alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Pemerintah Didesak Ungkap Jalur “Perbudakan” Singapura-Indonesia

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID – Migrant Care mendesak pemerintah Indonesia untuk terus berkoordinasi dan mengawal proses investigasi yang dilakukan Pemerintah Singapura. Ini terkait dengan “kasus iklan TKI” di Singapura yang dianggap merendahkan martabat pekerja migran di Indonesia.

“Tidak sekedar mengecam. Karena poin kita, ini bukan yang pertama di Singapura. Dulu pernah ada. Dan bahkan di beberapa mall di sana itu dipajang iklannya,” tutur Ketua Pusat Studi Migrasi-Migrant Care, Anis Hidayah saat berbicara dalam seminar internasional bertajuk “Narrating Human Rights: Issues of Migration, Discrimination and Protection of Human Rights in Southeast Asia” yang digelar di Gedung FKIP Universitas Jember.

Meski telah dikecam, lanjut Anis, beberapa mall di Singapura bahkan masih memajang iklan yang bernada perbudakan terhadap pekerja migran asal Indonesia tersebut. “Lengkap dengan tarifnya. Yang dari Kalimantan berapa, Jawa berapa dan seterusnya,” tutur alumnus FISIP Unej ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di satu sisi, Migrant Care mengapresiasi sikap responsif Pemerintah Indonesia yang langsung mengirimkan nota protes diplomatik ke Pemerintah Singapura atas kasus iklan ini. Namun yang lebih penting adalah pengawalan atas proses pengungkapan yang kini sedang dilakukan aparat penegak hukum setempat. “Ini penting, untuk mengetahui, mereka ini terkoneksi di Indonesia dengan agensi yang mana. Karena ini sudah masuk jaringan internasional Human trafficking, ” tegas Anis.

Kasus ini menjadi gambaran tentang betapa buruknya cara pandang agensi yang terindikasi terlibat sindikat Human traficking terhadap pekerja migran asal Indonesia.

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID – Migrant Care mendesak pemerintah Indonesia untuk terus berkoordinasi dan mengawal proses investigasi yang dilakukan Pemerintah Singapura. Ini terkait dengan “kasus iklan TKI” di Singapura yang dianggap merendahkan martabat pekerja migran di Indonesia.

“Tidak sekedar mengecam. Karena poin kita, ini bukan yang pertama di Singapura. Dulu pernah ada. Dan bahkan di beberapa mall di sana itu dipajang iklannya,” tutur Ketua Pusat Studi Migrasi-Migrant Care, Anis Hidayah saat berbicara dalam seminar internasional bertajuk “Narrating Human Rights: Issues of Migration, Discrimination and Protection of Human Rights in Southeast Asia” yang digelar di Gedung FKIP Universitas Jember.

Meski telah dikecam, lanjut Anis, beberapa mall di Singapura bahkan masih memajang iklan yang bernada perbudakan terhadap pekerja migran asal Indonesia tersebut. “Lengkap dengan tarifnya. Yang dari Kalimantan berapa, Jawa berapa dan seterusnya,” tutur alumnus FISIP Unej ini.

Di satu sisi, Migrant Care mengapresiasi sikap responsif Pemerintah Indonesia yang langsung mengirimkan nota protes diplomatik ke Pemerintah Singapura atas kasus iklan ini. Namun yang lebih penting adalah pengawalan atas proses pengungkapan yang kini sedang dilakukan aparat penegak hukum setempat. “Ini penting, untuk mengetahui, mereka ini terkoneksi di Indonesia dengan agensi yang mana. Karena ini sudah masuk jaringan internasional Human trafficking, ” tegas Anis.

Kasus ini menjadi gambaran tentang betapa buruknya cara pandang agensi yang terindikasi terlibat sindikat Human traficking terhadap pekerja migran asal Indonesia.

RADARJEMBER.ID – Migrant Care mendesak pemerintah Indonesia untuk terus berkoordinasi dan mengawal proses investigasi yang dilakukan Pemerintah Singapura. Ini terkait dengan “kasus iklan TKI” di Singapura yang dianggap merendahkan martabat pekerja migran di Indonesia.

“Tidak sekedar mengecam. Karena poin kita, ini bukan yang pertama di Singapura. Dulu pernah ada. Dan bahkan di beberapa mall di sana itu dipajang iklannya,” tutur Ketua Pusat Studi Migrasi-Migrant Care, Anis Hidayah saat berbicara dalam seminar internasional bertajuk “Narrating Human Rights: Issues of Migration, Discrimination and Protection of Human Rights in Southeast Asia” yang digelar di Gedung FKIP Universitas Jember.

Meski telah dikecam, lanjut Anis, beberapa mall di Singapura bahkan masih memajang iklan yang bernada perbudakan terhadap pekerja migran asal Indonesia tersebut. “Lengkap dengan tarifnya. Yang dari Kalimantan berapa, Jawa berapa dan seterusnya,” tutur alumnus FISIP Unej ini.

Di satu sisi, Migrant Care mengapresiasi sikap responsif Pemerintah Indonesia yang langsung mengirimkan nota protes diplomatik ke Pemerintah Singapura atas kasus iklan ini. Namun yang lebih penting adalah pengawalan atas proses pengungkapan yang kini sedang dilakukan aparat penegak hukum setempat. “Ini penting, untuk mengetahui, mereka ini terkoneksi di Indonesia dengan agensi yang mana. Karena ini sudah masuk jaringan internasional Human trafficking, ” tegas Anis.

Kasus ini menjadi gambaran tentang betapa buruknya cara pandang agensi yang terindikasi terlibat sindikat Human traficking terhadap pekerja migran asal Indonesia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/