alexametrics
31.2 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Ortu Berperan Cegah Kekerasan Seksual

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelecehan seksual terhadap anak kian marak. Anak menjadi objek yang rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Hingga saat ini, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember telah mengantongi laporan pelecehan dan kekerasan seksual yang jumlah korbannya mencapai 28 anak. Terdiri atas 4 korban laki- laki dan 24 perempuan.

Tindak pelecehan seksual pada anak bisa terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya adalah pelaku yang berpotensi dan memiliki kesempatan. Kedua, anak yang berpotensi menjadi korban. Bisa karena anak tidak mendapatkan pendidikan seks dan tidak bisa menolak karena rasa takut. Ketiga, kurangnya pengawasan dari orang tua.

Direktur Stapa Centre Ari Andriani mengungkapkan, dengan maraknya kasus pelecehan atau kekerasan seksual pada anak, maka perlu adanya perhatian lebih dari orang tua untuk memberikan edukasi seks kepada anak-anaknya. “Saya selalu menanamkan kepada anak-anak saya untuk melarang laki-laki menyentuh beberapa bagian tubuh intim miliknya. Walaupun itu ayahnya sendiri,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Eri, upaya itu merupakan bentuk pencegahan yang paling sederhana sekaligus krusial yang dapat dilakukan pada lingkungan keluarga. Sebab, kata dia, banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi pelakunya masih memiliki hubungan keluarga atau orang dekat.

Pakar psikologi dari IAIN Jember, Muhammad Ridwan menjelaskan, anak yang telah mendapatkan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual akan berpotensi mengalami beberapa penyakit psikologis yang berpotensi menyerang para korban.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelecehan seksual terhadap anak kian marak. Anak menjadi objek yang rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Hingga saat ini, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember telah mengantongi laporan pelecehan dan kekerasan seksual yang jumlah korbannya mencapai 28 anak. Terdiri atas 4 korban laki- laki dan 24 perempuan.

Tindak pelecehan seksual pada anak bisa terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya adalah pelaku yang berpotensi dan memiliki kesempatan. Kedua, anak yang berpotensi menjadi korban. Bisa karena anak tidak mendapatkan pendidikan seks dan tidak bisa menolak karena rasa takut. Ketiga, kurangnya pengawasan dari orang tua.

Direktur Stapa Centre Ari Andriani mengungkapkan, dengan maraknya kasus pelecehan atau kekerasan seksual pada anak, maka perlu adanya perhatian lebih dari orang tua untuk memberikan edukasi seks kepada anak-anaknya. “Saya selalu menanamkan kepada anak-anak saya untuk melarang laki-laki menyentuh beberapa bagian tubuh intim miliknya. Walaupun itu ayahnya sendiri,” ungkapnya.

Menurut Eri, upaya itu merupakan bentuk pencegahan yang paling sederhana sekaligus krusial yang dapat dilakukan pada lingkungan keluarga. Sebab, kata dia, banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi pelakunya masih memiliki hubungan keluarga atau orang dekat.

Pakar psikologi dari IAIN Jember, Muhammad Ridwan menjelaskan, anak yang telah mendapatkan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual akan berpotensi mengalami beberapa penyakit psikologis yang berpotensi menyerang para korban.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelecehan seksual terhadap anak kian marak. Anak menjadi objek yang rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Hingga saat ini, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jember telah mengantongi laporan pelecehan dan kekerasan seksual yang jumlah korbannya mencapai 28 anak. Terdiri atas 4 korban laki- laki dan 24 perempuan.

Tindak pelecehan seksual pada anak bisa terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya adalah pelaku yang berpotensi dan memiliki kesempatan. Kedua, anak yang berpotensi menjadi korban. Bisa karena anak tidak mendapatkan pendidikan seks dan tidak bisa menolak karena rasa takut. Ketiga, kurangnya pengawasan dari orang tua.

Direktur Stapa Centre Ari Andriani mengungkapkan, dengan maraknya kasus pelecehan atau kekerasan seksual pada anak, maka perlu adanya perhatian lebih dari orang tua untuk memberikan edukasi seks kepada anak-anaknya. “Saya selalu menanamkan kepada anak-anak saya untuk melarang laki-laki menyentuh beberapa bagian tubuh intim miliknya. Walaupun itu ayahnya sendiri,” ungkapnya.

Menurut Eri, upaya itu merupakan bentuk pencegahan yang paling sederhana sekaligus krusial yang dapat dilakukan pada lingkungan keluarga. Sebab, kata dia, banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi pelakunya masih memiliki hubungan keluarga atau orang dekat.

Pakar psikologi dari IAIN Jember, Muhammad Ridwan menjelaskan, anak yang telah mendapatkan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual akan berpotensi mengalami beberapa penyakit psikologis yang berpotensi menyerang para korban.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/