masyarakat tidak lagi melakukan eksploitasi dan merusak kawasan hutan. Tetapi, beralih dengan memanfaatkan taman nasional ini secara bersama-sama atau bahasa sekarang istilahnya kemitraan konservasi. Masyarakat mengambil dan memanfaatkan hutan, namun tidak merusak hutan,” lanjut Suharyono.

Lebih jauh, Suharyono menjelaskan, peran para peneliti dan akademisi di Jember menjadi sangat penting dalam konsep kemitraan konservasi. Sebab, menurutnya, para peneliti akan menjadi jembatan antara masyarakat dengan kawasan konservasi. “Ini butuh dukungan rekan-rekan dari Universitas Jember dalam rangka community development melalui program-program pemberdayaan masyarakat yang berbasis lingkungan hutan. Sehingga harapannya masyarakat tidak lagi melakukan perusakan hutan,” pungkas Suharyono.

TEGALBOTO, Radar Jember – Balai Taman Nasional Meru Betiri merupakan kawasan yang lekat dengan aktivitas penelitian. Suharyono dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mengatakan bahwa Meru Betiri adalah sarana yang tepat untuk menjadi tempat penelitian. Sebab, menurutnya, dengan luas 580 kilometer persegi, Taman Nasional Meru Betiri menyediakan beranekaragam flora dan fauna untuk diteliti dan dikaji.

“Kami menyediakan kawasan kami sebagai tempat untuk belajar, untuk penelitian, untuk kerja lapangan, dan lainnya. Dari situ kami juga akan mendapatkan pemikiran dan temuan-temuan sehingga ada saling memberi antara kampus dengan kami,” jelas Suharyono.

Tidak hanya flora dan fauna, menurut Suharyono, masyarakat penyangga yang berada di luar kawasan hutan namun hidupnya bergantung pada kawasan hutan juga menarik untuk diberdayakan. “Sehingga masyarakat tidak lagi melakukan eksploitasi dan merusak kawasan hutan. Tetapi, beralih dengan memanfaatkan taman nasional ini secara bersama-sama atau bahasa sekarang istilahnya kemitraan konservasi. Masyarakat mengambil dan memanfaatkan hutan, namun tidak merusak hutan,” lanjut Suharyono.

Lebih jauh, Suharyono menjelaskan, peran para peneliti dan akademisi di Jember menjadi sangat penting dalam konsep kemitraan konservasi. Sebab, menurutnya, para peneliti akan menjadi jembatan antara masyarakat dengan kawasan konservasi. “Ini butuh dukungan rekan-rekan dari Universitas Jember dalam rangka community development melalui program-program pemberdayaan masyarakat yang berbasis lingkungan hutan. Sehingga harapannya masyarakat tidak lagi melakukan perusakan hutan,” pungkas Suharyono.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/