alexametrics
23.6 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Dulu Sekadar Musala Tempat Mengajar Baca Alquran

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh

Mobile_AP_Rectangle 1

Seimbangkan Ilmu Agama dengan Umum

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh, siang kemarin (21/4), tampak sepi. Aktivitas minimarket, depo air minum, hingga lokasi menjahit untuk santri juga lengang. Tak ada kesibukan. Bagi masyarakat umum hal itu memang sedikit aneh, namun bagi warga yang akrab dengan lingkungan pesantren menjadi hal wajar. Sebab, pada Ramadan dan mendekati Lebaran menjadi hal lazim dan ciri khas pesantren, karena santrinya libur.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh telah libur sejak 10 April lalu. Para santri akan menghabiskan sisa puasa bersama keluarganya di rumah masing-masing. Sebelum pulang, para santri mengikuti kegiatan Ramadan di pesantren seperti biasa. Mulai dari mengaji kitab kuning, Alquran, kegiatan sekolah formal, hingga kegiatan khusus di bulan Ramadan. “Seperti biasa, pondok Ramadan di sini tadarus, salat berjamaah, dan ngaji kitab kuning. Namun, sekolah formal tetap masuk,” jelas Babun Hasan, Pengurus Ponpes Pesantren Al Barakah An Nur Khumairoh, Desa Klanceng.

Menurutnya, lembaga formal tetap masuk seperti biasa di bulan Ramadan. Santri yang bermukim juga tetap wajib mengikuti kegiatan pondok setelah selesai jam sekolah formal. Berbeda dengan santri yang masih PAUD sampai MI. Sebab, mereka tidak bermukim di pesantren.

Program pendidikan pesantren ini meliputi PAUD, RA, MI, MTs, MA, dan madrasah diniyah. Untuk santri jenjang PAUD sampai MI tidak diwajibkan bermukim oleh pesantren. Sementara itu, santri jenjang di atasnya wajib bermukim, serta tidak menerima santri yang pulang pergi dari rumah. “Karena bahaya kepada yang bermukim ketika menerima santri yang pulang pergi. Khawatir pergaulan dari luar mengganggu konsentrasi santri yang mondok,” kata Hasan.

Demi menyiapkan lulusan yang unggul, Ponpes Al-Barakah Al-Nur Khumairoh memberikan pembelajaran kolaborasi tiga kurikulum sekaligus. Masing-masing adalah kurikulum dari Kementerian Agama (Kemenag), kurikulum Kulliyatul Mua’llimina Al-Islamiyyah yang diadopsi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, serta kurikulum madrasah diniyah yang diadopsi dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. “Jadi, kalau siang hari kami menerapkan pendidikan modern, sedangkan malam harinya kegiatan salafnya. Jadinya seimbang antara ilmu agama dengan ilmu umum,” pungkasnya. (mg4/c2/dwi)

- Advertisement -

Seimbangkan Ilmu Agama dengan Umum

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh, siang kemarin (21/4), tampak sepi. Aktivitas minimarket, depo air minum, hingga lokasi menjahit untuk santri juga lengang. Tak ada kesibukan. Bagi masyarakat umum hal itu memang sedikit aneh, namun bagi warga yang akrab dengan lingkungan pesantren menjadi hal wajar. Sebab, pada Ramadan dan mendekati Lebaran menjadi hal lazim dan ciri khas pesantren, karena santrinya libur.

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh telah libur sejak 10 April lalu. Para santri akan menghabiskan sisa puasa bersama keluarganya di rumah masing-masing. Sebelum pulang, para santri mengikuti kegiatan Ramadan di pesantren seperti biasa. Mulai dari mengaji kitab kuning, Alquran, kegiatan sekolah formal, hingga kegiatan khusus di bulan Ramadan. “Seperti biasa, pondok Ramadan di sini tadarus, salat berjamaah, dan ngaji kitab kuning. Namun, sekolah formal tetap masuk,” jelas Babun Hasan, Pengurus Ponpes Pesantren Al Barakah An Nur Khumairoh, Desa Klanceng.

Menurutnya, lembaga formal tetap masuk seperti biasa di bulan Ramadan. Santri yang bermukim juga tetap wajib mengikuti kegiatan pondok setelah selesai jam sekolah formal. Berbeda dengan santri yang masih PAUD sampai MI. Sebab, mereka tidak bermukim di pesantren.

Program pendidikan pesantren ini meliputi PAUD, RA, MI, MTs, MA, dan madrasah diniyah. Untuk santri jenjang PAUD sampai MI tidak diwajibkan bermukim oleh pesantren. Sementara itu, santri jenjang di atasnya wajib bermukim, serta tidak menerima santri yang pulang pergi dari rumah. “Karena bahaya kepada yang bermukim ketika menerima santri yang pulang pergi. Khawatir pergaulan dari luar mengganggu konsentrasi santri yang mondok,” kata Hasan.

Demi menyiapkan lulusan yang unggul, Ponpes Al-Barakah Al-Nur Khumairoh memberikan pembelajaran kolaborasi tiga kurikulum sekaligus. Masing-masing adalah kurikulum dari Kementerian Agama (Kemenag), kurikulum Kulliyatul Mua’llimina Al-Islamiyyah yang diadopsi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, serta kurikulum madrasah diniyah yang diadopsi dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. “Jadi, kalau siang hari kami menerapkan pendidikan modern, sedangkan malam harinya kegiatan salafnya. Jadinya seimbang antara ilmu agama dengan ilmu umum,” pungkasnya. (mg4/c2/dwi)

Seimbangkan Ilmu Agama dengan Umum

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh, siang kemarin (21/4), tampak sepi. Aktivitas minimarket, depo air minum, hingga lokasi menjahit untuk santri juga lengang. Tak ada kesibukan. Bagi masyarakat umum hal itu memang sedikit aneh, namun bagi warga yang akrab dengan lingkungan pesantren menjadi hal wajar. Sebab, pada Ramadan dan mendekati Lebaran menjadi hal lazim dan ciri khas pesantren, karena santrinya libur.

Ponpes Al Barakah An Nur Khumairoh telah libur sejak 10 April lalu. Para santri akan menghabiskan sisa puasa bersama keluarganya di rumah masing-masing. Sebelum pulang, para santri mengikuti kegiatan Ramadan di pesantren seperti biasa. Mulai dari mengaji kitab kuning, Alquran, kegiatan sekolah formal, hingga kegiatan khusus di bulan Ramadan. “Seperti biasa, pondok Ramadan di sini tadarus, salat berjamaah, dan ngaji kitab kuning. Namun, sekolah formal tetap masuk,” jelas Babun Hasan, Pengurus Ponpes Pesantren Al Barakah An Nur Khumairoh, Desa Klanceng.

Menurutnya, lembaga formal tetap masuk seperti biasa di bulan Ramadan. Santri yang bermukim juga tetap wajib mengikuti kegiatan pondok setelah selesai jam sekolah formal. Berbeda dengan santri yang masih PAUD sampai MI. Sebab, mereka tidak bermukim di pesantren.

Program pendidikan pesantren ini meliputi PAUD, RA, MI, MTs, MA, dan madrasah diniyah. Untuk santri jenjang PAUD sampai MI tidak diwajibkan bermukim oleh pesantren. Sementara itu, santri jenjang di atasnya wajib bermukim, serta tidak menerima santri yang pulang pergi dari rumah. “Karena bahaya kepada yang bermukim ketika menerima santri yang pulang pergi. Khawatir pergaulan dari luar mengganggu konsentrasi santri yang mondok,” kata Hasan.

Demi menyiapkan lulusan yang unggul, Ponpes Al-Barakah Al-Nur Khumairoh memberikan pembelajaran kolaborasi tiga kurikulum sekaligus. Masing-masing adalah kurikulum dari Kementerian Agama (Kemenag), kurikulum Kulliyatul Mua’llimina Al-Islamiyyah yang diadopsi dari Pondok Modern Darussalam Gontor, serta kurikulum madrasah diniyah yang diadopsi dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. “Jadi, kalau siang hari kami menerapkan pendidikan modern, sedangkan malam harinya kegiatan salafnya. Jadinya seimbang antara ilmu agama dengan ilmu umum,” pungkasnya. (mg4/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/