Kurang Memanfaatkan Potensi dari Kampus

WAWAN DWI/RADAR JEMBER BIKIN MIRIS: Anak-anak di Desa Sidomulyo ini meski sudah kelas 5 SD salah satu di antara mereka ternyata masih belum bisa membaca. Buta aksara di Jember memang menjadi persoalan serius. Bukan untuk didebat, tapi butuh solusi cepat dan nyata.

RADARJEMBER.ID – Sebagai kabupaten yang disesaki oleh banyak perguruan tinggi, semestinya Pemkab Jember bisa dengan mudah menggerakkan potensi yang ada untuk segera menuntaskan buta aksara di Jember. Namun nyatanya, potensi itu seolah kurang dioptimalkan.

IKLAN

“Dulu sudah pernah kami tawarkan, sekitar 3 tahun yang lalu, saat beliau (Bupati Faida) baru menjabat. Karena kami berharap ada sinergi yang baik antara pemerintah dengan perguruan tinggi untuk masyarakat,” tutur Achmad Subagio, ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember saat diwawancarai Radarjember.id.

Sebagai perguruan tinggi yang tunduk pada kewajiban Tri Dharma Pendidikan, Unej sangat menyadari tanggung jawabnya untuk membantu pemerintah dalam penanganan buta aksara. Namun niat Unej ini terkendala dari ketiadaan gayung bersambut dari Pemkab Jember untuk bekerja sama dalam penanganan penuntasan buta aksara.

“Kami menunggu dari pemkab, maunya seperti apa. Kami sendiri sebenarnya juga sudah ada program Unej Mengajar, tapi tidak terlalu intens. Sekarang juga konsennya ke (pencegahan dan penanganan, Red) masalah stunting,” tutur guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Unej ini.

Pentingnya kerja sama dari pemkab ini, menurut pria yang akrab disapa Bagio ini karena Pemkab Jember yang memiliki data secara rinci perihal siapa dan di mana saja letak masyarakat dengan kondisi buta aksara yang harus dituntaskan secara bersama-sama. “Yang ada hanya kegiatan dari UKM di Unej untuk membantu pengentasan buta aksara di daerah pinggiran. Tapi itu sifatnya tidak masif dan tidak terstruktur,” jelas Bagio.

Padahal sebagai salah satu kampus terbesar di Jawa Timur, bahkan di Indonesia, Unej memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu pemerintah dalam melakukan penuntasan buta aksara. Potensi itu berupa pengerahan mahasiswa yang diwajibkan untuk menjalani program KKN (kuliah kerja nyata) sebagai bentuk pengabdian masyarakat sebelum mereka lulus dari kampus. “Potensinya sangat besar, ada 6 ribu mahasiswa kami setiap tahunnya, dibagi dalam 2 semester, yang bisa dikerahkan untuk turun ke desa-desa,” jelas doktor pangan lulusan Osaka Prefecture University, Jepang ini.

Untuk membantu program pemerintah dalam menuntaskan buta aksara, Unej sebenarnya sudah punya model atau silabi khusus. Materi pengenalan aksara akan digandengkan dengan keterampilan hidup sesuai dengan kondisi sasaran. Semisal untuk daerah pertanian, model pengajaran aksara dikaitkan dengan keterampilan pangan. “Dihubungkan dengan keterampilan seperti pakan ternak. Sehingga lebih menarik dan sekaligus meningkatkan life skill. Jadi tidak sekadar “Ini Budi, itu Bapak Budi” saja,” papar Bagio.

Karena kurang dimanfaatkan di Jember, kebanyakan mahasiswa KKN Unej justru lebih banyak diberdayakan oleh Pemkab Bondowoso. Jumlah mencapai hampir 60 persen dari total mahasiswa KKN Unej. Daerah lain yang juga ikut memanfaatkan adalah Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi. Adapun yang KKN di Jember hanya di kisaran 700-an mahasiswa. “Yang paling banyak menikmati adalah Kabupaten Bondowoso karena mereka secara resmi meminta kepada kami, dengan detail kebutuhannya. Seperti stunting dan pendampingan desa. Sekarang hampir setiap desa di sana punya SAID (Sistem Administrasi Informasi Desa) untuk pengembangan layanan bagi warga secara online,” pungkas Bagio.

Pernyataan serupa juga dilontarkan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Jika diminta, kampus yang berada di kawasan Mangli tersebut siap bersinergi membantu Pemkab Jember dalam penuntasan buta aksara.

“Memang seharusnya pemerintah yang menggandeng atau melibatkan perguruan tinggi. Bukan kami yang meminta ke pemerintah. Karena mereka sudah paham bahwa itu memang sudah tanggung jawab perguruan tinggi,” tutur Muhibbin, ketua LP2M IAIN Jember.

Hingga saat ini, IAIN Jember memang tidak pernah diminta atau dilibatkan oleh Pemkab Jember untuk membantu program penuntasan buta aksara. Meski demikian, IAIN Jember sudah berperan dalam upaya penuntasan buta aksara. “Kami terjunnya bukan lagi per desa, tapi per dusun. Sehingga benar-benar terpetakan apa yang dialami oleh warga,” tutur Muhibbin.

Namun, sebagai kampus agama, IAIN Jember memiliki konsep yang sedikit berbeda dalam penuntasan buta aksara. “Kami tidak hanya (penuntasan, Red) buta huruf latin, tapi juga buta huruf Alquran yakni terkait kemampuan baca tulis Alquran (BTA). Karena di masyarakat juga ada, mereka yang tidak bisa membaca huruf latin, tapi bisa membaca huruf arab,” jelas Muhibbin.

Seiring dengan pertumbuhan kampus yang akan berkembang menjadi UIN, IAIN Jember sejatinya juga memiliki potensi besar untuk menerjunkan mahasiswanya membantu program pemerintah. “Tahun ini, kami ada kurang lebih 1.600 mahasiswa yang diterjunkan KKN. Dibagi dalam 2 model, regular dan terintegrasi khususnya yang dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK),” kata Muhibbin.

Karena itu, Muhibbin membuka peluang pemanfaatan mahasiswa KKN dari IAIN Jember untuk bersinergi dengan Pemkab Jember dalam pengabdian kepada masyarakat. “Kami berharap seperti itu,” pungkas Muhibbin.

Reporter : Adi Faizin
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :