Banyak GTT Belum Dapat Surat Penugasan

WAWAN DWI/RADAR JEMBER NASIB GTT: Guru SMPN 1 Balung menunjukkan data GTT yang tidak mendapatkan SP, serta ada jumlah SP yang tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah.

RADARJEMBER.ID –  – Persoalan terkait guru tidak tetap (GTT) masih saja terjadi. Kemarin, sejumlah GTT mempertanyakan surat penugasan (SP). Perwakilan GTT itu ikut hadir dalam rapat paripurna di Gedung DRPD Jember.

IKLAN

Ilham Wahyudi, guru SMPN 1 Balung bersama rekan-rekannya kemarin langsung menemui Wakil Bupati KH Muqit Arief usai rapat paripurna. Dia menanyakan nasibnya sebagai GTT yang tidak mendapat SP, serta menyerahkan berkas. “Dengan adanya SP yang ditandatangani bupati, kami merasa bersyukur. Namun, yang belum dapat SP ini juga banyak sekali,” katanya.

Ilham, koordinator GTT menjelaskan, total GTT di Jember ini sekitar 5 ribu. Sementara yang mendapatkan SP sekitar 4 ribu, sedangkan sisanya tidak mendapatkan. Tidak hanya soal SP yang ditanyakan Ilham, tetapi juga pemberian SP yang tidak merata sesuai kebutuhan sekolah. Artinya, ada yang overload.

Dia mencontohkan, di SMPN 1 Balung mendapatkan 41 SP, begitu pula di  SMPN 2 Balung 39 SP. Sementara, di SMPN 1 Umbulsari yang rombongan belajarnya (rombel) 25, hanya dapat antara 7-8 SP. Dari contoh tersebut, ada sekolah yang mendapat SP terlalu banyak, dan ada yang kurang.

Dampaknya yang mendapatkan SP overload, kata dia, gaji dari dana BOS itu lebih sedikit. Bahkan, ada yang mengalah tidak dapat. “Karena SP banyak, per minggu hanya mendapatkan 4 jam mengajar,” terangnya. Sehingga, kata dia, yang kelebihan tersebut mendapatkan gaji per bulan Rp 250 ribu.

Dia juga ingin bupati segara menerbitkan SP lagi. Apalagi, SP ini akan habis masa berlakunya pada 31 Desember. Ilham menyebut, masalah GTT terkait SP ini muncul bisa jadi karena pendataannya yang kurang maksimal. Sebab, berkas GTT ini sudah valid dan lengkap, termasuk berapa lama dia mengabdi sebagai guru.

Wabub Jember KH A. Muqit Arief dalam paripurna yang menanggapi pertanyaan dari fraksi PKB menjelaskan, penataan dan penugasan terhadap GTT ini dilakukan berdasarkan pada pemenuhan formasi lowong guru yang tersedia dengan disesuaikan dengan standar pelayanan minimal. Selain itu, memperhatikan linieritas kompetensi pendidikan yang dimiliki GTT bersangkutan, serta berapa lama masa pengabdian atau masa kerjanya. “Kompetensi pendidikan yang dimiliki GTT bervariasi, ada yang kompeten atau linier, ada yang tidak linier,” paparnya.

Masa pengabdiannya juga bervariasi, ada yang 2 tahun, hingga 20 tahun ke atas. Sehingga, dalam penataan, prioritasnya adalah GTT yang kompetisi pendidikannya linier dengan formasi lowong yang tersedia. Jika keterbatasan formasi serta kompetensi, maka masa pengabdiannya berdasarkan jauh dekatnya tempat kerja.

Dia menegaskan, pembayaran honor GTT sejak diterbitkan SP sampai sekarang sudah diatur. “Untuk sekolah yang dana BOS-nya tidak mencukupi, ditambah dari Penyelenggaraan Pendidikan Gratis (PPG),” pungkasnya.

Reporter & . Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :