alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sebagian Wali Murid Belum Sreg

Hari Ini Tiga SMA Uji Coba PTM

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga saat ini, pelajar tingkat SMA belum melangsungkan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, Satgas Covid-19 Jember belum memberi lampu hijau terkait dengan rencana tersebut. Meski begitu, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Provinsi Jawa Timur Wilayah Jember bakal melangsungkan uji coba PTM di tiga SMA berbeda, hari ini (23/4). Ketiga sekolah tersebut adalah SMK Negeri 5, SMA Negeri 1, dan SMA Katolik Santo Yusup.

Tempo lalu, pada saat dialog publik yang berlangsung Rabu, pekan pertama April, Cabdin Wilayah Jember mengungkapkan, belum semua sekolah mengantongi izin PTM dari wali murid. Sekitar 20 persen wali murid dari 73.723 pelajar untuk tingkat SMA/SMK, belum merestui penyelenggaraan PTM tersebut. Sedangkan 80 persennya, atau mayoritas, sudah setuju.

Salah satu sekolah yang hingga kini belum sepenuhnya mengantongi izin wali murid adalah SMA Katolik Santo Yusup. Meski sekolah ini sudah membagikan surat izin kepada wali murid masing- masing. Namun, tidak semuanya. Bahkan, ada dalam satu kelas yang semua wali muridnya tidak menyetujui adanya sekolah tatap muka. Jika dipersentasekan, wali murid yang tidak setuju adanya PTM mencapai 65-70 persen dari jumlah murid kelas X dan XI yang mencapai 700 lebih.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wakil Kepala Kurikulum SMA Katolik Santo Yusup Yohanes Joko Prabowo mengatakan, rata- rata wali murid yang tidak setuju merupakan dari luar kota. “Siswa kami dari mana-mana. Ada yang dari Probolinggo, Situbondo, dan Lumajang. Yang tidak setuju melakukan PTM rata-rata dari luar kota,” beber guru yang akrab disapa Joko itu.

Menurutnya, alasannya beragam. Kata dia, beberapa orang tua masih khawatir karena mendengar informasi kurang aman mengenai penyebaran korona. Alasan lainnya adalah sakit, baik siswa yang bersangkutan maupun sanak keluarga dalam satu rumah. “Ada yang sakit. Takutnya menyebar atau tertular virus dari luar,” ungkap Joko.

Kendati demikian, sekolah tetap memfasilitasi dan melayani proses belajar murid. Menurutnya, PTM dapat digelar serentak manakala pemerintah telah menginstruksikan dan mewajibkan sekolah untuk melakukan PTM. Ia optimistis, pada tahun ajaran baru mendatang sekolah sudah dapat melakukan PTM secara serentak dan normal. “Kecuali kalau pemerintah mewajibkan, orang tua tidak bisa menolak,” papar Joko.

Lebih lanjut, Joko menguraikan, sekolahnya yang merupakan salah satu lembaga yang menjalani uji coba PTM akan menyasar enam kelas. Setiap kelas jumlah siswanya berbeda-beda. Paling sedikit delapan siswa, dan terbanyak 12 siswa. Mereka adalah pelajar kelas X dan XI. Teknisnya, PTM akan berlangsung selama tiga jam dengan satu mata pelajaran. “Kami isi maksimal 12 orang per ruangan,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga saat ini, pelajar tingkat SMA belum melangsungkan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, Satgas Covid-19 Jember belum memberi lampu hijau terkait dengan rencana tersebut. Meski begitu, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Provinsi Jawa Timur Wilayah Jember bakal melangsungkan uji coba PTM di tiga SMA berbeda, hari ini (23/4). Ketiga sekolah tersebut adalah SMK Negeri 5, SMA Negeri 1, dan SMA Katolik Santo Yusup.

Tempo lalu, pada saat dialog publik yang berlangsung Rabu, pekan pertama April, Cabdin Wilayah Jember mengungkapkan, belum semua sekolah mengantongi izin PTM dari wali murid. Sekitar 20 persen wali murid dari 73.723 pelajar untuk tingkat SMA/SMK, belum merestui penyelenggaraan PTM tersebut. Sedangkan 80 persennya, atau mayoritas, sudah setuju.

Salah satu sekolah yang hingga kini belum sepenuhnya mengantongi izin wali murid adalah SMA Katolik Santo Yusup. Meski sekolah ini sudah membagikan surat izin kepada wali murid masing- masing. Namun, tidak semuanya. Bahkan, ada dalam satu kelas yang semua wali muridnya tidak menyetujui adanya sekolah tatap muka. Jika dipersentasekan, wali murid yang tidak setuju adanya PTM mencapai 65-70 persen dari jumlah murid kelas X dan XI yang mencapai 700 lebih.

