alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Simulasi SMA Tunggu Instruksi Bupati

Sekolah di Pesantren Sudah Belajar Tatap Muka

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Meski tingkat SD dan SMP sudah menggelar simulasi pembelajaran tatap muka, tapi hingga saat ini untuk jenjang SMA belum ada kepastian. Sejauh ini, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Jember masih menunggu instruksi dari Bupati Jember terpilih.

Kepala Cabdindik Wilayah Jember Mahrus Syamsul menjelaskan, pengunduran pelantikan bupati terpilih berdampak pada putusan dimulainya simulasi tatap muka jenjang SMA. “Kami menunggu saja bagaimana instruksi bupati terpilih selanjutnya. Pastinya dengan izin dari Satgas Covid-19,” katanya, baru-baru ini.

Mahrus mengungkapkan, Jember menjadi salah satu wilayah yang jenjang SMA-nya belum menggelar simulasi tatap muka sama sekali. Sebelumnya, rencana simulasi pernah disampaikan pada Desember lalu. Namun gagal dilakukan lantaran jumlah penderita Covid-19 naik tajam. Akhirnya, simulasi hanya dilakukan di Kabupaten Lumajang. “Jember memang belum melakukan simulasi. Yang sudah itu di Lumajang dan Bondowoso,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun wacana dibukanya sekolah per awal Maret, menurut Mahrus, hal ini belum tentu dapat terlaksana. Sebab, perlu adanya pemenuhan persyaratan sebelum melakukan proses belajar langsung. Salah satunya izin dari Satgas Covid-19. “Itu kan rencana. Pastinya belum tahu bagaimana. Saya rasa, jika mau simulasi harus dapat izin dari Satgas Covid-19. Ada prosesnya,” papar dia.

Rupanya, kondisi berbeda terjadi di lembaga SMA yang ada di pesantren. Umumnya, sekolah di bawah naungan pesantren telah melakukan pembelajaran tatap muka atau secara luring. Salah satunya adalah SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) di Kecamatan Pakusari. Di lembaga ini, proses pembelajaran yang berjalan dilakukan dengan pembatasan ketat. Di antaranya, pembatasan jam belajar di sekolah, dan jumlah murid dalam satu ruangan.

Kepala SMK IBU Mohammad Mufti Ali menjelaskan, sejatinya sekolahnya telah menerapkan teknis semidaring. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di sekolah akan dilakukan oleh siswa secara bergantian. Yakni setengah dari siswa dalam satu kelas atau jurusan menjalani pembelajaran secara daring, lalu separuhnya lagi secara luring. “Jadi, Senin sampai Sabtu sebagian melakukan pembelajaran secara daring. Minggu selanjutnya, gantian yang daring jadi luring. Karena kan ada teori dan praktik,” bebernya.

Sementara, jam sekolah yang berlangsung hanya beberapa jam saja. Pukul 10.00 siswa wajib menyelesaikan proses belajar mengajar. Sehingga dengan adanya proses pembelajaran, Mufti Ali yakin bahwa murid-muridnya mampu beradaptasi dengan sistem asesmen kompetensi minimum (AKM).

Dia juga mengungkapkan, seyogianya lembaganya tidak dapat melakukan pembelajaran sepenuhnya secara daring. Sebab, siswanya berkewajiban untuk melakukan praktik. Tidak hanya pembelajaran teori. “Pembelajaran di laboratorium kami buka. Namun, ya dibatasi satu jam saja,” pungkasnya.

 

Kesiapan Prokes di Sekolah

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Meski tingkat SD dan SMP sudah menggelar simulasi pembelajaran tatap muka, tapi hingga saat ini untuk jenjang SMA belum ada kepastian. Sejauh ini, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Jember masih menunggu instruksi dari Bupati Jember terpilih.

Kepala Cabdindik Wilayah Jember Mahrus Syamsul menjelaskan, pengunduran pelantikan bupati terpilih berdampak pada putusan dimulainya simulasi tatap muka jenjang SMA. “Kami menunggu saja bagaimana instruksi bupati terpilih selanjutnya. Pastinya dengan izin dari Satgas Covid-19,” katanya, baru-baru ini.

Mahrus mengungkapkan, Jember menjadi salah satu wilayah yang jenjang SMA-nya belum menggelar simulasi tatap muka sama sekali. Sebelumnya, rencana simulasi pernah disampaikan pada Desember lalu. Namun gagal dilakukan lantaran jumlah penderita Covid-19 naik tajam. Akhirnya, simulasi hanya dilakukan di Kabupaten Lumajang. “Jember memang belum melakukan simulasi. Yang sudah itu di Lumajang dan Bondowoso,” ujarnya.

Adapun wacana dibukanya sekolah per awal Maret, menurut Mahrus, hal ini belum tentu dapat terlaksana. Sebab, perlu adanya pemenuhan persyaratan sebelum melakukan proses belajar langsung. Salah satunya izin dari Satgas Covid-19. “Itu kan rencana. Pastinya belum tahu bagaimana. Saya rasa, jika mau simulasi harus dapat izin dari Satgas Covid-19. Ada prosesnya,” papar dia.

