alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Sekolah Punya Dua Opsi Kurikulum

Untuk Memulihkan Hasil Belajar Siswa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awal pekan, SD dan SMP mulai menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, selama dua semester pembelajaran daring, berimbas pada capaian belajar siswa. Banyak siswa yang kehilangan pengetahuan dan keterampilan dari yang sudah dipelajari sebelumnya atau ‘learning loss’. Terutama mereka yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah. Kondisi ini berpotensi memunculkan kesenjangan antarmurid dan antarsekolah.

Selama pandemi, murid dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dengan level pendidikan orang tua rendah, memiliki kesempatan belajar lebih sedikit. Biasanya mereka tinggal di daerah kecamatan pinggiran. Sedangkan di kawasan perkotaan, kondisinya sangat kontras. Sekolah masih punya cara mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran daring.

Beberapa sekolah yang mewakili perkotaan, misalnya di SMP Negeri 07 Jember dan SMP Negeri 02 Jenggawah, dua lembaga pendidikan ini masih bisa memfasilitasi siswa agar datang ke sekolah untuk mengakses internet. Siswa juga bisa memanfaatkan komputer sekolah selama pembelajaran daring berlangsung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, di daerah lain seperti SMP Negeri 02 Sumberjambe, yang lokasinya berada di pinggiran, proses pembelajaran daring banyak terkendala. Bahkan, sebagian muridnya juga absen mengikuti pembelajaran. Musababnya, akses internet di sana terbatas. Baik akses jaringan maupun kemampuan untuk membeli paket data seluler.

Oleh karena itu, penutupan sekolah selama pandemi berlangsung dinilai dapat memperparah kesenjangan siswa dan sekolah yang sejak dulu memang sudah terjadi. Siswa yang bersekolah di pinggiran juga rentan mengalami ketertinggalan belajar. “Murid-murid yang tidak bisa, jadi semakin tidak bisa. Karena HP tidak punya. Sinyal tidak ada. Mereka lebih memilih membantu orang tua cari kayu (ketimbang belajar, Red),” ungkap Hadrianus, Kepala SMP Negeri 02 Sumberjambe.

Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Dimyati mengakui, hasil belajar selama pembelajaran daring memang tidak normal. Apalagi pembentukan karakter siswa. “Karena kami tidak bisa memonitor kemajuan siswa. Normalnya, ada pemantauan saat pembelajaran di kelas,” kata guru yang juga Kepala SMP Negeri 02 Jenggawah tersebut.

Oleh karena itu, dia menambahkan, ketika PTM mulai dilaksanakan, sekolah tidak hanya wajib menjamin keselamatan siswa dengan pelaksanaan protokol kesehatan (proskes) yang ketat. Namun, lebih dari itu. Sekolah juga harus fokus pada penanganan dampak buruk akibat hilangnya capaian belajar siswa. Sekolah juga perlu melakukan adaptasi pembelajaran dan kurikulum. Mengingat, terjadi kehilangan capaian belajar yang tidak sama antarkelompok murid.

Menurut dia, dalam kondisi ini sekolah memiliki dua alternatif untuk mengejar ketertinggalan mutu belajar selama pandemi. Yakni menggunakan kurikulum yang dibuat Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) yang memberikan alternatif untuk menyederhanakan kurikulum sebelumnya. Dan yang kedua, guru bisa membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan sekolah. Kurikulum itu paling tidak menangkap hal-hal pokok yang dibutuhkan siswa. “Ini yang kami buat di sekolah,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awal pekan, SD dan SMP mulai menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, selama dua semester pembelajaran daring, berimbas pada capaian belajar siswa. Banyak siswa yang kehilangan pengetahuan dan keterampilan dari yang sudah dipelajari sebelumnya atau ‘learning loss’. Terutama mereka yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah. Kondisi ini berpotensi memunculkan kesenjangan antarmurid dan antarsekolah.

Selama pandemi, murid dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dengan level pendidikan orang tua rendah, memiliki kesempatan belajar lebih sedikit. Biasanya mereka tinggal di daerah kecamatan pinggiran. Sedangkan di kawasan perkotaan, kondisinya sangat kontras. Sekolah masih punya cara mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran daring.

Beberapa sekolah yang mewakili perkotaan, misalnya di SMP Negeri 07 Jember dan SMP Negeri 02 Jenggawah, dua lembaga pendidikan ini masih bisa memfasilitasi siswa agar datang ke sekolah untuk mengakses internet. Siswa juga bisa memanfaatkan komputer sekolah selama pembelajaran daring berlangsung.

Namun, di daerah lain seperti SMP Negeri 02 Sumberjambe, yang lokasinya berada di pinggiran, proses pembelajaran daring banyak terkendala. Bahkan, sebagian muridnya juga absen mengikuti pembelajaran. Musababnya, akses internet di sana terbatas. Baik akses jaringan maupun kemampuan untuk membeli paket data seluler.