Wakil Kepala Kurikulum SMA Katolik Santo Yusup Yohanes Joko Prabowo mengatakan, rata- rata wali murid yang tidak setuju merupakan dari luar kota. “Siswa kami dari mana-mana. Ada yang dari Probolinggo, Situbondo, dan Lumajang. Yang tidak setuju melakukan PTM rata-rata dari luar kota,” beber guru yang akrab disapa Joko itu.

Menurutnya, alasannya beragam. Kata dia, beberapa orang tua masih khawatir karena mendengar informasi kurang aman mengenai penyebaran korona. Alasan lainnya adalah sakit, baik siswa yang bersangkutan maupun sanak keluarga dalam satu rumah. “Ada yang sakit. Takutnya menyebar atau tertular virus dari luar,” ungkap Joko.

Kendati demikian, sekolah tetap memfasilitasi dan melayani proses belajar murid. Menurutnya, PTM dapat digelar serentak manakala pemerintah telah menginstruksikan dan mewajibkan sekolah untuk melakukan PTM. Ia optimistis, pada tahun ajaran baru mendatang sekolah sudah dapat melakukan PTM secara serentak dan normal. “Kecuali kalau pemerintah mewajibkan, orang tua tidak bisa menolak,” papar Joko.

Lebih lanjut, Joko menguraikan, sekolahnya yang merupakan salah satu lembaga yang menjalani uji coba PTM akan menyasar enam kelas. Setiap kelas jumlah siswanya berbeda-beda. Paling sedikit delapan siswa, dan terbanyak 12 siswa. Mereka adalah pelajar kelas X dan XI. Teknisnya, PTM akan berlangsung selama tiga jam dengan satu mata pelajaran. “Kami isi maksimal 12 orang per ruangan,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga saat ini, pelajar tingkat SMA belum melangsungkan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, Satgas Covid-19 Jember belum memberi lampu hijau terkait dengan rencana tersebut. Meski begitu, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Provinsi Jawa Timur Wilayah Jember bakal melangsungkan uji coba PTM di tiga SMA berbeda, hari ini (23/4). Ketiga sekolah tersebut adalah SMK Negeri 5, SMA Negeri 1, dan SMA Katolik Santo Yusup.

Tempo lalu, pada saat dialog publik yang berlangsung Rabu, pekan pertama April, Cabdin Wilayah Jember mengungkapkan, belum semua sekolah mengantongi izin PTM dari wali murid. Sekitar 20 persen wali murid dari 73.723 pelajar untuk tingkat SMA/SMK, belum merestui penyelenggaraan PTM tersebut. Sedangkan 80 persennya, atau mayoritas, sudah setuju.

Salah satu sekolah yang hingga kini belum sepenuhnya mengantongi izin wali murid adalah SMA Katolik Santo Yusup. Meski sekolah ini sudah membagikan surat izin kepada wali murid masing- masing. Namun, tidak semuanya. Bahkan, ada dalam satu kelas yang semua wali muridnya tidak menyetujui adanya sekolah tatap muka. Jika dipersentasekan, wali murid yang tidak setuju adanya PTM mencapai 65-70 persen dari jumlah murid kelas X dan XI yang mencapai 700 lebih.

Wakil Kepala Kurikulum SMA Katolik Santo Yusup Yohanes Joko Prabowo mengatakan, rata- rata wali murid yang tidak setuju merupakan dari luar kota. “Siswa kami dari mana-mana. Ada yang dari Probolinggo, Situbondo, dan Lumajang. Yang tidak setuju melakukan PTM rata-rata dari luar kota,” beber guru yang akrab disapa Joko itu.

Menurutnya, alasannya beragam. Kata dia, beberapa orang tua masih khawatir karena mendengar informasi kurang aman mengenai penyebaran korona. Alasan lainnya adalah sakit, baik siswa yang bersangkutan maupun sanak keluarga dalam satu rumah. “Ada yang sakit. Takutnya menyebar atau tertular virus dari luar,” ungkap Joko.

Kendati demikian, sekolah tetap memfasilitasi dan melayani proses belajar murid. Menurutnya, PTM dapat digelar serentak manakala pemerintah telah menginstruksikan dan mewajibkan sekolah untuk melakukan PTM. Ia optimistis, pada tahun ajaran baru mendatang sekolah sudah dapat melakukan PTM secara serentak dan normal. “Kecuali kalau pemerintah mewajibkan, orang tua tidak bisa menolak,” papar Joko.

Lebih lanjut, Joko menguraikan, sekolahnya yang merupakan salah satu lembaga yang menjalani uji coba PTM akan menyasar enam kelas. Setiap kelas jumlah siswanya berbeda-beda. Paling sedikit delapan siswa, dan terbanyak 12 siswa. Mereka adalah pelajar kelas X dan XI. Teknisnya, PTM akan berlangsung selama tiga jam dengan satu mata pelajaran. “Kami isi maksimal 12 orang per ruangan,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/