alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Waswas Tarif UKT Membengkak

Imbas Penetapan Unej sebagai BLU

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir 2020 lalu, Universitas Jember (Unej) resmi mendeklarasikan diri sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Sebagian mahasiswa menyangsikan eksistensi BLU. Sebab, dikhawatirkan berdampak terhadap biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang harus dibayarkan mahasiswa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, khawatir BLU dapat memengaruhi tarif UKT. Sejatinya, kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Jika dirunut, kelompok mahasiswa kerap mempertanyakan BLU. Terakhir, penyampaian tuntutan kejelasan eksistensi BLU diutarakan dalam audiensi yang berlangsung pada 12 Maret lalu.

Hingga saat ini, golongan mahasiswa dari gabungan organisasi itu juga tengah melakukan pengumpulan data terkait eksistensi BLU yang memengaruhi kebijakan kampus. “Tapi masih nyari data. Kemarin di fakultas teknik, untuk golongan satu atau yang paling rendah tidak ada,” kata Ainur Rizqi, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, kemarin (20/4).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, kekhawatiran adanya kenaikan UKT akibat eksistensi BLU muncul lantaran jasa, misalnya jasa layanan kesehatan, yang ditawarkan Unej masih belum menjanjikan atau kurang maksimal. Ia pun membandingkan dengan beberapa kampus bonafide yang telah memiliki BLU. “Esensi dari rumah sakit ini bisa tidak maksimal seperti dengan Unair (Universitas Airlangga Surabaya). Ngomong layanan pun tidak maksimal,” ungkap Rizki.

Di sisi lain, mengenai anggaran, saat ini Unej memiliki kewenangan untuk mengelola mandiri. Mahasiswa menjadi waswas. Sebab, jika kampus tidak memiliki kesiapan untuk melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri, maka besar kemungkinan sumber dana untuk anggaran kampus sepenuhnya berasal dari UKT mahasiswa. “Kalau tidak mempunyai kesiapan anggaran, sumber dananya dari mana? Wong diminta mandiri untuk mengelola keuangan. Kalau tidak dari UKT, dari mana lagi penghasilan perguruan tinggi,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir 2020 lalu, Universitas Jember (Unej) resmi mendeklarasikan diri sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Sebagian mahasiswa menyangsikan eksistensi BLU. Sebab, dikhawatirkan berdampak terhadap biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang harus dibayarkan mahasiswa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, khawatir BLU dapat memengaruhi tarif UKT. Sejatinya, kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Jika dirunut, kelompok mahasiswa kerap mempertanyakan BLU. Terakhir, penyampaian tuntutan kejelasan eksistensi BLU diutarakan dalam audiensi yang berlangsung pada 12 Maret lalu.

Hingga saat ini, golongan mahasiswa dari gabungan organisasi itu juga tengah melakukan pengumpulan data terkait eksistensi BLU yang memengaruhi kebijakan kampus. “Tapi masih nyari data. Kemarin di fakultas teknik, untuk golongan satu atau yang paling rendah tidak ada,” kata Ainur Rizqi, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, kemarin (20/4).

Dia menjelaskan, kekhawatiran adanya kenaikan UKT akibat eksistensi BLU muncul lantaran jasa, misalnya jasa layanan kesehatan, yang ditawarkan Unej masih belum menjanjikan atau kurang maksimal. Ia pun membandingkan dengan beberapa kampus bonafide yang telah memiliki BLU. “Esensi dari rumah sakit ini bisa tidak maksimal seperti dengan Unair (Universitas Airlangga Surabaya). Ngomong layanan pun tidak maksimal,” ungkap Rizki.

Di sisi lain, mengenai anggaran, saat ini Unej memiliki kewenangan untuk mengelola mandiri. Mahasiswa menjadi waswas. Sebab, jika kampus tidak memiliki kesiapan untuk melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri, maka besar kemungkinan sumber dana untuk anggaran kampus sepenuhnya berasal dari UKT mahasiswa. “Kalau tidak mempunyai kesiapan anggaran, sumber dananya dari mana? Wong diminta mandiri untuk mengelola keuangan. Kalau tidak dari UKT, dari mana lagi penghasilan perguruan tinggi,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Akhir 2020 lalu, Universitas Jember (Unej) resmi mendeklarasikan diri sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Sebagian mahasiswa menyangsikan eksistensi BLU. Sebab, dikhawatirkan berdampak terhadap biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang harus dibayarkan mahasiswa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, khawatir BLU dapat memengaruhi tarif UKT. Sejatinya, kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Jika dirunut, kelompok mahasiswa kerap mempertanyakan BLU. Terakhir, penyampaian tuntutan kejelasan eksistensi BLU diutarakan dalam audiensi yang berlangsung pada 12 Maret lalu.

Hingga saat ini, golongan mahasiswa dari gabungan organisasi itu juga tengah melakukan pengumpulan data terkait eksistensi BLU yang memengaruhi kebijakan kampus. “Tapi masih nyari data. Kemarin di fakultas teknik, untuk golongan satu atau yang paling rendah tidak ada,” kata Ainur Rizqi, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka, kemarin (20/4).

Dia menjelaskan, kekhawatiran adanya kenaikan UKT akibat eksistensi BLU muncul lantaran jasa, misalnya jasa layanan kesehatan, yang ditawarkan Unej masih belum menjanjikan atau kurang maksimal. Ia pun membandingkan dengan beberapa kampus bonafide yang telah memiliki BLU. “Esensi dari rumah sakit ini bisa tidak maksimal seperti dengan Unair (Universitas Airlangga Surabaya). Ngomong layanan pun tidak maksimal,” ungkap Rizki.

Di sisi lain, mengenai anggaran, saat ini Unej memiliki kewenangan untuk mengelola mandiri. Mahasiswa menjadi waswas. Sebab, jika kampus tidak memiliki kesiapan untuk melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri, maka besar kemungkinan sumber dana untuk anggaran kampus sepenuhnya berasal dari UKT mahasiswa. “Kalau tidak mempunyai kesiapan anggaran, sumber dananya dari mana? Wong diminta mandiri untuk mengelola keuangan. Kalau tidak dari UKT, dari mana lagi penghasilan perguruan tinggi,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/