Angin Segar, Tapi Perlu Dikaji Mendalam

RADARJEMBER.IDNama KH Ahmad Shiddiq sebagai peralihan status dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) menuai banyak pandangan dari berbagai pihak. Mulai pandangan yang mendukung, hingga mereka yang sedikit keberatan dengan peralihan status tersebut.

IKLAN

Meskipun menyampaikan pandangan yang berbeda, beberapa pendapat dari mahasiswa itu disebut-sebut mewakili aspirasi masing-masing kelompok mahasiswa.

Dimana para kelompok itu menjadi komunitas terbesar di kampus yang tentu memiliki pengaruh yang kuat. Seperti para aktivis intra dan aktivis ekstra kampus.

Salah satu dari mereka dari kalangan intra adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Institut (BEM-I). Presiden Mahasiswa Muhammad Yusuf menuturkan, bahwa ada dua pola untuk membahas alih status dari IAIN menuju UIN.

“Pertama dari aspek sumber daya manusia (SDM) mahasiswa. Jika kualitas atau kemampuan akademik masih dirasa kurang bersaing dengan kampus ternama, maka peralihan status hanya simbolik saja dan tidak substansial,” tuturnya. Selain itu, elektabilitas kampus menurutnya masih tidak mempunyai arah progresivitas yang jelas dan terstruktur.

Sedangkan untuk penamaan KH Ahmad Shiddiq, mahasiswa asal Probolinggo itu juga berpendapat bahwa nama tersebut dianggapnya memiliki andil besar dalam berdirinya kampus. “Cuma kalau nama KH Ahmad Shiddiq sangat layak untuk diangkat. Tapi jika hanya sebagai ‘sorban’ penutup kekurangan kampus, sebaiknya dikaji ulang,” jelasnya.

Lain halnya tanggapan yang diberikan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAIN Jember. Ketua Komisariat PMII IAIN Jember Edi Zubaidi mengatakan, perihal pergantian nama kampus menjadi UIN itu sempat menjadi perbincangan di internal organisasinya. Menurutnya, peralihan status itu tidak ujug-ujug terealisasikan, namun harus lewat beberapa faktor lain yang juga dipertimbangkan.

“Kami sempat mengkaji PMA No 15 tentang persyaratan peralihan status kampus PTKIN. Disitu tertulis jelas, ada tujuh poin persyaratannya,” tuturnya.

Menurutnya, ketujuh poin itu belum memenuhi kriteria dari kondisi IAIN Jember saat ini. Seperti dari fasilitas, ketersediaan guru besar, dan pelayanan. “Kami apresiasi peralihan itu. Tapi jangan sampai di kemudian hari, ada bacaan: kuliah di UIN rasa IAIN,” ujarnya.

Peralihan status itu dianggapnya sebagai angin segar terlebih kepada para mahasiswanya. Selain itu, ketokohan KH Ahmad Shiddiq yang dianggap cukup memiliki pengaruh yang kuat, baik untuk Jember sendiri dan skala nasional.

“Ketokohan KH Ahmad Shiddiq sudah cocok dengan visi kampus sebagai pusat dan pengembangan Islam nusantara. Tapi, itu semua hambar jika ketujuh syarat UIN itu masih belum jelas,” ungkapnya.

Lain hal yang diungkapkan oleh Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Sunan Ampel IAIN Jember. Ketua Komisariat HMI IAIN Jember Nur Cholisuddin Hafazah, mengatakan, peralihan status itu cukup membanggakan. Hal itu dianggapnya sebuah  merupakan hal positif yang tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa aktif, tetapi juga mahasiswa baru yang mulai mendaftarkan diri di kampus tersebut.

Namun, dia juga mengungkapkan kalau wacana peralihan status itu menurutnya sudah terdengar sejak 2016 lalu dan setiap penerimaan mahasiswa baru.

Dia tidak menginginkan peralihan itu hanya sekadar isu yang mencuat. Hal itu seolah ingin memperkuat semangat mahasiswa dalam kuliah. “Ditakutkan itu hanya narasi yang disampaikan ketika perekrutan mahasiswa baru. Setelah itu hilang begitu saja,” tutur mahasiswa asal Situbondo itu.

Dia berharap, peralihan itu memang terlaksana dan tidak sekadar menjadi bumbu penyedap kampus. “Yang terpenting terlaksana dulu. Dan tokoh yang dijadikan nama kampus itu mampu membawa kebaikan searah dengan visi-misi kampus,” jelasnya.

Reporter :

Fotografer :

Editor : Hadi Sumarsono