alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Ruang Kelas Ambruk, Membahayakan!

Dispendik Langsung Kirim Tim Terjun ke Lokasi

Mobile_AP_Rectangle 1

MAYANG, Radar Jember – Setengah jam setelah siswa masuk ruang kelas, tiba-tiba terdengar suara keras mirip gempa. Ternyata suara keras tersebut dari ruang kelas VIII C yang berada di ujung selatan deretan ruang kelas sisi timur. Seketika ambruk. “Bruakkk.” Suaranya keras sempat dikira gempa, namun ternyata ruang kelas yang rusak.

BACA JUGA : Tuntutan Hadfana Ditunda, Kejaksaan Belum Selesaikan Rentut

“Setelah saya liat dari lantai dua, ternyata bagian atap sudah ambruk. Beberapa guru yang sudah berada di ruang kelas akhirnya menuju ruang kelas yang ambruk,” ujarnya. Beruntung, saat insiden terjadi kelas itu tidak dipakai dan biasanya di sekitar teras depan kelas siswa bermain dan istirahat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ruang kelas yang ambruk itu memang sudah lama dikosongkan karena kondisinya sudah parah. “Sejak pandemi Covid-19 ruang kelas itu sudah tidak ditempati. Karena bagian atapnya sudah mulai melengkung,” ujar Edy Kuntoro, Kepala SMPN 2 Mayang, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selama ruang kelas itu dikosongkan, siswa menempati ruang perpustakaan sekolah. Proposal pengajuan renovasi sudah dilakukan berkali-kali. Apalagi sejak pandemi, ruang kelas itu sudah mulai dikosongkan. “Bangku serta kursi sudah dipindah lebih awal,” ujarnya.

“Beruntung, saat ambruk itu siswa sudah mulai masuk ke ruang kelas masing-masing. Karena di sekitar ruang kelas yang ambruk itu ada ruang kelas yang ditempati. Hanya saja, ruang kelas IX F yang berada di sisi utara ruang yang ambruk juga dikosongi. Hanya masih ada bangku dan kursinya saja,” terangnya.

“Ruang kelas yang ambruk ini masih menggunakan rangka dari kayu dengan genting karangpilang. Mungkin karena sudah lapuk dan tidak kuat menahan beban, akhirnya ambruk juga,” ujar mantan kepala SMPN 3 Silo itu. Sedangkan, ruang IX F yang temboknya menyatu dengan ruang kelas VIII C sudah menggunakan rangka galvalum.

Jika diamati, rangka kayu sudah lapuk sehingga tidak kuat menahan beban atap yang terpasang dari genting karangpilang. Apalagi beberapa minggu terakhir ini Mayang diguyur hujan cukup deras. Pihaknya sudah melaporkan ambruknya ruang kelas itu ke Dinas Pendidikan. “Mudah-mudahan setelah ambruk, Dinas Pendidikan memprioritaskan untuk melakukan perbaikan,” harapnya.

- Advertisement -

MAYANG, Radar Jember – Setengah jam setelah siswa masuk ruang kelas, tiba-tiba terdengar suara keras mirip gempa. Ternyata suara keras tersebut dari ruang kelas VIII C yang berada di ujung selatan deretan ruang kelas sisi timur. Seketika ambruk. “Bruakkk.” Suaranya keras sempat dikira gempa, namun ternyata ruang kelas yang rusak.

BACA JUGA : Tuntutan Hadfana Ditunda, Kejaksaan Belum Selesaikan Rentut

“Setelah saya liat dari lantai dua, ternyata bagian atap sudah ambruk. Beberapa guru yang sudah berada di ruang kelas akhirnya menuju ruang kelas yang ambruk,” ujarnya. Beruntung, saat insiden terjadi kelas itu tidak dipakai dan biasanya di sekitar teras depan kelas siswa bermain dan istirahat.

Ruang kelas yang ambruk itu memang sudah lama dikosongkan karena kondisinya sudah parah. “Sejak pandemi Covid-19 ruang kelas itu sudah tidak ditempati. Karena bagian atapnya sudah mulai melengkung,” ujar Edy Kuntoro, Kepala SMPN 2 Mayang, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selama ruang kelas itu dikosongkan, siswa menempati ruang perpustakaan sekolah. Proposal pengajuan renovasi sudah dilakukan berkali-kali. Apalagi sejak pandemi, ruang kelas itu sudah mulai dikosongkan. “Bangku serta kursi sudah dipindah lebih awal,” ujarnya.

