alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Beban Kerja Ganda, Tunjangannya Tiada

Menjadi Plt kepala sekolah (kepsek) sekaligus guru kelas menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pendidik. Sebab, di satu sisi mereka harus menggawangi manajemen sekolah, dan di sisi lain tetap mengajar siswa. Inilah yang dialami Sudarti, Plt Kepala SD Negeri Kepatihan 02. Seperti apa penuturannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sudarti tampak fokus memperhatikan ponsel yang digenggamnya. Mulutnya komat-kamit dengan telunjuk kanan sibuk menggeser bagian layar ponsel. Beberapa kali matanya terlihat berair. Jika sudah begitu, dia segera membuka kacamata, lalu mengusap air mata dengan lengan bajunya. Begitu terus, hingga aktivitas memeriksa isi ponsel itu selesai. “Saya sedang mengoreksi tugas milik anak-anak,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Wanita yang masih disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar secara daring itu adalah kepsek di SD Negeri Kepatihan 02, juga merangkap sebagai guru kelas. “Saya mengajar kelas 2 SD dan begitu hingga sekarang,” ucap wanita yang bergelar sarjana pendidikan tersebut.

Dia mengaku, tugasnya bertambah sejak Maret tahun lalu. Ini setelah dirinya mendapatkan SK Plt kepsek. Sejak saat itu, tanggung jawab yang dia emban menjadi ganda. “Mandat langsung dari bupati terdahulu,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Seiring berjalannya waktu, kini dia telah merangkap menjadi Plt kepsek dan tenaga pengajar selama 1 tahun 3 bulan. Bahkan, selama rangkap jabatan itu, dirinya tak ada pengurangan jam mengajar. “Full mengajar dalam sehari,” ucapnya.

Kondisi seperti ini juga dialami oleh Plt kepsek lain di Jember. Mereka tak hanya menakhodai lembaga, tapi juga menjadi tenaga pengajar. Hal ini tentu berbeda dengan kepsek definitif yang tanggung jawabnya hanya menggawangi manajemen sekolah.

Menurut Sudarti, menjabat Plt sekaligus mengajar, beban kerjanya cukup berat. Sebab, selain punya tanggung jawab sebagai guru dalam membimbing, mendidik, serta mengajar siswa, dia juga punya tanggung jawab agar manajemen sekolah tetap berjalan dengan baik.

Artinya, sebagai pemimpin di sekolah, dia juga punya kewajiban mengawal guru yang lain agar bisa melaksanakan tugas sebagai pendidik yang profesional. Sebab, belum adanya kepsek definitif ditambah kurangnya tenaga pengajar, menjadi tantangan yang tidak mudah bagi dirinya untuk memajukan lembaga. “Saat ini, kami masih kekurangan tenaga pendidik sebanyak lima orang guru kelas,” terang Sudarti.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sudarti tampak fokus memperhatikan ponsel yang digenggamnya. Mulutnya komat-kamit dengan telunjuk kanan sibuk menggeser bagian layar ponsel. Beberapa kali matanya terlihat berair. Jika sudah begitu, dia segera membuka kacamata, lalu mengusap air mata dengan lengan bajunya. Begitu terus, hingga aktivitas memeriksa isi ponsel itu selesai. “Saya sedang mengoreksi tugas milik anak-anak,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Wanita yang masih disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar secara daring itu adalah kepsek di SD Negeri Kepatihan 02, juga merangkap sebagai guru kelas. “Saya mengajar kelas 2 SD dan begitu hingga sekarang,” ucap wanita yang bergelar sarjana pendidikan tersebut.

Dia mengaku, tugasnya bertambah sejak Maret tahun lalu. Ini setelah dirinya mendapatkan SK Plt kepsek. Sejak saat itu, tanggung jawab yang dia emban menjadi ganda. “Mandat langsung dari bupati terdahulu,” paparnya.

Seiring berjalannya waktu, kini dia telah merangkap menjadi Plt kepsek dan tenaga pengajar selama 1 tahun 3 bulan. Bahkan, selama rangkap jabatan itu, dirinya tak ada pengurangan jam mengajar. “Full mengajar dalam sehari,” ucapnya.

Kondisi seperti ini juga dialami oleh Plt kepsek lain di Jember. Mereka tak hanya menakhodai lembaga, tapi juga menjadi tenaga pengajar. Hal ini tentu berbeda dengan kepsek definitif yang tanggung jawabnya hanya menggawangi manajemen sekolah.

Menurut Sudarti, menjabat Plt sekaligus mengajar, beban kerjanya cukup berat. Sebab, selain punya tanggung jawab sebagai guru dalam membimbing, mendidik, serta mengajar siswa, dia juga punya tanggung jawab agar manajemen sekolah tetap berjalan dengan baik.

Artinya, sebagai pemimpin di sekolah, dia juga punya kewajiban mengawal guru yang lain agar bisa melaksanakan tugas sebagai pendidik yang profesional. Sebab, belum adanya kepsek definitif ditambah kurangnya tenaga pengajar, menjadi tantangan yang tidak mudah bagi dirinya untuk memajukan lembaga. “Saat ini, kami masih kekurangan tenaga pendidik sebanyak lima orang guru kelas,” terang Sudarti.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sudarti tampak fokus memperhatikan ponsel yang digenggamnya. Mulutnya komat-kamit dengan telunjuk kanan sibuk menggeser bagian layar ponsel. Beberapa kali matanya terlihat berair. Jika sudah begitu, dia segera membuka kacamata, lalu mengusap air mata dengan lengan bajunya. Begitu terus, hingga aktivitas memeriksa isi ponsel itu selesai. “Saya sedang mengoreksi tugas milik anak-anak,” tuturnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu.

Wanita yang masih disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar secara daring itu adalah kepsek di SD Negeri Kepatihan 02, juga merangkap sebagai guru kelas. “Saya mengajar kelas 2 SD dan begitu hingga sekarang,” ucap wanita yang bergelar sarjana pendidikan tersebut.

Dia mengaku, tugasnya bertambah sejak Maret tahun lalu. Ini setelah dirinya mendapatkan SK Plt kepsek. Sejak saat itu, tanggung jawab yang dia emban menjadi ganda. “Mandat langsung dari bupati terdahulu,” paparnya.

Seiring berjalannya waktu, kini dia telah merangkap menjadi Plt kepsek dan tenaga pengajar selama 1 tahun 3 bulan. Bahkan, selama rangkap jabatan itu, dirinya tak ada pengurangan jam mengajar. “Full mengajar dalam sehari,” ucapnya.

Kondisi seperti ini juga dialami oleh Plt kepsek lain di Jember. Mereka tak hanya menakhodai lembaga, tapi juga menjadi tenaga pengajar. Hal ini tentu berbeda dengan kepsek definitif yang tanggung jawabnya hanya menggawangi manajemen sekolah.

Menurut Sudarti, menjabat Plt sekaligus mengajar, beban kerjanya cukup berat. Sebab, selain punya tanggung jawab sebagai guru dalam membimbing, mendidik, serta mengajar siswa, dia juga punya tanggung jawab agar manajemen sekolah tetap berjalan dengan baik.

Artinya, sebagai pemimpin di sekolah, dia juga punya kewajiban mengawal guru yang lain agar bisa melaksanakan tugas sebagai pendidik yang profesional. Sebab, belum adanya kepsek definitif ditambah kurangnya tenaga pengajar, menjadi tantangan yang tidak mudah bagi dirinya untuk memajukan lembaga. “Saat ini, kami masih kekurangan tenaga pendidik sebanyak lima orang guru kelas,” terang Sudarti.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/