Tak Perlu Ditutupi, Gencarkan Gropyokan

RADARJEMBER.ID – KABUPATEN Jember disebut memiliki angka penyandang buta aksara yang cukup besar. Bupati Faida mengakui hal itu. Menurutnya, meski dari sisi jumlah terlihat banyak, namun secara persentase angka tunaaksara di Jember bukanlah yang terbesar di Jawa Timur. Itu karena, penduduk di Jember juga cukup banyak yang mencapai lebih dari 2,5 juta jiwa.

IKLAN

Kepada Radarjember.id, Faida menuturkan, selama ini pemerintahan daerah telah berupaya merangkul semua elemen untuk menuntaskan ketunaksaraan tersebut. Bahkan, sejak 2016 lalu pihaknya telah menggandeng mahasiswa, TNI, Polri, serta elemen masyarakat hingga tingkat RT dan RW. Mereka diajak terlibat dalam program pemberantasan buta aksara yang disebut gropyokan alias gotong-royong.

Faida menuturkan, meski dulu pernah dideklarasikan Jember terbebas buta aksara, namun faktanya hingga kini masih ada warga yang belum melek huruf. Bahkan, Faida menyebut, jumlahnya masih tinggi mencapai ratusan ribu. Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, angka buta aksara di kabupaten setempat berjumlah 204.860 jiwa. “Dan itu tidak perlu ditutupi. Dulu memang pernah Jember dideklarasikan bebas buta aksara. Tapi saya kira memang belum. Masih tersisa ratusan ribu,” ungkapnya.

Dalam beberapa kesempatan, Faida juga kerap menyatakan, bahwa pendidikan merupakan pilar utama dalam pembangunan daerah. Karena bagi Faida, membangun daerah sejatinya adalah membangun sumber daya manusia, sehingga seluruh masyarakat berhak mendapat akses yang sama di bidang pendidikan, termasuk yang tinggal di pedesaan dan wilayah terpencil.

Oleh karena itu, sambung dia, peran serta seluruh elemen masyarakat sangat penting, sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semua bisa ambil bagian, baik sebagai fasilitator, motivator maupun menjadi tutor atau tenaga pengajar. “Kami berharap penuntasan buta aksara di Jember ini dapat tercapai dalam waktu singkat, agar bermanfaat dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Sejauh ini, Faida menambahkan, pemerintah daerah juga sudah konsisten melaksanakan gropyokan untuk memberantas tuna aksara tersebut. Bahkan, pola dan metodenya juga berkembang. Jika dulu program pemberantasan buta aksara ini ada pembatasan jumlah minimal peserta 10 orang per kelompok, kini satu orang saja sudah bisa dilayani.  “Kalau dulu mahasiswa bisa menjadi pengusul, sekarang dia bisa jadi eksekutor, juga bisa jadi tim pengajar,” jelasnya.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :