alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Cerita Anisti Ismi Swardani Tekuni Qiraah Sab’ah

Semangat Anisti Ismi Swardani mempelajari qiraah Sab’ah patut diteladani. Dia bertekad menekuni satu jenis qiraah dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi ini. Sebab, di Jember sangat jarang qari dan qariah yang mampu menguasainya dengan fasih.

Mobile_AP_Rectangle 1

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – QIRAAH Sab’ah adalah satu jenis qiraah dengan pengucapan tiap kata berdasarkan mazhab qiraah pada zaman Rasulullah. Antara lain Imam Nafi’ Al-Madani, Imam Ibnu Amir As Syami, Imam Ashim Al Kufi, Imam Hamzah Al-Kufi, Imam Abu Amr bin ‘Ala, dan Imam Ibnu Katsir. Perbedaan qiraah ini berkisar pada dialek, penyahduan bacaan, pelembutan, pengejaan, panjang pendek nada, serta penebalan dan penipisan nada.

Jenis qiraah ini masih jarang yang menekuni, utamanya di Jember. Padahal qiraah Sab’ah menjadi salah satu jenis qiraah yang sering disertakan dalam kompetisi.

Anisti Ismi Swardani, misalnya. Gadis berhijab ini menjadi salah satu qariah Jember yang berusaha untuk menekuni jenis qiraah Sab’ah. Misinya adalah untuk tidak memutus regenerasi. Sebab, keberadaan qari dan qariah yang memiliki kemampuan menekuni qiraah Sab’ah sangat minim. Selain itu, jenis qiraah ini tidak populer diajarkan di lembaga pendidikan melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya mafhum, sebab pembaca qiraah dituntut untuk melafazkan bacaan dengan mazhab qiraah di zaman Rasulullah. Sementara, Alquran yang digunakan di Indonesia menggunakan versi yang lebih baru. “Membaca Alquran yang dipakai di Indonesia dengan mazhab bacaan Alquran qiraah Sab’ah, otomatis panjang pendek, tanda baca, juga ada yang tidak sama. Seperti kita menghafal,” kata Anisti.

Anisti menuturkan, di Jember ada sejumlah qari yang cukup tersohor dalam qiraah Sab’ah. Salah satunya adalah Ustaz Suyono, yang lokasi rumahnya ada di Ajung. Dia memiliki santri yang cukup banyak. Tak hanya dari Jember, tetapi hingga luar Jember. Sayangnya, tidak banyak muda-mudi Jember yang memiliki antusias tinggi untuk belajar qiraah Sab’ah. Inilah yang kemudian menjadi kegelisahan Anisti. “Yang belajar dari mana-mana. Tapi, di Jember itu cuma dua,” imbuhnya.

Menurut dia, hal itu disebabkan lantaran minimnya guru yang mampu mengajar qiraah Sab’ah. Sehingga murid atau santri minim untuk mengenal jenis qiraah tersebut. “Jika kondisinya begini terus, maka lambat laun qari dan qariah yang dapat melantunkan bacaan Alquran dengan qiraah Sab’ah makin terkikis. Makanya saya ingin belajar dan memperdalam lagi. Biar di Jember ada regenerasinya dan bisa mengajarkan,” ungkap Anisti.

- Advertisement -

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – QIRAAH Sab’ah adalah satu jenis qiraah dengan pengucapan tiap kata berdasarkan mazhab qiraah pada zaman Rasulullah. Antara lain Imam Nafi’ Al-Madani, Imam Ibnu Amir As Syami, Imam Ashim Al Kufi, Imam Hamzah Al-Kufi, Imam Abu Amr bin ‘Ala, dan Imam Ibnu Katsir. Perbedaan qiraah ini berkisar pada dialek, penyahduan bacaan, pelembutan, pengejaan, panjang pendek nada, serta penebalan dan penipisan nada.

Jenis qiraah ini masih jarang yang menekuni, utamanya di Jember. Padahal qiraah Sab’ah menjadi salah satu jenis qiraah yang sering disertakan dalam kompetisi.

