alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Dirikan Ponpes Setelah Wakaf Tanah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pondok pesantren (Ponpes) Baitul Mu’minin berdiri sejak tahun 1992 di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Kiai Atthor Hatta, Ketua Yayasan Pendidikan Pesantren (YPP) Baitul Mu’minin, menyebut, banyak hal yang dilakukan, termasuk fokus mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada para santri.

Baca Juga : Cincau Hitam, Kenyal, Bikin Nagih, Teman Takjil Berbuka Puasa

Pada awal berdirinya, pondok pesantren (ponpes) ini mulai membangun kesadaran beragama bagi masyarakat. Menanamkan semangat pendidikan sejak dini agar matang begitu dewasa. Kondisi ini yang membawa semangat berdirinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dulu yang diinginkan sebenarnya SMP saja. Bukan pondok. Orang tua saya wakaf tanah dan akhirnya SMP Negeri 2 Bangsalsari ditaruh di sini. Setelah itu, baru dibangun pesantren,” jelas Kiai Atthor, panggilan akrabnya. Adanya SMP negeri tersebut telah membangkitkan kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya.

Lambat laun, banyaknya siswa SMP tersebut beriringan dengan kebutuhan asrama bagi siswa. Terutama yang dari luar kecamatan maupun luar kota. Pada tahun tersebut didirikan Ponpes Baitul Mu’minin sebagai asrama bagi siswa. “Awalnya pesantren ini saling kolaborasi dengan SMP itu. Siswanya banyak yang dari jauh-jauh, sehingga butuh asrama. Karenanya, didirikan pesantren di tahun itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Akhirnya, santri yang mondok rata-rata siswa SMP. Namun, setelah melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, pesantren memutuskan untuk membangun SMK swasta milik pesantren, juga raudatul atfal (RA) untuk kanak-kanak. “Melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, setelah SMP, mereka bisa lanjut di pondok dengan lembaga yang tersedia. Sementara, masyarakat juga menyekolahkan anaknya di RA kami,” terangnya.

Berkaitan dengan itu, terjadi koordinasi yang baik antara pihak SMP negeri dengan pesantren. Keberadaan mereka di desa sebagai wadah saling melengkapi kebutuhan masyarakat. Hal ini yang perlu diacungi jempol dalam potret pendidikan. “Kita sama-sama berbakti kepada masyarakat. SMP negeri, pesantren, kemudian SMK dan RA. Meski berbeda pengelolaan, tapi tingkatannya saling melengkapi,” jelasnya. 

Liburan Santri Ikut Sekolah Formal

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pondok pesantren (Ponpes) Baitul Mu’minin berdiri sejak tahun 1992 di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Kiai Atthor Hatta, Ketua Yayasan Pendidikan Pesantren (YPP) Baitul Mu’minin, menyebut, banyak hal yang dilakukan, termasuk fokus mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada para santri.

Baca Juga : Cincau Hitam, Kenyal, Bikin Nagih, Teman Takjil Berbuka Puasa

Pada awal berdirinya, pondok pesantren (ponpes) ini mulai membangun kesadaran beragama bagi masyarakat. Menanamkan semangat pendidikan sejak dini agar matang begitu dewasa. Kondisi ini yang membawa semangat berdirinya.

“Dulu yang diinginkan sebenarnya SMP saja. Bukan pondok. Orang tua saya wakaf tanah dan akhirnya SMP Negeri 2 Bangsalsari ditaruh di sini. Setelah itu, baru dibangun pesantren,” jelas Kiai Atthor, panggilan akrabnya. Adanya SMP negeri tersebut telah membangkitkan kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya.

Lambat laun, banyaknya siswa SMP tersebut beriringan dengan kebutuhan asrama bagi siswa. Terutama yang dari luar kecamatan maupun luar kota. Pada tahun tersebut didirikan Ponpes Baitul Mu’minin sebagai asrama bagi siswa. “Awalnya pesantren ini saling kolaborasi dengan SMP itu. Siswanya banyak yang dari jauh-jauh, sehingga butuh asrama. Karenanya, didirikan pesantren di tahun itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Akhirnya, santri yang mondok rata-rata siswa SMP. Namun, setelah melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, pesantren memutuskan untuk membangun SMK swasta milik pesantren, juga raudatul atfal (RA) untuk kanak-kanak. “Melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, setelah SMP, mereka bisa lanjut di pondok dengan lembaga yang tersedia. Sementara, masyarakat juga menyekolahkan anaknya di RA kami,” terangnya.

Berkaitan dengan itu, terjadi koordinasi yang baik antara pihak SMP negeri dengan pesantren. Keberadaan mereka di desa sebagai wadah saling melengkapi kebutuhan masyarakat. Hal ini yang perlu diacungi jempol dalam potret pendidikan. “Kita sama-sama berbakti kepada masyarakat. SMP negeri, pesantren, kemudian SMK dan RA. Meski berbeda pengelolaan, tapi tingkatannya saling melengkapi,” jelasnya. 

Liburan Santri Ikut Sekolah Formal

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pondok pesantren (Ponpes) Baitul Mu’minin berdiri sejak tahun 1992 di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember. Kiai Atthor Hatta, Ketua Yayasan Pendidikan Pesantren (YPP) Baitul Mu’minin, menyebut, banyak hal yang dilakukan, termasuk fokus mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada para santri.

Baca Juga : Cincau Hitam, Kenyal, Bikin Nagih, Teman Takjil Berbuka Puasa

Pada awal berdirinya, pondok pesantren (ponpes) ini mulai membangun kesadaran beragama bagi masyarakat. Menanamkan semangat pendidikan sejak dini agar matang begitu dewasa. Kondisi ini yang membawa semangat berdirinya.

“Dulu yang diinginkan sebenarnya SMP saja. Bukan pondok. Orang tua saya wakaf tanah dan akhirnya SMP Negeri 2 Bangsalsari ditaruh di sini. Setelah itu, baru dibangun pesantren,” jelas Kiai Atthor, panggilan akrabnya. Adanya SMP negeri tersebut telah membangkitkan kemauan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya.

Lambat laun, banyaknya siswa SMP tersebut beriringan dengan kebutuhan asrama bagi siswa. Terutama yang dari luar kecamatan maupun luar kota. Pada tahun tersebut didirikan Ponpes Baitul Mu’minin sebagai asrama bagi siswa. “Awalnya pesantren ini saling kolaborasi dengan SMP itu. Siswanya banyak yang dari jauh-jauh, sehingga butuh asrama. Karenanya, didirikan pesantren di tahun itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Akhirnya, santri yang mondok rata-rata siswa SMP. Namun, setelah melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, pesantren memutuskan untuk membangun SMK swasta milik pesantren, juga raudatul atfal (RA) untuk kanak-kanak. “Melihat kebutuhan siswa dan masyarakat, setelah SMP, mereka bisa lanjut di pondok dengan lembaga yang tersedia. Sementara, masyarakat juga menyekolahkan anaknya di RA kami,” terangnya.

Berkaitan dengan itu, terjadi koordinasi yang baik antara pihak SMP negeri dengan pesantren. Keberadaan mereka di desa sebagai wadah saling melengkapi kebutuhan masyarakat. Hal ini yang perlu diacungi jempol dalam potret pendidikan. “Kita sama-sama berbakti kepada masyarakat. SMP negeri, pesantren, kemudian SMK dan RA. Meski berbeda pengelolaan, tapi tingkatannya saling melengkapi,” jelasnya. 

Liburan Santri Ikut Sekolah Formal

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/