22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Nestapa Sekolah Pinggiran Jember: Tiga Kelas Rusak, Siswa Belajar Digabung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Cerita muram sepertinya tak bisa lepas dari dunia pendidikan kita. Terutama, dari mereka yang belajar di sekolah-sekolah pinggiran. Ada saja persoalan laten yang menyeruak ke permukaan. Mulai dari ketersediaan tenaga pengajar, aksesibilitas siswa ke sekolah, hingga kelayakan sarana dan prasarana penunjang pendidikan.

Aktivitas pembelajaran di SDN Curahtakir 03, Kecamatan Tempurejo ini, contohnya. Lembaga pendidikan yang berdiri di kaki Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jember tersebut, gambarannya tak jauh berbeda dengan kondisi pendidikan di sekolah pinggiran yang lain. Sebagian bangunan kelasnya rusak. Sehingga untuk menyiasatinya, pihak sekolah menggabung siswa dua kelas menjadi satu ruangan.

BACA JUGA: Ruang Kelas VI SDN Kaliglagah 03 Jember Kondisinya Memprihatinkan

Mobile_AP_Rectangle 2

“Proses KMB (kegiatan belajar mengajar) siswa, terpaksa kami gabung. Siswa kelas satu digabung dengan kelas dua dan siswa kelas lima dengan kelas enam,” ungkap Rahmatullah, Kepala SDN Curahtakir 03 kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (24/1).

Sedikitnya, ada tiga ruang kelas yang rusak. Kelas 1,2 dan 3. Bahkan, beberapa waktu lalu, bagian eternit salah satu ruangan itu ambrol. Pihak sekolah akhirnya mengambil keputusan berat dengan mengosongkan ruangan tersebut. Ini demi menjaga keselamatan siswanya. Sebab, kondisi bangunan itu memang sudah membahayakan.

Menurutnya, ruangan kelas satu sudah lama rusak di bagian eternit. Kusen dan daun jendela juga sudah hancur dimakan rayap. Beruntung bagian atap menggunakan rangka besi. Sehingga serangga pengurai itu hanya menghabiskan bagian kusen pintu, kusen jendela dan daun jendelanya.

“Kalau semuanya menggunakan bahan kayu, mungkin sudah ambruk. Empat hari lalu, eternit di teras kelas tiga ambruk. Alhamdulillah tidak sampai mengenai siswa. Karena waktu itu mereka sedang istirahat,” kata mantan guru SDN Tempurejo 01 itu.

Rupanya, kerusakan ruang kelas tak hanya terjadi pada kelas 1,2 dan 3 saja. Namun, juga mulai merembet ke kelas lain. Tiga ruang kelas sisanya juga mulai rusak. Padahal, baru mendapat rehab pada 2019 lalu. Seminggu lalu, kusen dan daun pintu kelas 5 dan 6 terpaksa diganti, lantaran koyak dimakan rayap. “Kami ganti dengan kusen cor, biar lebih tahan lama. Sedangkan daun pintu tetap dari kayu,” sebutnya.

Kondisi ini, Rahmatullah menuturkan, tentu saja berimbas terhadap KBM. Terlebih saat ini sedang musim hujan. Pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa bila hujan turun di kawasan itu. Pihaknya khawatir, saat hujan deras mengguyur gedung sekolah, tiba-tiba eternit atau atap sekolah ambruk. “Sebagai langkah antisipasi, sehingga siswa terpaksa kami pulangkan. Takut eternit di masing-masing ruang kelas ambruk,” pungkasnya. (*)

Reporter: Jumai

Foto       : Jumai

Editor     : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Cerita muram sepertinya tak bisa lepas dari dunia pendidikan kita. Terutama, dari mereka yang belajar di sekolah-sekolah pinggiran. Ada saja persoalan laten yang menyeruak ke permukaan. Mulai dari ketersediaan tenaga pengajar, aksesibilitas siswa ke sekolah, hingga kelayakan sarana dan prasarana penunjang pendidikan.

Aktivitas pembelajaran di SDN Curahtakir 03, Kecamatan Tempurejo ini, contohnya. Lembaga pendidikan yang berdiri di kaki Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jember tersebut, gambarannya tak jauh berbeda dengan kondisi pendidikan di sekolah pinggiran yang lain. Sebagian bangunan kelasnya rusak. Sehingga untuk menyiasatinya, pihak sekolah menggabung siswa dua kelas menjadi satu ruangan.

BACA JUGA: Ruang Kelas VI SDN Kaliglagah 03 Jember Kondisinya Memprihatinkan

“Proses KMB (kegiatan belajar mengajar) siswa, terpaksa kami gabung. Siswa kelas satu digabung dengan kelas dua dan siswa kelas lima dengan kelas enam,” ungkap Rahmatullah, Kepala SDN Curahtakir 03 kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (24/1).

Sedikitnya, ada tiga ruang kelas yang rusak. Kelas 1,2 dan 3. Bahkan, beberapa waktu lalu, bagian eternit salah satu ruangan itu ambrol. Pihak sekolah akhirnya mengambil keputusan berat dengan mengosongkan ruangan tersebut. Ini demi menjaga keselamatan siswanya. Sebab, kondisi bangunan itu memang sudah membahayakan.