Rupanya, kondisi berbeda terjadi di lembaga SMA yang ada di pesantren. Umumnya, sekolah di bawah naungan pesantren telah melakukan pembelajaran tatap muka atau secara luring. Salah satunya adalah SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) di Kecamatan Pakusari. Di lembaga ini, proses pembelajaran yang berjalan dilakukan dengan pembatasan ketat. Di antaranya, pembatasan jam belajar di sekolah, dan jumlah murid dalam satu ruangan.

Kepala SMK IBU Mohammad Mufti Ali menjelaskan, sejatinya sekolahnya telah menerapkan teknis semidaring. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di sekolah akan dilakukan oleh siswa secara bergantian. Yakni setengah dari siswa dalam satu kelas atau jurusan menjalani pembelajaran secara daring, lalu separuhnya lagi secara luring. “Jadi, Senin sampai Sabtu sebagian melakukan pembelajaran secara daring. Minggu selanjutnya, gantian yang daring jadi luring. Karena kan ada teori dan praktik,” bebernya.

Sementara, jam sekolah yang berlangsung hanya beberapa jam saja. Pukul 10.00 siswa wajib menyelesaikan proses belajar mengajar. Sehingga dengan adanya proses pembelajaran, Mufti Ali yakin bahwa murid-muridnya mampu beradaptasi dengan sistem asesmen kompetensi minimum (AKM).

Dia juga mengungkapkan, seyogianya lembaganya tidak dapat melakukan pembelajaran sepenuhnya secara daring. Sebab, siswanya berkewajiban untuk melakukan praktik. Tidak hanya pembelajaran teori. “Pembelajaran di laboratorium kami buka. Namun, ya dibatasi satu jam saja,” pungkasnya.

 

Kesiapan Prokes di Sekolah

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Meski tingkat SD dan SMP sudah menggelar simulasi pembelajaran tatap muka, tapi hingga saat ini untuk jenjang SMA belum ada kepastian. Sejauh ini, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Jember masih menunggu instruksi dari Bupati Jember terpilih.

Kepala Cabdindik Wilayah Jember Mahrus Syamsul menjelaskan, pengunduran pelantikan bupati terpilih berdampak pada putusan dimulainya simulasi tatap muka jenjang SMA. “Kami menunggu saja bagaimana instruksi bupati terpilih selanjutnya. Pastinya dengan izin dari Satgas Covid-19,” katanya, baru-baru ini.

Mahrus mengungkapkan, Jember menjadi salah satu wilayah yang jenjang SMA-nya belum menggelar simulasi tatap muka sama sekali. Sebelumnya, rencana simulasi pernah disampaikan pada Desember lalu. Namun gagal dilakukan lantaran jumlah penderita Covid-19 naik tajam. Akhirnya, simulasi hanya dilakukan di Kabupaten Lumajang. “Jember memang belum melakukan simulasi. Yang sudah itu di Lumajang dan Bondowoso,” ujarnya.

Adapun wacana dibukanya sekolah per awal Maret, menurut Mahrus, hal ini belum tentu dapat terlaksana. Sebab, perlu adanya pemenuhan persyaratan sebelum melakukan proses belajar langsung. Salah satunya izin dari Satgas Covid-19. “Itu kan rencana. Pastinya belum tahu bagaimana. Saya rasa, jika mau simulasi harus dapat izin dari Satgas Covid-19. Ada prosesnya,” papar dia.

Rupanya, kondisi berbeda terjadi di lembaga SMA yang ada di pesantren. Umumnya, sekolah di bawah naungan pesantren telah melakukan pembelajaran tatap muka atau secara luring. Salah satunya adalah SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) di Kecamatan Pakusari. Di lembaga ini, proses pembelajaran yang berjalan dilakukan dengan pembatasan ketat. Di antaranya, pembatasan jam belajar di sekolah, dan jumlah murid dalam satu ruangan.

Kepala SMK IBU Mohammad Mufti Ali menjelaskan, sejatinya sekolahnya telah menerapkan teknis semidaring. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di sekolah akan dilakukan oleh siswa secara bergantian. Yakni setengah dari siswa dalam satu kelas atau jurusan menjalani pembelajaran secara daring, lalu separuhnya lagi secara luring. “Jadi, Senin sampai Sabtu sebagian melakukan pembelajaran secara daring. Minggu selanjutnya, gantian yang daring jadi luring. Karena kan ada teori dan praktik,” bebernya.

Sementara, jam sekolah yang berlangsung hanya beberapa jam saja. Pukul 10.00 siswa wajib menyelesaikan proses belajar mengajar. Sehingga dengan adanya proses pembelajaran, Mufti Ali yakin bahwa murid-muridnya mampu beradaptasi dengan sistem asesmen kompetensi minimum (AKM).

Dia juga mengungkapkan, seyogianya lembaganya tidak dapat melakukan pembelajaran sepenuhnya secara daring. Sebab, siswanya berkewajiban untuk melakukan praktik. Tidak hanya pembelajaran teori. “Pembelajaran di laboratorium kami buka. Namun, ya dibatasi satu jam saja,” pungkasnya.

 

Kesiapan Prokes di Sekolah

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/