Oleh karena itu, penutupan sekolah selama pandemi berlangsung dinilai dapat memperparah kesenjangan siswa dan sekolah yang sejak dulu memang sudah terjadi. Siswa yang bersekolah di pinggiran juga rentan mengalami ketertinggalan belajar. “Murid-murid yang tidak bisa, jadi semakin tidak bisa. Karena HP tidak punya. Sinyal tidak ada. Mereka lebih memilih membantu orang tua cari kayu (ketimbang belajar, Red),” ungkap Hadrianus, Kepala SMP Negeri 02 Sumberjambe.

Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Dimyati mengakui, hasil belajar selama pembelajaran daring memang tidak normal. Apalagi pembentukan karakter siswa. “Karena kami tidak bisa memonitor kemajuan siswa. Normalnya, ada pemantauan saat pembelajaran di kelas,” kata guru yang juga Kepala SMP Negeri 02 Jenggawah tersebut.

Oleh karena itu, dia menambahkan, ketika PTM mulai dilaksanakan, sekolah tidak hanya wajib menjamin keselamatan siswa dengan pelaksanaan protokol kesehatan (proskes) yang ketat. Namun, lebih dari itu. Sekolah juga harus fokus pada penanganan dampak buruk akibat hilangnya capaian belajar siswa. Sekolah juga perlu melakukan adaptasi pembelajaran dan kurikulum. Mengingat, terjadi kehilangan capaian belajar yang tidak sama antarkelompok murid.

Menurut dia, dalam kondisi ini sekolah memiliki dua alternatif untuk mengejar ketertinggalan mutu belajar selama pandemi. Yakni menggunakan kurikulum yang dibuat Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) yang memberikan alternatif untuk menyederhanakan kurikulum sebelumnya. Dan yang kedua, guru bisa membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan sekolah. Kurikulum itu paling tidak menangkap hal-hal pokok yang dibutuhkan siswa. “Ini yang kami buat di sekolah,” pungkasnya.

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Awal pekan, SD dan SMP mulai menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). Sebab, selama dua semester pembelajaran daring, berimbas pada capaian belajar siswa. Banyak siswa yang kehilangan pengetahuan dan keterampilan dari yang sudah dipelajari sebelumnya atau ‘learning loss’. Terutama mereka yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah. Kondisi ini berpotensi memunculkan kesenjangan antarmurid dan antarsekolah.

Selama pandemi, murid dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dengan level pendidikan orang tua rendah, memiliki kesempatan belajar lebih sedikit. Biasanya mereka tinggal di daerah kecamatan pinggiran. Sedangkan di kawasan perkotaan, kondisinya sangat kontras. Sekolah masih punya cara mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran daring.

Beberapa sekolah yang mewakili perkotaan, misalnya di SMP Negeri 07 Jember dan SMP Negeri 02 Jenggawah, dua lembaga pendidikan ini masih bisa memfasilitasi siswa agar datang ke sekolah untuk mengakses internet. Siswa juga bisa memanfaatkan komputer sekolah selama pembelajaran daring berlangsung.

Namun, di daerah lain seperti SMP Negeri 02 Sumberjambe, yang lokasinya berada di pinggiran, proses pembelajaran daring banyak terkendala. Bahkan, sebagian muridnya juga absen mengikuti pembelajaran. Musababnya, akses internet di sana terbatas. Baik akses jaringan maupun kemampuan untuk membeli paket data seluler.

Oleh karena itu, penutupan sekolah selama pandemi berlangsung dinilai dapat memperparah kesenjangan siswa dan sekolah yang sejak dulu memang sudah terjadi. Siswa yang bersekolah di pinggiran juga rentan mengalami ketertinggalan belajar. “Murid-murid yang tidak bisa, jadi semakin tidak bisa. Karena HP tidak punya. Sinyal tidak ada. Mereka lebih memilih membantu orang tua cari kayu (ketimbang belajar, Red),” ungkap Hadrianus, Kepala SMP Negeri 02 Sumberjambe.

Wakil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Dimyati mengakui, hasil belajar selama pembelajaran daring memang tidak normal. Apalagi pembentukan karakter siswa. “Karena kami tidak bisa memonitor kemajuan siswa. Normalnya, ada pemantauan saat pembelajaran di kelas,” kata guru yang juga Kepala SMP Negeri 02 Jenggawah tersebut.

Oleh karena itu, dia menambahkan, ketika PTM mulai dilaksanakan, sekolah tidak hanya wajib menjamin keselamatan siswa dengan pelaksanaan protokol kesehatan (proskes) yang ketat. Namun, lebih dari itu. Sekolah juga harus fokus pada penanganan dampak buruk akibat hilangnya capaian belajar siswa. Sekolah juga perlu melakukan adaptasi pembelajaran dan kurikulum. Mengingat, terjadi kehilangan capaian belajar yang tidak sama antarkelompok murid.

Menurut dia, dalam kondisi ini sekolah memiliki dua alternatif untuk mengejar ketertinggalan mutu belajar selama pandemi. Yakni menggunakan kurikulum yang dibuat Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) yang memberikan alternatif untuk menyederhanakan kurikulum sebelumnya. Dan yang kedua, guru bisa membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan sekolah. Kurikulum itu paling tidak menangkap hal-hal pokok yang dibutuhkan siswa. “Ini yang kami buat di sekolah,” pungkasnya.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/