Menurutnya, ruangan kelas satu sudah lama rusak di bagian eternit. Kusen dan daun jendela juga sudah hancur dimakan rayap. Beruntung bagian atap menggunakan rangka besi. Sehingga serangga pengurai itu hanya menghabiskan bagian kusen pintu, kusen jendela dan daun jendelanya.

“Kalau semuanya menggunakan bahan kayu, mungkin sudah ambruk. Empat hari lalu, eternit di teras kelas tiga ambruk. Alhamdulillah tidak sampai mengenai siswa. Karena waktu itu mereka sedang istirahat,” kata mantan guru SDN Tempurejo 01 itu.

Rupanya, kerusakan ruang kelas tak hanya terjadi pada kelas 1,2 dan 3 saja. Namun, juga mulai merembet ke kelas lain. Tiga ruang kelas sisanya juga mulai rusak. Padahal, baru mendapat rehab pada 2019 lalu. Seminggu lalu, kusen dan daun pintu kelas 5 dan 6 terpaksa diganti, lantaran koyak dimakan rayap. “Kami ganti dengan kusen cor, biar lebih tahan lama. Sedangkan daun pintu tetap dari kayu,” sebutnya.

Kondisi ini, Rahmatullah menuturkan, tentu saja berimbas terhadap KBM. Terlebih saat ini sedang musim hujan. Pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa bila hujan turun di kawasan itu. Pihaknya khawatir, saat hujan deras mengguyur gedung sekolah, tiba-tiba eternit atau atap sekolah ambruk. “Sebagai langkah antisipasi, sehingga siswa terpaksa kami pulangkan. Takut eternit di masing-masing ruang kelas ambruk,” pungkasnya. (*)

Reporter: Jumai

Foto       : Jumai

Editor     : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Cerita muram sepertinya tak bisa lepas dari dunia pendidikan kita. Terutama, dari mereka yang belajar di sekolah-sekolah pinggiran. Ada saja persoalan laten yang menyeruak ke permukaan. Mulai dari ketersediaan tenaga pengajar, aksesibilitas siswa ke sekolah, hingga kelayakan sarana dan prasarana penunjang pendidikan.

Aktivitas pembelajaran di SDN Curahtakir 03, Kecamatan Tempurejo ini, contohnya. Lembaga pendidikan yang berdiri di kaki Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jember tersebut, gambarannya tak jauh berbeda dengan kondisi pendidikan di sekolah pinggiran yang lain. Sebagian bangunan kelasnya rusak. Sehingga untuk menyiasatinya, pihak sekolah menggabung siswa dua kelas menjadi satu ruangan.

BACA JUGA: Ruang Kelas VI SDN Kaliglagah 03 Jember Kondisinya Memprihatinkan

“Proses KMB (kegiatan belajar mengajar) siswa, terpaksa kami gabung. Siswa kelas satu digabung dengan kelas dua dan siswa kelas lima dengan kelas enam,” ungkap Rahmatullah, Kepala SDN Curahtakir 03 kepada Jawa Pos Radar Jember, Selasa (24/1).

Sedikitnya, ada tiga ruang kelas yang rusak. Kelas 1,2 dan 3. Bahkan, beberapa waktu lalu, bagian eternit salah satu ruangan itu ambrol. Pihak sekolah akhirnya mengambil keputusan berat dengan mengosongkan ruangan tersebut. Ini demi menjaga keselamatan siswanya. Sebab, kondisi bangunan itu memang sudah membahayakan.

Menurutnya, ruangan kelas satu sudah lama rusak di bagian eternit. Kusen dan daun jendela juga sudah hancur dimakan rayap. Beruntung bagian atap menggunakan rangka besi. Sehingga serangga pengurai itu hanya menghabiskan bagian kusen pintu, kusen jendela dan daun jendelanya.

“Kalau semuanya menggunakan bahan kayu, mungkin sudah ambruk. Empat hari lalu, eternit di teras kelas tiga ambruk. Alhamdulillah tidak sampai mengenai siswa. Karena waktu itu mereka sedang istirahat,” kata mantan guru SDN Tempurejo 01 itu.

Rupanya, kerusakan ruang kelas tak hanya terjadi pada kelas 1,2 dan 3 saja. Namun, juga mulai merembet ke kelas lain. Tiga ruang kelas sisanya juga mulai rusak. Padahal, baru mendapat rehab pada 2019 lalu. Seminggu lalu, kusen dan daun pintu kelas 5 dan 6 terpaksa diganti, lantaran koyak dimakan rayap. “Kami ganti dengan kusen cor, biar lebih tahan lama. Sedangkan daun pintu tetap dari kayu,” sebutnya.

Kondisi ini, Rahmatullah menuturkan, tentu saja berimbas terhadap KBM. Terlebih saat ini sedang musim hujan. Pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa bila hujan turun di kawasan itu. Pihaknya khawatir, saat hujan deras mengguyur gedung sekolah, tiba-tiba eternit atau atap sekolah ambruk. “Sebagai langkah antisipasi, sehingga siswa terpaksa kami pulangkan. Takut eternit di masing-masing ruang kelas ambruk,” pungkasnya. (*)

Reporter: Jumai

Foto       : Jumai

Editor     : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca