alexametrics
24.6 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Sembilan Mahasiswa Prakarsai Adgendseks Street, Rumah Aman di UIN KHAS Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan seksual belakangan ini kerap terjadi. Bahkan juga menyasar civitas akademika di kampus. Baik dilakukan dengan kontak fisik, perkataan, juga via online.

Seperti kekerasan seksual berbasis gender online (KGBO) yang belum lama ini terjadi pada beberapa mahasiswi di Jember. Sebagai lembaga perguruan tinggi, Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berupaya memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap potensi kejadian tersebut.

Advokasi Gender dan Seksual (Adgendseks Street) UIN KHAS Jember. Sebuah komunitas berbasis gender yang diprakasai oleh sembilan mahasiswa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Abdur Rahman Wahid, salah satunya. Berawal dari kecemasannya terhadap keamanan mahasiswa, akhirnya lelaki yang kerap disapa Aab ini bersama delapan temannya merumuskan komunitas yang berbasis gender. Kemudian, diikuti dengan koordinasi tentang regulasi terhadap Pusat Studi Gender (PSG) kepada pihak kampus. Lembaga ini mulai diresmikan, Kamis (17/6).

“Pendirian itu kami sepakat untuk berkomitmen mengawal kasus-kasus yang ada di kampus. Untuk menjadi teman advokasi atau kawan curhat korban yang mau speak up,” katanya.

Setelah komunitas dirumuskan, para pendiri Adgendseks Street pun mengonsultasikan kepada pihak dosen, yakni Inayatul Anisah. Tak lama setelah itu, Inayatul yang juga sebagai pembina Adgendseks Street meresmikan lembaga tersebut agar terus berjalan ke depannya.

“Kami berkomitmen untuk bertemu dengan Ibu Inayah, dan memosisikan dirinya sebagai pembina,” imbuh Aab.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan seksual belakangan ini kerap terjadi. Bahkan juga menyasar civitas akademika di kampus. Baik dilakukan dengan kontak fisik, perkataan, juga via online.

Seperti kekerasan seksual berbasis gender online (KGBO) yang belum lama ini terjadi pada beberapa mahasiswi di Jember. Sebagai lembaga perguruan tinggi, Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berupaya memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap potensi kejadian tersebut.

Advokasi Gender dan Seksual (Adgendseks Street) UIN KHAS Jember. Sebuah komunitas berbasis gender yang diprakasai oleh sembilan mahasiswa.

Abdur Rahman Wahid, salah satunya. Berawal dari kecemasannya terhadap keamanan mahasiswa, akhirnya lelaki yang kerap disapa Aab ini bersama delapan temannya merumuskan komunitas yang berbasis gender. Kemudian, diikuti dengan koordinasi tentang regulasi terhadap Pusat Studi Gender (PSG) kepada pihak kampus. Lembaga ini mulai diresmikan, Kamis (17/6).

“Pendirian itu kami sepakat untuk berkomitmen mengawal kasus-kasus yang ada di kampus. Untuk menjadi teman advokasi atau kawan curhat korban yang mau speak up,” katanya.

Setelah komunitas dirumuskan, para pendiri Adgendseks Street pun mengonsultasikan kepada pihak dosen, yakni Inayatul Anisah. Tak lama setelah itu, Inayatul yang juga sebagai pembina Adgendseks Street meresmikan lembaga tersebut agar terus berjalan ke depannya.

“Kami berkomitmen untuk bertemu dengan Ibu Inayah, dan memosisikan dirinya sebagai pembina,” imbuh Aab.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan seksual belakangan ini kerap terjadi. Bahkan juga menyasar civitas akademika di kampus. Baik dilakukan dengan kontak fisik, perkataan, juga via online.

Seperti kekerasan seksual berbasis gender online (KGBO) yang belum lama ini terjadi pada beberapa mahasiswi di Jember. Sebagai lembaga perguruan tinggi, Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, berupaya memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap potensi kejadian tersebut.

Advokasi Gender dan Seksual (Adgendseks Street) UIN KHAS Jember. Sebuah komunitas berbasis gender yang diprakasai oleh sembilan mahasiswa.

Abdur Rahman Wahid, salah satunya. Berawal dari kecemasannya terhadap keamanan mahasiswa, akhirnya lelaki yang kerap disapa Aab ini bersama delapan temannya merumuskan komunitas yang berbasis gender. Kemudian, diikuti dengan koordinasi tentang regulasi terhadap Pusat Studi Gender (PSG) kepada pihak kampus. Lembaga ini mulai diresmikan, Kamis (17/6).

“Pendirian itu kami sepakat untuk berkomitmen mengawal kasus-kasus yang ada di kampus. Untuk menjadi teman advokasi atau kawan curhat korban yang mau speak up,” katanya.

Setelah komunitas dirumuskan, para pendiri Adgendseks Street pun mengonsultasikan kepada pihak dosen, yakni Inayatul Anisah. Tak lama setelah itu, Inayatul yang juga sebagai pembina Adgendseks Street meresmikan lembaga tersebut agar terus berjalan ke depannya.

“Kami berkomitmen untuk bertemu dengan Ibu Inayah, dan memosisikan dirinya sebagai pembina,” imbuh Aab.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/