alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pendidikan Gratis, Turut Mencegah Nikah Dini

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, Jember, berdiri sejak 2014 lalu. Selama kurang dari 10 tahun sampai sekarang, pesantren tersebut menjadi wadah menimba ilmu masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan misi berdirinya pesantren oleh Kiai Halim Soebahar, sang pengasuh. Hadirnya ponpes tersebut paling tidak bisa mengurangi angka putus sekolah di Jember.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Anak Diawali dari Smartphone

Di berbagai wilayah pedalaman Jember, tidak tertutup kemungkinan kesadaran pendidikan masyarakat masih rendah. Termasuk putus sekolah di usia yang masih remaja. “Dulu daerah sekitar sini masih banyak masyarakat yang menikahkan anaknya di usia muda, sehingga sekolahnya putus,” kata Nyai Hamdanah, istri Kiai Halim Soebahar, Pengasuh Pesantren (Ponpes) Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kondisi tersebut yang mendorong Kiai Halim Soebahar membangun pesantren sebagai wadah menimba ilmu bagi masyarakat setempat. Tahun 2014 pada awal berdirinya, Ponpes Shofa Marwa telah mendirikan SMP dan SMK. “Pada tahun itu juga kami mendirikan sekolah formal, SMP dan SMK. Alhamdulillah bisa sedikit membangun kesadaran pendidikan bagi warga setempat,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih jauh, pesantren Shofa Marwa tidak meminta iuran apa pun dari santri. Pihak pesantren menggratiskan semua fasilitas dan biaya pondok lainnya. Sebab, keberadaannya adalah membantu masyarakat agar juga merasakan pendidikan. “Semua program pendidikan di sini gratis. Tidak dipungut biaya. Harapan awal berdirinya pesantren ini memang untuk mewadahi masyarakat agar sama-sama tahu rasanya sekolah,” tambahnya.

“Saya mondok di sini sudah enam tahun. Sejak masih belum kuliah. Mungkin bisa dikatakan santri tertua ya, dan sampai sekarang program serta fasilitas di pesantren ini tetap gratis,” kata Fitriyatul Hasanah, salah satu santri yang juga pengurus Pesantren Shofa Marwa.  Menurutnya, Pesantren Shofa Marwa tidak hanya mendidik siswa, namun juga mahasiswa yang menimba ilmu di pesantren tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, Jember, berdiri sejak 2014 lalu. Selama kurang dari 10 tahun sampai sekarang, pesantren tersebut menjadi wadah menimba ilmu masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan misi berdirinya pesantren oleh Kiai Halim Soebahar, sang pengasuh. Hadirnya ponpes tersebut paling tidak bisa mengurangi angka putus sekolah di Jember.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Anak Diawali dari Smartphone

Di berbagai wilayah pedalaman Jember, tidak tertutup kemungkinan kesadaran pendidikan masyarakat masih rendah. Termasuk putus sekolah di usia yang masih remaja. “Dulu daerah sekitar sini masih banyak masyarakat yang menikahkan anaknya di usia muda, sehingga sekolahnya putus,” kata Nyai Hamdanah, istri Kiai Halim Soebahar, Pengasuh Pesantren (Ponpes) Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari.

Kondisi tersebut yang mendorong Kiai Halim Soebahar membangun pesantren sebagai wadah menimba ilmu bagi masyarakat setempat. Tahun 2014 pada awal berdirinya, Ponpes Shofa Marwa telah mendirikan SMP dan SMK. “Pada tahun itu juga kami mendirikan sekolah formal, SMP dan SMK. Alhamdulillah bisa sedikit membangun kesadaran pendidikan bagi warga setempat,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih jauh, pesantren Shofa Marwa tidak meminta iuran apa pun dari santri. Pihak pesantren menggratiskan semua fasilitas dan biaya pondok lainnya. Sebab, keberadaannya adalah membantu masyarakat agar juga merasakan pendidikan. “Semua program pendidikan di sini gratis. Tidak dipungut biaya. Harapan awal berdirinya pesantren ini memang untuk mewadahi masyarakat agar sama-sama tahu rasanya sekolah,” tambahnya.

“Saya mondok di sini sudah enam tahun. Sejak masih belum kuliah. Mungkin bisa dikatakan santri tertua ya, dan sampai sekarang program serta fasilitas di pesantren ini tetap gratis,” kata Fitriyatul Hasanah, salah satu santri yang juga pengurus Pesantren Shofa Marwa.  Menurutnya, Pesantren Shofa Marwa tidak hanya mendidik siswa, namun juga mahasiswa yang menimba ilmu di pesantren tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pondok Pesantren Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, Jember, berdiri sejak 2014 lalu. Selama kurang dari 10 tahun sampai sekarang, pesantren tersebut menjadi wadah menimba ilmu masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan misi berdirinya pesantren oleh Kiai Halim Soebahar, sang pengasuh. Hadirnya ponpes tersebut paling tidak bisa mengurangi angka putus sekolah di Jember.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Anak Diawali dari Smartphone

Di berbagai wilayah pedalaman Jember, tidak tertutup kemungkinan kesadaran pendidikan masyarakat masih rendah. Termasuk putus sekolah di usia yang masih remaja. “Dulu daerah sekitar sini masih banyak masyarakat yang menikahkan anaknya di usia muda, sehingga sekolahnya putus,” kata Nyai Hamdanah, istri Kiai Halim Soebahar, Pengasuh Pesantren (Ponpes) Shofa Marwa, Desa Patemon, Kecamatan Pakusari.

Kondisi tersebut yang mendorong Kiai Halim Soebahar membangun pesantren sebagai wadah menimba ilmu bagi masyarakat setempat. Tahun 2014 pada awal berdirinya, Ponpes Shofa Marwa telah mendirikan SMP dan SMK. “Pada tahun itu juga kami mendirikan sekolah formal, SMP dan SMK. Alhamdulillah bisa sedikit membangun kesadaran pendidikan bagi warga setempat,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih jauh, pesantren Shofa Marwa tidak meminta iuran apa pun dari santri. Pihak pesantren menggratiskan semua fasilitas dan biaya pondok lainnya. Sebab, keberadaannya adalah membantu masyarakat agar juga merasakan pendidikan. “Semua program pendidikan di sini gratis. Tidak dipungut biaya. Harapan awal berdirinya pesantren ini memang untuk mewadahi masyarakat agar sama-sama tahu rasanya sekolah,” tambahnya.

“Saya mondok di sini sudah enam tahun. Sejak masih belum kuliah. Mungkin bisa dikatakan santri tertua ya, dan sampai sekarang program serta fasilitas di pesantren ini tetap gratis,” kata Fitriyatul Hasanah, salah satu santri yang juga pengurus Pesantren Shofa Marwa.  Menurutnya, Pesantren Shofa Marwa tidak hanya mendidik siswa, namun juga mahasiswa yang menimba ilmu di pesantren tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/