Anisti Ismi Swardani, misalnya. Gadis berhijab ini menjadi salah satu qariah Jember yang berusaha untuk menekuni jenis qiraah Sab’ah. Misinya adalah untuk tidak memutus regenerasi. Sebab, keberadaan qari dan qariah yang memiliki kemampuan menekuni qiraah Sab’ah sangat minim. Selain itu, jenis qiraah ini tidak populer diajarkan di lembaga pendidikan melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Dirinya mafhum, sebab pembaca qiraah dituntut untuk melafazkan bacaan dengan mazhab qiraah di zaman Rasulullah. Sementara, Alquran yang digunakan di Indonesia menggunakan versi yang lebih baru. “Membaca Alquran yang dipakai di Indonesia dengan mazhab bacaan Alquran qiraah Sab’ah, otomatis panjang pendek, tanda baca, juga ada yang tidak sama. Seperti kita menghafal,” kata Anisti.

Anisti menuturkan, di Jember ada sejumlah qari yang cukup tersohor dalam qiraah Sab’ah. Salah satunya adalah Ustaz Suyono, yang lokasi rumahnya ada di Ajung. Dia memiliki santri yang cukup banyak. Tak hanya dari Jember, tetapi hingga luar Jember. Sayangnya, tidak banyak muda-mudi Jember yang memiliki antusias tinggi untuk belajar qiraah Sab’ah. Inilah yang kemudian menjadi kegelisahan Anisti. “Yang belajar dari mana-mana. Tapi, di Jember itu cuma dua,” imbuhnya.

Menurut dia, hal itu disebabkan lantaran minimnya guru yang mampu mengajar qiraah Sab’ah. Sehingga murid atau santri minim untuk mengenal jenis qiraah tersebut. “Jika kondisinya begini terus, maka lambat laun qari dan qariah yang dapat melantunkan bacaan Alquran dengan qiraah Sab’ah makin terkikis. Makanya saya ingin belajar dan memperdalam lagi. Biar di Jember ada regenerasinya dan bisa mengajarkan,” ungkap Anisti.

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – QIRAAH Sab’ah adalah satu jenis qiraah dengan pengucapan tiap kata berdasarkan mazhab qiraah pada zaman Rasulullah. Antara lain Imam Nafi’ Al-Madani, Imam Ibnu Amir As Syami, Imam Ashim Al Kufi, Imam Hamzah Al-Kufi, Imam Abu Amr bin ‘Ala, dan Imam Ibnu Katsir. Perbedaan qiraah ini berkisar pada dialek, penyahduan bacaan, pelembutan, pengejaan, panjang pendek nada, serta penebalan dan penipisan nada.

Jenis qiraah ini masih jarang yang menekuni, utamanya di Jember. Padahal qiraah Sab’ah menjadi salah satu jenis qiraah yang sering disertakan dalam kompetisi.

Anisti Ismi Swardani, misalnya. Gadis berhijab ini menjadi salah satu qariah Jember yang berusaha untuk menekuni jenis qiraah Sab’ah. Misinya adalah untuk tidak memutus regenerasi. Sebab, keberadaan qari dan qariah yang memiliki kemampuan menekuni qiraah Sab’ah sangat minim. Selain itu, jenis qiraah ini tidak populer diajarkan di lembaga pendidikan melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Dirinya mafhum, sebab pembaca qiraah dituntut untuk melafazkan bacaan dengan mazhab qiraah di zaman Rasulullah. Sementara, Alquran yang digunakan di Indonesia menggunakan versi yang lebih baru. “Membaca Alquran yang dipakai di Indonesia dengan mazhab bacaan Alquran qiraah Sab’ah, otomatis panjang pendek, tanda baca, juga ada yang tidak sama. Seperti kita menghafal,” kata Anisti.

Anisti menuturkan, di Jember ada sejumlah qari yang cukup tersohor dalam qiraah Sab’ah. Salah satunya adalah Ustaz Suyono, yang lokasi rumahnya ada di Ajung. Dia memiliki santri yang cukup banyak. Tak hanya dari Jember, tetapi hingga luar Jember. Sayangnya, tidak banyak muda-mudi Jember yang memiliki antusias tinggi untuk belajar qiraah Sab’ah. Inilah yang kemudian menjadi kegelisahan Anisti. “Yang belajar dari mana-mana. Tapi, di Jember itu cuma dua,” imbuhnya.

Menurut dia, hal itu disebabkan lantaran minimnya guru yang mampu mengajar qiraah Sab’ah. Sehingga murid atau santri minim untuk mengenal jenis qiraah tersebut. “Jika kondisinya begini terus, maka lambat laun qari dan qariah yang dapat melantunkan bacaan Alquran dengan qiraah Sab’ah makin terkikis. Makanya saya ingin belajar dan memperdalam lagi. Biar di Jember ada regenerasinya dan bisa mengajarkan,” ungkap Anisti.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/