“Beruntung, saat ambruk itu siswa sudah mulai masuk ke ruang kelas masing-masing. Karena di sekitar ruang kelas yang ambruk itu ada ruang kelas yang ditempati. Hanya saja, ruang kelas IX F yang berada di sisi utara ruang yang ambruk juga dikosongi. Hanya masih ada bangku dan kursinya saja,” terangnya.

“Ruang kelas yang ambruk ini masih menggunakan rangka dari kayu dengan genting karangpilang. Mungkin karena sudah lapuk dan tidak kuat menahan beban, akhirnya ambruk juga,” ujar mantan kepala SMPN 3 Silo itu. Sedangkan, ruang IX F yang temboknya menyatu dengan ruang kelas VIII C sudah menggunakan rangka galvalum.

Jika diamati, rangka kayu sudah lapuk sehingga tidak kuat menahan beban atap yang terpasang dari genting karangpilang. Apalagi beberapa minggu terakhir ini Mayang diguyur hujan cukup deras. Pihaknya sudah melaporkan ambruknya ruang kelas itu ke Dinas Pendidikan. “Mudah-mudahan setelah ambruk, Dinas Pendidikan memprioritaskan untuk melakukan perbaikan,” harapnya.

MAYANG, Radar Jember – Setengah jam setelah siswa masuk ruang kelas, tiba-tiba terdengar suara keras mirip gempa. Ternyata suara keras tersebut dari ruang kelas VIII C yang berada di ujung selatan deretan ruang kelas sisi timur. Seketika ambruk. “Bruakkk.” Suaranya keras sempat dikira gempa, namun ternyata ruang kelas yang rusak.

BACA JUGA : Tuntutan Hadfana Ditunda, Kejaksaan Belum Selesaikan Rentut

“Setelah saya liat dari lantai dua, ternyata bagian atap sudah ambruk. Beberapa guru yang sudah berada di ruang kelas akhirnya menuju ruang kelas yang ambruk,” ujarnya. Beruntung, saat insiden terjadi kelas itu tidak dipakai dan biasanya di sekitar teras depan kelas siswa bermain dan istirahat.

Ruang kelas yang ambruk itu memang sudah lama dikosongkan karena kondisinya sudah parah. “Sejak pandemi Covid-19 ruang kelas itu sudah tidak ditempati. Karena bagian atapnya sudah mulai melengkung,” ujar Edy Kuntoro, Kepala SMPN 2 Mayang, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Selama ruang kelas itu dikosongkan, siswa menempati ruang perpustakaan sekolah. Proposal pengajuan renovasi sudah dilakukan berkali-kali. Apalagi sejak pandemi, ruang kelas itu sudah mulai dikosongkan. “Bangku serta kursi sudah dipindah lebih awal,” ujarnya.

“Beruntung, saat ambruk itu siswa sudah mulai masuk ke ruang kelas masing-masing. Karena di sekitar ruang kelas yang ambruk itu ada ruang kelas yang ditempati. Hanya saja, ruang kelas IX F yang berada di sisi utara ruang yang ambruk juga dikosongi. Hanya masih ada bangku dan kursinya saja,” terangnya.

“Ruang kelas yang ambruk ini masih menggunakan rangka dari kayu dengan genting karangpilang. Mungkin karena sudah lapuk dan tidak kuat menahan beban, akhirnya ambruk juga,” ujar mantan kepala SMPN 3 Silo itu. Sedangkan, ruang IX F yang temboknya menyatu dengan ruang kelas VIII C sudah menggunakan rangka galvalum.

Jika diamati, rangka kayu sudah lapuk sehingga tidak kuat menahan beban atap yang terpasang dari genting karangpilang. Apalagi beberapa minggu terakhir ini Mayang diguyur hujan cukup deras. Pihaknya sudah melaporkan ambruknya ruang kelas itu ke Dinas Pendidikan. “Mudah-mudahan setelah ambruk, Dinas Pendidikan memprioritaskan untuk melakukan perbaikan,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/